Investigasi INDOSPORT

Tong Sin Fu, Aset Bulutangkis yang Dibuang Indonesia

  • Tong Sin Fu merupakan aset bulutangkis Indonesia kelahiran Lampung yang ditolak permohonannya untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
  • Tong Sin Fu akhirnya merantau ke negeri China dan menjadi pelatih dari pemain terbaik dunia, Lin Dan.

Rabu, 3 Mei 2017 13:57 WIB
Editor: Ramadhan
INDOSPORT
Tong Sin Fu. Copyright: INDOSPORT
Tong Sin Fu.

Indonesia pernah kehilangan sosok besar di dunia bulutangkis setelah Tong Sin Fu dengan sangat terpaksa akhirnya harus pindah ke China sebagai pelatih. Permasalahan kewarganegaraan memaksa Tong harus angkat kaki dari Tanah Air dan akhirnya membesarkan dunia tepok bulu di Negeri Tirai Bambu.

Nama Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, atau Tong Sin Fu (nama Indonesia dan pemberian orang tuanya ) barangkali masih terdengar asing di telinga sebagian publik Tanah Air. Maklum, Tong Sin Fu merupakan sosok belakang layar yang pernah memoles bulutangkis Indonesia.

Tong Sin Fu pernah melatih Timnas bulutangkis Indonesia di Pelatnas Cipayung pada tahun 1986. Pada masa itu, Tong, panggilan akrabnya, berhasil memunculkan generasi emas bulutangkis Indonesia yang ditandai dengan raihan medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Atlanta 1996, Piala Thomas 1994-2002, dan Piala Uber (1994-1996).

Perlu diketahui, meski namanya sama sekali tak berbau Indonesia, Tong sendiri bukanlah sosok yang lahir di China. Ia justru lahir di Teluk Betung, Lampung pada 13 Maret 1942 silam dan tumbuh besar di Jakarta. Tong muda merupakan seorang pemain bulutangkis yang berbakat dan sudah merajut kariernya sebagai pebulutangkis sejak usia dini.

Karena bakatnya di dunia tepok bulu, Tong tumbuh menjadi salah satu pemain junior terbaik yang pernah dimiliki Indonesia di era 1950-an. Namun, memasuki tahun 1960, Tong bersama rekannya asal Surabaya, Hou Chia Chang, memutuskan untuk mengadu nasib ke China sekaligus melanjutkan sekolah sembari menjalankan kariernya di dunia bulutangkis.

Berkat bakatnya yang cukup hebat, ternyata Tong tak butuh waktu lama untuk beradaptasi hingga karier bulutangkisnya berkembang pesat. Terbukti, Tong langsung berhasil meraih status sebagai juara di level nasional (tak terkalahkan) di China, baik secara individu maupun tim dari 1965 sampai 1975.

Namun, karier Tong sebagai pebulutangkis sempat terganggu kala pemerintah China membuat kebijakan yang justru membatasi ruang gerak atlet mereka. Pemerintah China kala itu tak mengizinkan atlet-atletnya untuk mengikuti turnamen di panggung Eropa atau di negara-negara yang tak sealiran dengan mereka.

Kiprah Tong di dunia bulutangkis akhirnya mandek dan ia hanya populer di dalam negeri saja. Gaung nama Tong di panggung internasional bahkan tak setenar pemain asal Indonesia seperti Tan Joe Hok misalnya, atau Erland Kops asal Denmark.

Caption Copyright: INTERNETTong Sin Fu

Paling tinggi di luar level nasional, Tong pernah tampil di ajang Ganefo (Games of The New Emerging Force) edisi 1963 dan 1966, dengan meraih gelar juara tunggal putra. Tong juga pernah memenangkan dua medali perunggu di Asian Games 1974, masing-masing di nomor ganda bersama Chen Tien Hsiang dan ganda campuran bersama Chen Yuniang. 4 tahun kemudian, di Asian Games 1978, Tong juga meraih gelar di nomor ganda campuran bersama Ling Changai dan meraih medali perak di sektor ganda bersama Lin Shinchuan.

Meski hanya terkenal di Asia, kiprah Tong dan sahabatnya, Hou Chia Chang sebagai pebulutangkis hebat dari China akhirnya melejit dan diketahui oleh media Eropa, terutama setelah rezim komunis China mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya untuk tampil di pentas internasional pada 1976.

