Palsukan Data Pribadi, Empat Pebulutangkis Diskorsing PBSI

  • PBSI baru saja menjatuhkan hukuman skorsing kepada Tabita Christian, Cahya Kristian Banjarnahor, Muh. Farhan S, dan Dhiva Ramadhan.
  • Data pribadi keempatnya dinilai PBSI tidak sesuai dengan kenyataan.
  • Pemalsuan data pribadi dianggap PBSI bisa merusak program pembinaan atlet.

Kamis, 9 Maret 2017 15:04 WIB
Editor: Ivan Reinhard Manurung
INTERNET
Logo PBSI. Copyright: INTERNET
Logo PBSI.

Jangan sekali-kali mencoba untuk melakukan tindakan kecurangan, apalagi pemalsuan data pribadi. Pasalnya, sanksi berat siap dilayangkan bagi orang-orang yang terlibat dalam kasus pemalsuan data.

Contohnya seperti yang dialami empat atlet bulutangkis Indonesia, yakni Tabita Christian (PB Hiqua Wima Surabaya), Cahya Kristian Banjarnahor (PB Jayaraya Abadi Probolinggo), Muh. Farhan S dan Dhiva Ramadhan (PB Djarum Kudus).

Keempat atlet tersebut baru saja mendapat sebuah sanksi larangan bertanding di semua kejuaraan resmi yang diadakan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), karena terbukti memiliki data umur yang tidak sama dengan akta yang mereka daftarkan.

Empat pebulutangkis Indonesia mendapat hukuman dari PBSI.

Tabita Christian dan Cahya Kristian Banjarnahor diskorsing selama 24 bulan karena terbukti memalsukan dokumen kelahiran dan memudakan usia selama satu tahun. Sedangkan M. Farhan di-skorsing selama 24 bulan karena terbukti menggunakan dokumen kelahiran ilegal dan tidak tercatat pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat akta kelahiran diterbitkan.

Sanksi skorsing paling berat sendiri dijatuhkan kepada Dhiva Ramadhan, yakni selama 36 bulan karena kesalahan yang dinilai cukup fatal.

"Terhadap Dhiva Ramadhan diberikan hukuman yang lebih berat berupa skorsing selama 36 bulan karena terbukti melakukan manipulasi dokumen kelahiran dan menggunakan register akta kelahiran atas nama/milik orang lain," ungkap Rachmat Setiyawan, Kepala Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi PP PBSI seperti dikutip dari rilis yang diterima INDOSPORT.

PBSI sendiri memang tengah gencar-gencarnya memberantas kasus pemalsuan data pribadi di kalangan pebulutangkis. Bukan tanpa sebab hal itu mereka lakukan, karena PBSI menganggap pemalsuan data pribadi terutama umur, bisa mengacaukan program pembinaan atlet.

“Jika usia atlet tidak teridentifikasi dengan benar, bisa-bisa program latihan yang diberikan juga tidak benar dan ini sangat tidak baik untuk pembinaan bulutangkis Indonesia saat ini dan ke depan, kami di sini akan berbuat adil dan melindungi atlet yang jujur akan usianya, demi kepentingan nasional,” tegas Rachmat.

PBSI tidak ingin ada lagi pebulutangkis yang memalsukan data pribadi.

Untuk itu, Rachmat meminta seluruh pihak termasuk para atlet dan orang tuanya agar mendaftarkan dan mengisi data keterangan pribadi dengan benar, bila tidak ingin mendapat sanksi yang berat.

“Kami berharap seluruh pihak dapat bekerja sama dengan baik dan mendukung langkah-langkah PBSI, jika tidak maka penerapan hukuman yang dijatuhkan akan sangat tegas baik terhadap atlet maupun para pihak yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan pencurian umur dengan memanipulasi data kelahiran," tutupnya.

Topik Terkait

Komentar