Bursa Transfer

Kisah Arsenal dan Pemain Fiktif di Bursa Transfer

  • Saat memasuki musim bursa transfer banyak beredar pemberitaan yang mengarah ke hoax. 
  • Arsenal jadi salah satu klub yang pernah merasakan bagaimana mereka dikaitkan dengan pemain yang tak pernah ada. 

Minggu, 16 Juli 2017 21:38 WIB
Editor: Galih Prasetyo
INDOSPORT
Skuat Arsenal 2016/17. Copyright: INDOSPORT
Skuat Arsenal 2016/17.

Pernahkah Anda mendengar nama Padraic O Conaire? Nama itu memang cukup asing namun tidak bagi publik Inggris. Dikutip dari theguardian.com, Padraic bukan sosok sembarangan, ia adalah penulis kenamaan di Inggris pada era 1882, bahkan di daerah Galway, Irlandia terdapat sebuah patung dirinya. 

Padraic ialah penulis produktif di Inggris, banyak karyanya yang begitu disukai masyarakat Inggris, salah satu karyanya yang cukup fenomenal berjudul "My Little Black Donkey". Padraic ialah penulis fiksi pertama dalam bahasa asli Irlandia. Ia begitu dihormati oleh banyak penulis di Inggris.

Baca Juga: 

Rekap Rumor Transfer Hari Ini: MU Jual Smalling, Sanchez Tinggalkan Arsenal?

Mesut Ozil Buka Suara Mengenai Klub Masa Depannya

Salah satu penulis Inggris yang begitu kagum dengan karya Padraic ialah Declan Varley. Bahkan My Little Black Donkey jadi inspirasi Declan untuk membuat satu artikel yang menjadi bombastis di seantero Eropa pada medio 2008 lalu. Apa yang ditulis oleh Declan? Sebagai editor di salah satu media di Irlandia, selama bursa transfer Liga Inggris beberapa musim lalu, ia sibuk memilah artikel yang dapat menarik minat pembaca. 

Declan menghapus sumber asli dan mengedepankan sumber anonim yang masih perlu diuji kebenarannya. Mengaku sebagai fans berat Arsenal, media yang digawangi oleh Declan banyak menurunkan headline soal pemberitaan heboh soal rencana pembelian pemain anyar Arsenal. Salah satu yang paling heboh ialah soal rencana Arsenal merekrut seorang pemain bernama Masal Bugduv. 

Masal Bugduv, pemain fiktif yang dikaitkan dengan Arsenal. Copyright: RedCafe.netMasal Bugduv, pemain fiktif yang dikaitkan dengan Arsenal.

Pada 2008, Declan kabarnya bahkan sampai terbang ke Moldova hanya untuk 'bertemu' Mudguv yang katanya memiliki skill sepakbola hebat, padahal faktanya bocah itu tak memiliki skill bermain sepakbola. "Tahu ada keledai yang tidak memiliki kegunaan namun tetap saja ada penawar yang berani membayar lebih tinggi. Ada korelasi soal itu di bursa transfer sepakbola," tulis Declan di laporan awalnya soal Mudguv. 

Memang apa yang salah dengan Mudguv? Dengan kemampuan jurnalistiknya, Declan menceritakan kisah Bugduv dengan gaya Associated Press, melucuti sumber, dibumbui retorika sederhana dan ditambah fakta lain kehidupan seseorang. Namun tahuhkah kita ternyata Masal Bugduv ialah tokoh fiktif yang dibuat oleh Declan. Artikel hoax Declan tersebar ke dunia maya dan Arsenal jadi klub yang 'dirugikan' karena dikaitkan dengan kabar soal pembelian tokoh fiktif ini. 

Bahkan media besar sekaliber The Times pun terkecoh soal Bugduv. Pada Januari 2009, mereka menurunkan ulasan soal Bugduv. Mereka menuliskan bahwa Budguv merupakan striker 16 tahun berbakat dari Moldova yang sangat mungkin bergabung ke Arsenal. "Dia (Bugduv) juga tengah didekati oleh klub besar Eropa lainnya," tulis The Times

Pemberitaan The Times tentang Masal Bugduv. Copyright: The TimesPemberitaan The Times tentang Masal Bugduv.

Pemberitaan soal Bugduv tentu rata-rata bersumber pada catatan dari Declan. 'Eksperimen sosial' yang dilakukan Declan terbukti berhasil. Declan berkelit bahwa apa yang ia lakukan soal sosok Bugduv tidak bermaksud jahat.

"Ini semua tidak bermaksud jahat, saya hanya ingin menekankan bahwa sepakbola merupakan lingkungan yang sempurna untuk menyebarkan dan menumbuhkan berita palsu/hoax," kata Declan.

Dalam sepakbola sama dengan politik, yang terpenting saat satu artikel yang ter-publish ialah apakah pembaca ingin tahun cerita ini benar atau tidak, namun orang akan percaya dengan apa dan siapa serta hal yang ingin mereka percaya, terlepas itu fakta atau fiksi. 

Sepakbola merupakan tanah paling subur untuk tumbuh kembangnya berita palsu atau sekarang yang kita sebut berita hoax. Di konteks sepakbola utamanya saat memasuki bursa transfer, hiruk pikuk bursa transfer membuat publik sulit membedakan mana yang fakta atau mana yang fiksi. Kebenaran di pemberitaan bursa transfer menjadi sulit dipahami. 

Soal fakta atau fiksi juga dapat kita lihat dari kasus pembelian Romelu Lukaku ke Manchester United beberapa waktu lalu. Publik sempat heboh karena pada 09 Juli 2017 lalu, Lukaku menjalani tes medis di Manchester United. Bersandar pada laporan anonim, sejumlah media di Inggris mengangkat itu sebagai headline

Benang kusut kemudian tercipta, fakta atau fiksi bercampur di pemberitaan Lukaku saat itu. Di kubu Everton seperti dikutip dari realclearsports.com (09/07/17), mereka membantah sudah mencapai kata sepakat dengan Manchester United untuk Lukaku.

Romelu Lukaku, striker anyar Man United. Copyright: ManutdRomelu Lukaku, striker anyar Man United.

Di sisi lain pihak Chelsea yang sebelumnya sangat santer bakal rekrut Lukaku juga menyampaikan statment bahwa mereka masih sangat berpeluang besar dapatkan pemain Belgia itu, kubu Chelsea bahkan kabarnya menaikkan nilai transfer mereka.
 
Dalam hitungan jam, kepindahan Lukaku ke Manchester United dianggap fiksi oleh sebagian publik, namun hal itu berubah jadi fakta setelah website dan Twitter resmi Manchester United resmi mengumumkan soal pembelian Lukaku. 

Kembali ke kasus Declan, ia sepertinya memang ingin melihat sejuah mana pembaca mau menerima soal pemberitaan yang belum dipastikan kebenarannya, utamanya soal pemberitaan pembelian pemain sepakbola. 

"Dia (Declan) sepertinya ingin melihat sejauh mana berita hoax bisa berkembang di masyarakat, utamanya para supoter Arsenal," tulis salah satu jurnalis lainnya seperti dikutip dari realclearsports.com