Momen itu dimanfaatkan Tong untuk membuktikan kemampuannya kepada dunia hingga ia pernah membantai salah satu pebulutangkis terbaik Eropa asal Denmark kala itu, Erland Kops dalam sebuah laga ekshibisi. Tak tanggung-tanggung, Tong membuat Kops terkapar pada pertandingan yang berlangsung 2 set dengan skor telak 15-0, 15-0. Oleh media Eropa, Tong akhirnya dijuluki 'The Thing'.

Sayangnya, baik Tong maupun Hou tak sempat dipertemukan dengan pahlawan tunggal putra Indonesia, Rudy Hartono, yang kala itu mendominasi bulutangkis dunia dan mengukir rekor dengan raihan total 8 gelar juara All England (7 gelar di antaranya diraih secara beruntun).

Dalam rekam jejaknya, Tong hanya pernah melawan lie Sumirat di sebuah event antar pemain Asia di Bangkok pada 1976. Namun, ia justru dikalahkan Iie Sumirat. Selang beberapa waktu setelah momen itu, Tong memutuskan pensiun dan menjadi pelatih di China pada akhir 1979.

Barulah pada 1986, Tong diminta kembali ke Indonesia. Pulang ke Tanah Air, Tong lebih dikenal dengan nama Fuad Nurhadi. Ia awalnya sempat melatih klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Tak lama berselang, Tong akhirnya masuk ke dalam jajaran pelatih di Pelatnas Cipayung dan melatih pemain-pemain top seperti Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, dan Hariyanto Arbi.

Selama masa kepelatihannya di Pelatnas Cipayung, Tong dikenal sebagai sosok pelatih yang sangat menghargai waktu. Tong selalu lebih dulu datang ke tempat latihan ketimbang anak asuhnya dan Tong juga menerapkan pola latihan yang berbeda-beda kepada setiap pemain tergantung kebutuhan.

Di level tertinggi, Tong pernah mengantarkan Alan meraih medali emas tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992, bersamaan dengan raihan medali emas Susy Susanti di sektor tunggal putri kala itu, yang kelak menjadi istrinya. Bintang terakhir Tanah Air yang mendapatkan sentuhan Tong adalah Hendrawan.

Tong juga sempat menjadi pelatih ganda putri. Tong dikenal sebagai sosok pelatih yang keras di mata para srikandi bulutangkis Tanah Air. Meski begitu, tangan dingin Tong sukses membawa Indonesia meraih gelar juara Piala Uber dua kali (1994-1996) saat masih diperkuat pemain bintang seperti Susy Susanti, Mia Udina, hingga Rosiana Tendean.

Semasa masih menjadi pelatih Indonesia, ternyata Tong juga berjuang untuk mendapatkan status Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk untuk istri dan anaknya. Sayangnya, perjuangan Tong tak berujung manis dan permohonan kewarganegaraannya ditolak pada 1998.

Sudah 19 tahun berlalu, kepergian Tong dari Indonesia akhirnya hanya menjadi cerita lama. Memang banyak cerita yang beredar menyebutkan bahwa Tong pergi dari Indonesia dan bergabung ke China, tanpa menjelaskan lebih jauh mengapa aset bulutangkis seperti Tong yang lahir di Bumi Pertiwi, malah ditolak untuk jadi WNI?

INDOSPORT mendapatkan fakta lain yang disampaikan Tan Joe Hok, legenda hidup bulutangkis Indonesia yang merupakan orang terdekat Tong Sin Fu. Ditemui di kediamannya di Tebet, Jakarta, Tan secara blakblakan mengungkap adanya permainan kotor dalam kasus penolakan kewarganegaraan Tong.

"Dia (Tong Sin Fu) kan anak buah saya. Dia mah di-klecein (dikerjain), dibodohin. Dia diperlakukan tidak adil. Kita nggak bisa ngomong sejarah kalau udah ada SARA,” kata Tan Joe Hok kepada INDOSPORT, dengan nada sedikit tinggi saat mulai menceritakan soal kasus Tong Sin Fu.

Legenda Bulutangkis Indonesia, Tan Joe Hok. Copyright: Ramadhan/INDOSPORTLegenda Bulutangkis Indonesia, Tan Joe Hok.

Ternyata Tong tak sekadar ditolak semata saat ingin menjadi WNI. Berdasarkan penuturan Tan Joe Hok, Tong sudah banyak menjalankan persyaratan yang tak masuk akal agar kewarganegaraannya diterima, salah satunya untuk pindah agama. Syarat ini tentu sangat kontradiktif dan dianggap sudah melewati batas.

