Buntut Suporter Tewas, SOS Minta Bhayangkara dan PS TNI Dibubarkan

  • Tewasnya salah satu pendukung Persita Tangerang bernama Banu Rusman, tampaknya akan berbuntut panjang.
  • Banu dinyatakan meninggal dunia sehari pasca terjadi kericuhan saat Persita Tangerang dikalahkan oleh PSMS Medan di Stadion Mini Persikabo, Cibinong, Bogor, pada Rabu (11/10/17) lalu.
  • Akmal Marhali selaku Koordinator Save Our Soccer (SOS) pun turut menyayangkan hal tersebut.
  • Dirinya pun meminta kepada PSSI untuk mengevaluasi PS TNI dan Bhayangkara FC, karena dinilai rawan untuk kembali muncul kejadian yang serupa PSMS Medan kali ini.
Kamis, 12 Oktober 2017 22:53 WIB
Editor: Cosmas Bayu Agung Sadhewo
© Muhammad Adiyaksa/INDOSPORT
Polisi tengah mengamankan beberapa suporter saat terjadinya keributan. Copyright: © Muhammad Adiyaksa/INDOSPORT
Polisi tengah mengamankan beberapa suporter saat terjadinya keributan.

Kasus tewasnya salah satu suporter Persita Tangerang bernama Banu Rusman tampaknya akan menjadi polemik yang panjang. Pasalnya, kejadian tersebut turut menyeret sejumlah oknum tentara yang dituding terlibat.

Belum lama ini, Edy Rahmayadi yang merupakan Ketua Umum PSSI sekaligus Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), berjanji untuk melakukan investigasi. Dirinya akan menghukum anak buahnya bila terbukti melakukan perbuatan tersebut.

"Sudah pasti akan saya hukum. Akan saya hukum," ucap Edy ketika dihubungi pewarta, Kamis (12/10/17).

Edy pun tidak memungkiri bahwa banyak Kostrad yang hadir, untuk mendukung PSMS Medan saat bertandang ke Stadion Mini Persikabo, Cibinong, Bogor, untuk melawan Persita Tangerang dalam laga lanjutan babak 16 besar Liga 2.

"Memang iya, itu kebanyakan dari Kostrad. Tapi ada masyarakat sipil juga," jelas Edy.

Suporter Persita Tangerang mengalami luka-luka akibat rusuh dengan suporter PSMS Medan. Copyright: Muhammad Adiyaksa/INDOSPORTSuporter Persita Tangerang mengalami luka-luka akibat rusuh dengan suporter PSMS Medan.

Menanggapi hal ini, Akmal Marhali selaku Koordinator Save Our Soccer (SOS) pun turut berkomentar. Dirinya meminta kepada PSSI untuk mengevaluasi kembali keiikutsertaan PS TNI dan juga Bhayangkara FC di kompetisi Liga 1.

“Evaluasi kembali keiikutsertaan PS TNI dan Bhayangkara FC di kompetisi, karena sangat rawan,” ucapnya kepada INDOSPORT.

Tidak hanya itu, dirinya bahkan berharap bahwa klub yang dinaungi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri) tersebut untuk dibubarkan dan tidak mengikuti kompetisi Liga 1.

“Ya, bubarkan,” ucapnya.

Skuat PS TNI saat melawan Bhayangkara FC. Copyright: Bhayangkara FCSkuat PS TNI saat melawan Bhayangkara FC.

“TNI dikembalikan ke fungsinya sebagai garda terdepan pertahanan, polisi sebagai pengayom dan penjaga ketentraman masyarakat. Tentara dan polisi kembali ke barak mengurus keamanan dan pengayom masyarakat,” tuturnya menjelaskan.

“Sejak awal, SOS tidak setuju TNI dan Polisi terlibat di kompetisi profesional. Selain proses akuisisinya yang tidak sesuai regulasi FIFA, FIFA pun melarang jual beli lisensi klub,” tambahnya.

Bhayangkara FC berhasil mengungguli Persiba Balikpapan dengan skor 3-2. Copyright: Media Bhayangkara FCPara pemain Bhayangkara FC.

“Itu permintaan bukan hanya kepada PSSI saja, tapi ke Menpora dan juga Presiden Jokowi,” harapnya.

Keinginan SOS untuk dibubarkannya PS TNI dan Bhayangkara FC tak lepas dari keterlibatan pendukung PSMS Medan, dalam hal ini adalah oknum TNI, pada kericuhan yang terjadi dengan suporter Persita Tangerang.

Sekadar informasi, PSMS Medan memang sudah dikenal dengan TNI. Keterkaitan keduanya bermula ketika terjadi konflik internal di tubuh PSMS Medan pada 2014 silam. Kala itu, Edy Rahmayadi merasa prihatin akan keterpurukan PSMS, yang mana kemudian ia memutuskan untuk menjadi pembina Ayam Kinantan pada tahun 2015 lalu.