Stadion Marilonga: Saksi Sejarah dan Kebanggaan Sepakbola Flores

  • Di kota ini Bung Karno diasingkan dan dari rahimnya lahirlah Pancasila. 
  • Stadion Marilonga yang sebelumnya berwajah kusam, lusuh, kering-kerontang itu kini menghijau.
  • Sekarang, bagaimana fasilitas yang bagus itu bisa melahirkan pesepakbola-pesepakbola handal yang siap merumput di level nasional?
Jumat, 10 November 2017 20:13 WIB
Penulis: Yohanes Paulus Arianto Namang | Editor: Arum Kusuma Dewi
© Internet
Trofi El Tari Memorial Cup 2017. Copyright: © Internet
Trofi El Tari Memorial Cup 2017.

Kota Ende adalah sebuah kota kecil di sentral Flores. Secara topografis, Ende tak terlalu cantik seperti kota-kota lainnya di Jawa. 

Ende terletak di antara Gunung Wongge, Gunung Meja, Gunung Kengo, Gunung Ia, dan Laut Selatan. Ya, persis, Ende hanya sebuah kota kecil yang tak bisa dibuat menjadi lebar lagi kecuali ada teknologi yang mampu memindahkan gunung dan lautan itu. Ah, sudahlah, itu tak penting. 

Taman renungan Bung Karno di Ende Copyright: InternetTaman renungan Bung Karno di Ende.

Meski kota kecil, namun Ende punya sejarah yang besar sebagai sebuah kota. Di kota ini Bung Karno diasingkan dan dari rahimnya lahirlah Pancasila. 

Empat tahun Bung Karno hidup bersama masyarakat kota Ende. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk merenungkan Indonesia dari sini, dari bawah rindangnya pohon sukun berdahan lima. Di depan pohon itu, terpampang lautan luas yang menghubungkan kota Ende dan Pulau Ende. Di tempat itu Pancasila dilahirkan. 

Namun, sayangnya, pemerintah daerah kabupaten Ende tak begitu kreatif dalam mengembangkan potensi wisata historis itu, sehingga potensi besar itu tak terlalu jadi prioritas. 

Ende: kebanggaan sepakbola Flores

Untuk pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan Flores dan Nusa Tenggara Timur turnamen sepakbola digelar pada malam hari. 

Supporter yang memadati Stadion Marilonga Ende demi mendukung tim kesayangannya Copyright: InternetSupporter yang memadati Stadion Marilonga Ende demi mendukung tim kesayangannya

Selama ini pertandingan sepakbola daratan Flores dan NTT selalu digelar pada sore hari hingga, paling banter, Adzan Maghrib pertandingan selesai. Lebih tepatnya diselesaikan.  

Bukan suara Adzan yang menghentikan pertandingan, tapi karena semakin melemah jarak pandang akibat gelap melanda makanya pertandingan dihentikan. 

Penerangan di stadion agar pertandingan bisa digelar malam nyaris tak ada, hanya mengandalkan terang bulan tentu tak cukup. Namun, itu dulu, kini berbeda, Bung!

Pemain Perse Ende Copyright: InternetPemain Perse Ende.

Ketika ditunjuk untuk menjadi tuan rumah penyelenggara turnamen El Tari Memorial Cup 2017, pemerintah kabupaten Ende langsung bekerja keras memperbaiki wajah stadion kebanggaan Ende: Marilonga.

Persiapan untuk membenahi stadion, mulai dari rumput, tribun, hingga penerangan dikerjakan sejak 2015. Pemerintah daerah serius mengerjakannya demi menghadirkan pemandangan olahraga yang berbeda dari biasanya dan bergengsi, setidaknya di Flores dan NTT pada umumnya. 

Stadion Marilonga Ende Copyright: InternetStadion Marilonga Ende.

Hasilnya memuaskan memang. Stadion Marilonga yang sebelumnya berwajah kusam, lusuh, kering-kerontang itu kini menghijau. Penerangan yang bagus semakin mempertegas maskulinitas wajah Marilonga. 

"Sudah seperti stadion yang sering kita lihat di tivi saja e", kata Kobus Watu, salah satu warga kota Ende.  

Johny Lumba, seorang praktisi olahraga menulis begini: 

"Askab PSSI Kabupaten Ende sudah memulai sejarah baru dalam sebuah kompetisi bergensi yang dilaksanakan dua tahun sekali. Sebuah kolaborasi dan kerja sama yang luar biasa sehingga akhirnya tercapai juga sebuah warna cerah bagi kompetisi sepakbola". 

Dari informasi yang ada, anggaran yang dibutuhkan pemerintah daerah Kabupaten Ende untuk memperganteng wajah Marilonga mencapai angka 10 miliar rupiah. Angka itu memang terbilang fantastis untuk ukuran daerah di Flores, namun wajar demi perbaikan wajah sepakbola di Flores dan NTT secara umum. 

Supporter Perse Ende tumpah ruah di depan Stadion Marilonga Copyright: InternetSupporter Perse Ende tumpah ruah di depan Stadion Marilonga

Renovasi diprioritaskan pada tribun stadion, pembenahan area parkiran, penghijauan lapangan, serta penerangan di setiap sudut stadion sehingga Marilonga benar-benar layak disebut sebagai sebuah stadion, tak hanya stadion tapi sebuah kebanggaan orang Ende. 

Pada awalnya memang banyak nyinyiran bertebaran di media sosial dan warung-warung kopi menanggapi proses renovasi yang menelan biaya mahal. Namun ketika wajah Marilonga mulai ganteng, semua ramai-ramai mendukung dan perlahan rasa bangga sebagai ana mamo (anak cucu) Marilonga mulai tertanam di dalam diri orang Ende. 

"Itu stadion kebanggaan kami," demikian ujar Natus Nggeka mengomentari wajah Marilonga baru. 

Pertandingan malam secara resmi digelar pada tanggal 22 Juli 2017 silam dalam pembukaan Turnamen El Tari Memorial Cup di mana Ende bertindak sebagai pihak tuan rumah penyelenggara pertandingan. 

Patung Marilonga Copyright: InternetPatung Marilonga. 

Lautan manusia tumpah ruah memadati Marilonga, baik di luar maupun di dalam stadion. Itu sebuah pertanda bahwa animo masyarakat begitu tinggi terhadap sepakbola, kesadaran masyarakat akan pentingnya olahraga sebagai sebuah kompetisi sudah terbangun.  

Supporter Perse Ende tumpah ruah di depan Stadion Marilonga Copyright: InternetSupporter Perse Ende tumpah ruah di depan Stadion Marilonga

Sekarang, yang perlu dilanjutkan adalah bagaimana fasilitas yang bagus itu bisa melahirkan pesepakbola-pesepakbola andal yang siap merumput di level nasional mengikuti jejak Billy Keraf, Yabes, Johny Dopo, dan lain-lain.