Memang di era orde baru, warga keturunan Tionghoa menjadi sasaran korban diskriminasi dan rasis. Kala itu, KTP mereka ditandai, harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia), dan harus berganti nama yang memiliki unsur Indonesia.

"Harusnya kalau mau tinggal di sini, ya dikasih istilahnya permanent residency dulu lah. Sayangnya, dia malah ngeluarin duit yang sangat besar. Dan yang paling tak masuk akal, dia mesti masuk Islam dan akhirnya benar masuk Islam. Mesti disunat, ya disunat, sudah,” ungkap Tan Joe Hok.

Tan sebenarnya mengetahui siapa dalang di balik aksi 'pemerasan' yang dilakukan kepada Tong. Namun, pria yang kini berusia 79 tahun itu enggan mengungkap sosok yang jadi biang keladi tersebut, meski akhirnya Tan hanya menyamakan sosok tersebut dengan sebutan kata-kata kasar.

“Cuma saya nggak mau sebutin siapa dalangnya itu. Saya pakai kata-kata kotor (untuk memanggil orang tersebut),” tandas peraih gelar All England pertama untuk Indonesia di tahun 1959 itu.

“Sehari sebelum Tong meninggalkan Indonesia, saya masih mengundang dia makan di Gran Melia. Dia bilang 'Om saya permisi.' Saya bilang, sudahlah ini nasib dan kamu sudah terlanjur salah jalan. Tong bilang ke saya kalau dia sudah ngeluarin uang 30 juta lebih (untuk mengurus kewarganegaraan). Saya bilang, kamu berurusan dengan orang yang salah. Tapi kita mau ngomong apa, sudahlah," lanjut Tan.

Di tahun 1998 tersebut saat status kewarganegaraannya ditolak, Tong akhirnya memutuskan untuk kembali ke China, negara yang sudah sempat dia singgahi sebelumnya saat masih menjadi pemain bulutangkis. Kembali ke Negeri Tirai Bambu, Tong bukan lagi sebagai pemain, melainkan menjadi pelatih dan harus memulai kehidupan dari nol lagi.

Tong mulai melatih pemain-pemain seperti Xia Xuanze, Xi Jinpeng, dan memoles pemain top dan pemain terbaik dunia yang masih aktif bermain hingga saat ini, Lin Dan. Tong yang sudah berusia senja selalu setia mendampingi Lin Dan di pinggir lapangan di setiap pertandingan besar.

“Tong itu orangnya sangat baik. Dan dia juga pernah ngelatih Lin Dan,” ucap Tan Joe Hok seolah ingin menjelaskan bahwa sosok Tong sudah berhasil memoles pemain terbaik di dunia sekelas Lin Dan.

Lin Dan sendiri sangat menghormati sosok Tong Sin Fu. Peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 itu selalu mempersembahkan kemenangannya untuk Tong, yang selalu setia menemaninya di pinggir lapangan.

Lin Dan juga memandang Tong bukan sekedar seorang pelatih, melainkan sudah seperti kakeknya sendiri. Pemilik 5 gelar juara dunia itu mengaku beruntung pernah memiliki Tong, karena sosok pelatih sepuh tersebut tak cuma menuntunnya dari segi teknik, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Tan juga tak lupa mengenang masa-masa perjuangannya bersama Tong semasa masih di Jakarta tempo dulu. “Dulu kalau kita main (bulutangkis) di Mangga Besar. Di situ persis di sebelah kali beton itu, tempo hari ada satu perkumpulan bulutangkis namanya Tionghoa In Jacque, kita nepok-nepok di situ dulu,” kenangnya.

Keputusan Tong Sin Fu meninggalkan Indonesia tentu sangat berat. Namun, Tan Joe Hok menyebutkan bahwa hidup yang dijalani Tong sebagai seorang pelatih di China jauh lebih sejahtera, ketimbang jika harus tinggal dan hidup di Indonesia.

“Makanya sekarang hidupnya lebih senang di China sana. Dia dapat bayaran besar di sana, anak-anaknya juga sudah pada sekolah di sana, dapat perumahan, medical care, dapat segala-galanya. Ini bukan mata duitan ya,” tegas Tan.

Berkaca dari kasus Tong Sin Fu, Tan menyebutkan bahwa kasus SARA dan diskriminasi harusnya terus dilawan. Tan paling anti dengan isu rasis yang juga pernah menghantuinya dan sesama rekan-rekannya pahlawan bulutangkis di Indonesia pada masa lalu.

