Jadi Sponsor Asian Games 2018, Produsen Aice Dianggap Mengeksploitasi Pekerja

  • Sebagian buruh masuk melalui jasa outsource untuk bisa bekerja di pabrik es krim ini.
  • Mereka harus merelakan ijazah ditahan perusahaan untuk bisa diterima bekerja.
Selasa, 5 Desember 2017 15:33 WIB
Editor: Agus Dwi Witono
© INDOSPORT/Asian Games 2018
Logo Asian Games 2018. Copyright: © INDOSPORT/Asian Games 2018
Logo Asian Games 2018.

Gelaran akbar Asian Games 2018 yang diadakan di Indonesia memang membutuhkan dana yang sangat besar. Pemerintah Indonesia butuh 30 triliun rupiah untuk menggelar ajang multievent terbesar di benua Asia ini.

Wajar jika kemudian kehadiran sponsor menjadi hal krusial untuk bisa membantu Pemerintah mengatasi kebutuhan dana tersebut. Sejumlah BUMN dan perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia sudah menyatakan kesediaannya untuk menjadi sponsor. Salah satunya adalah PT Alpen Food Industry (PT AFI) yang memproduksi es krim bermerek Aice.

Belum diketahui pasti berapa banyak dana yang diberikan PT AFI kepada INASGOC selalu panitia pelaksana Asian Games 2018. Hal yang pasti, PT AFI ternyata diduga melakukan pelanggaran ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Aice jadi sponsor Asian Games 2018 dengan membawa masalah. Copyright: internetAice jadi sponsor Asian Games 2018 dengan membawa masalah.

Perusahaan yang beroperasi di kawasan industri MM2100, Cibitung, Bekasi ini punya aturan sendiri soal kontrak kerja dengan para buruh. Seperti ditulis Tirto.id, ada buruh yang dikontrak lebih dari 3 kali dan mendapat perpanjangan kontrak ketiga tanpa jeda 30 hari.

Padahal, sebagai perusahaan investasi modal asing, PT AFI harusnya terikat dengan aturan untuk mengangkat buruh kontrak sebagai "karyawan tetap" setelah melewati masa kontraknya.

Bahkan, masih menurut Tirto.id, untuk rekrutmen di 2017 buruh harus mau menandatangani sebuah surat pernyataan. Dalam surat tersebut buruh harus bersedia dikontrak dua bulan dan tidak boleh keluar sampai waktu kerja selesai. Selain itu, mereka juga harus menyerahkan ijazah sebagai jaminan kepada PT AFI.

Pelanggaran soal ketenagakerjaan ini tak berhenti sampai disitu saja. Dalam data yang dirilis Kumparan, ada 281 operator produksi yang merupakan pekerja outsourcing. Mereka semua disalurkan oleh PT Mandiri Putra Bangsa (MPB).

Jelas-jelas dalam Kepmenakertrans No. KEP-101/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh, pekerja outsourcing tidak ditujukan untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Lima bidang yang diperbolehkan menggunakan pekerja outsourcing hanyalah keamanan, jasa kebersihan, transportasi, katering, dan pertambangan.

Buruh PT AFI tidak hanya tinggal diam. Awal November lalu saja 664 buruh PT AFI melakukan aksi mogok kerja. Ini merupakan upaya mereka untuk mendapatkan keadilan sebagai pekerja di perusahaan tersebut.

Sebelumnya, para buruh PT AFI pun sudah membentuk serikat bernama Serikat Gerakan Buruh Bumi Indonesia (SGBBI). Sejak ada serikat, kebijakan perusahaan mulai sedikit melunak. Jam kerja menjadi 42 jam dari sebelumnya 49 jam seminggu dengan mendapat satu hari libur. Perusahaan pun mulai memberikan uang makan Rp15 ribu dan transportasi Rp5 ribu per hari.

Aice jadi sponsor Asian Games 2018 dengan membawa masalah. Copyright: internetAice jadi sponsor Asian Games 2018 dengan membawa masalah.

Tapi, soal cuti tak ada perubahan. Terutama cuti hamil yang memang pasti akan berlangsung berminggu-minggu. "Bukan dikasih cuti, tapi malah disuruh resign,” kata Dimas, buruh di mixing PT AFI, kepada Tirto.

Kondisi perusahaan yang belum kunjung memberi keadilan, membuat buruh kembali melakukan aksi demo pada akhir November lalu. Ratusan buruh PT AFI menggeruduk kantor Kemenpora, Senin (21/11/17). Buruh yang tergabung dalam SGBBI itu meminta pemerintah untuk menolak kerjasama dengan produsen es krim Aice tersebut.

Aksi demo ini disesalkan perwakilan PT AFI, Sylvanna Zhong. Menurut dia, saat ini proses mediasi antara tuntutan buruh dengan PT AFI masih berlangsung di Dinas Tenaga Kerja Bekasi.

OCA Medical dan Anti Doping Asian Games 2017 bersama INASGOC. Copyright: INASGOCOCA Medical dan Anti Doping Asian Games 2017 bersama INASGOC.

"Kami paham mogok kerja merupakan hak dari serikat pekerja. Namun perusahaan kami yang beroperasi di Indonesia patuh terhadap peraturan pemerintah dan karyawan juga perlu memahami Pasal 127 UU Ketenagakerjaan, terkait mogok kerja baru dapat dilaksanakan apabila perundingan yang dilaksanakan gagal," ujar Sylvana melalui keterangan pers yang diterima KBR.

Kondisi ini menjadi sebuah ironi. Perusahaan yang pernah menyabet penghargaan Excellent Brand Award 2017 untuk kategori merek es krim terbaik ini ternyata memerah tenaga kerja demi meraup untung besar.