“Saya bilang, saya selalu tonjolkan bahwa saya itu orang Indonesia, bukan Chinanya yang saya tonjolkan, itu nomor satu. Saya mengabdi juga bukan kepada negara lain, tapi kepada Indonesia. Makanya dulu banyak putra-putra bangsa pada pergi semua, termasuk Hendrawan,” seloroh Tan Joe Hok.  

Tak cuma itu, kasus Tong, meski sudah menjadi sejarah, patutnya bisa menjadi pelajaran di masa yang akan datang. Selama ini, Indonesia cenderung gagap dalam urusan mempertahankan pelatih mumpuni untuk tetap memoles dan menjaga kejayaan atlet-atlet bulutangkis nasional di panggung dunia.

Ada anggapan bahwa peran pelatih tak terlalu krusial, ketimbang posisi pemain itu sendiri yang bersentuhan langsung dengan urusan prestasi.

Seperti yang diutarakan Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) periode 2016-2020, saat berbincang dengan INDOSPORT di Pelatnas PBSI Cipayung. Menurut Susy, keberadaan pelatih sebenarnya tak perlu dijadikan beban.

“Mungkin kalau soal pelatih, nggak terlalu masalah. Sebetulnya program kan kayak bikin kue, ada resep,” kata Susy Susanti saat berbincang santai kepada INDOSPORT di sisi lapangan Pelatnas PBSI Cipayung.

“Setiap pelatih tuh meskipun dia kasih program yang sama, tapi dia jeli nggak liat pemain, dia tahu nggak apa yang mesti dilatih, kayak bikin kue lah intinya. Resep sama, tapi kalau beda tangan, yang jelas hasilnya juga beda,” lanjut Susy yang pernah meraih medali emas di Olimpiade Barcelona 1992 itu.

Legenda Buluntangkis putri Indonesia, Susi Susanti. Copyright: Ramadhan/INDOSPORTLegenda Buluntangkis putri Indonesia, Susi Susanti.

Untuk situasi tertentu, mungkin pernyataan Susy ada benarnya. Toh, pemain yang ingin jadi juara, sudah pasti akan berlatih lebih keras dan kemauan itu tentu hanya ada di benak sang pemain sendiri, lalu pelatih hanya bertugas menyampaikan program dan strategi kepada pemain.

Pada titik inilah, pelatih terkesan hanya sebagai pelengkap saja dari para pemain yang memang sudah memiliki bakat hebat. Namun, apakah anggapan bahwa pelatih hanya sebagai pelengkap, masih akan berlaku di saat pelatih-pelatih tersebut hengkang dari Tanah Air, lalu merantau dan justru menyulap olahraga bulutangkis di negara lain semakin maju?

Jauh sebelumnya, Indonesia bahkan sudah membiarkan pelatih-pelatih top berlabuh ke negara lain. Kemajuan Indonesia di panggung bulutangkis, baik yang ditunjukkan pemain ataupun pelatih dalam 50 tahun terakhir, membuat banyak negara tertarik untuk berguru.

Sederet pebulutangkis bertalenta dari negara-negara Asia seperti China, Jepang, Thailand, India, Taiwan serta sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Swedia, dan benua Amerika seperti Amerika Serikat dan Kanada, sudah pernah merasakan sentuhan ajaib pelatih asal Indonesia.

Akibatnya, memang bukan rahasia umum lagi, sejumlah pelatih nasional, harus membela panji negara lain hingga hari ini. Sebut saja nama-nama seperti Ardy Wiranata, Atik Jauhari, Hendrawan, dan sebagainya, yang harus rela meninggalkan Tanah Air untuk meracik strategi bulutangkis negara lain.

Teranyar adalah Rexy Mainaky yang jadi pelatih Timnas Bulutangkis Thailand, usai melepaskan tugasnya sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia periode 2012-2016.

Bahkan belum genap setahun menjadi pelatih kepala, Rexy sudah berhasil mengantarkan Thailand lewat pasangan ganda campuran, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai meraih gelar juara di ajang Swiss Open Grand Prix Gold 2017, Maret kemarin. Menariknya, anak asuh Rexy tersebut justru mengalahkan pasangan andalan Indonesia, Praveen Jordan/Debby Susanto di partai final dengan skor 21-18, 21-15.

Sayangnya, kepergian pelatih asli Tanah Air ke luar negeri semacam sudah menjadi tradisi. Antara tak dibutuhkan lagi, atau memang benar keberadaan pelatih tak terlalu dipusingkan oleh Indonesia?