x

Mengapa Kiper Sulit Masuk Nominasi dan Memenangi Ballon d'Or?

Jumat, 15 Oktober 2021 10:15 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
Edouard Mendy.

INDOSPORT.COM – Sejak pertama kali digelar, Ballon d’Or hanya dikuasai oleh pemain bertipe menyerang. Lantas, mengapa pemain berposisi kiper sulit masuk nominasi dan meraih penghargaan itu?

Belum lama ini, terdapat kontroversi dari munculnya pemain yang masuk nominasi Ballon d’Or. Dari 30 pemain yang ada, tak ada nama Edouard Mendy selaku kiper Chelsea.

Tak masuknya Mendy dalam nominasi peraih penghargaan Ballon d’Or mendapatkan kecaman dari kompatriotnya sekaligus bintang Liverpool, Sadio Mane.

Baca Juga
Baca Juga

Rekan-rekan Mendy di Chelsea seperti Cesar Azpilicueta, Mason Mount, Romelu Lukaku, N’Golo Kante, dan Jorginho masuk dalam nominasi ini.

Selain itu, daftar nominasi peraih Ballon d’Or ini memuat nama Gianluigi Donnarumma yang berposisi sama dengan Edouard Mendy yakni kiper.

Tentu tak masuknya Mendy membuat Sadio Mane meradang. Sebab, kiper asal Senegal ini menjadi kunci keberhasilan Chelsea menjuarai Liga Champions dan bahkan mencetak rekor di ajang tersebut sebagai kiper paling sedikit kebobolan sepanjang sejarah ajang itu.

Baca Juga
Baca Juga

“Keputusan itu tidak dapat diterima. Saya tidak mengerti," tutur Sadio Mane, dilansir dari Standard Sports.

Masuknya Donnarumma sebagai kiper dalam nominasi ini pun tak lantas membuat namanya dijagokan bisa menjadi memenangi Ballon d’Or.

Lantas, mengapa sulit sekali bagi seorang penjaga gawang seperti Edouard Mendy masuk nominasi dan Gianluigi Donnarumma memenangi Ballon d’Or?


1. Nasib Malang Seorang Kiper

Penyelamatan gemilang Edouard Mendy dalam duel Liga Champions: Rennes vs Chelsea

Sulitnya kiper meraih penghargaan Ballon d’Or bisa dikatakan berasal dari ideologi sepak bola yang dipahami pemain dan penikmatnya sejak awal dimainkan.

Saat dipertandingkan, tujuan dalam olahraga sepak bola adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya. Sehingga para pemain menyerang saja yang mendapat pengakuan terbaik dalam sepak bola hingga saat ini.

Dewasa ini, percaya atau tidak banyak penikmat sepak bola yang lebih melihat statistik menyerang ketimbang statistik bertahan. Semuanya hanya terpaku pada dua catatan saja, yakni gol dan assist.

Pemahaman ini membuat para penyerang mendapat perhatian lebih ketimbang para penjaga gawang atau bahkan pemain bertahan seperti bek maupun gelandang bertahan.

Belum lagi dengan pandangan miring yang rentan diterima kiper. Seorang kiper akan mendapat cap buruk karena satu kesalahan saja meskipun banyak penyelamatan yang ia lakukan dalam kariernya.

Untuk kasus ini, tanyakan saja pada Loris Karius yang diingat akan kesalahannya di final Liga Champion 2017/18 membuat kariernya jatuh.

Kesalahannya di final itu menutupi perannya yang mampu membawa Liverpool ke final. Hal tersebut juga berlaku untuk kiper lainnya seperti Kepa Arrizabalaga, David De Gea, dan sederet kiper lainnya.

Sejak Lev Yashin memenangi Ballon d’Or di tahun 1963, pandangan penikmat sepak bola akan kiper tetap tak berubah hingga saat ini.

Karena sulitnya kiper meraih Ballon d’Or, maka dibuatlah sebuah trofi tandingan bernama Yachine Trophy di mana di edisi pertama penghargaan ini, Alisson Becker menjadi pemenangnya.

Tapi tetap saja, apakah Yachine Trophy sepadan dengan Ballon d’Or? Tentu tidak. Lalu, kapan kiper mendapat pengakuan bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik di dunia?Entah kapan lagi seorang kiper diakui menjadi yang terbaik di jagat sepak bola.

Benar kata Sadio Mane. Sulit untuk menerima tak masuknya Edouard Mendy dalam nominasi Ballon d’Or meski tampil apik sepanjang tahun 2021.

Teruntuk Edouard Mendy, keberhasilan Anda membuat Chelsea menjadi juara dan menjadi tim yang paling sedikit kebobolan sepanjang sejarah Liga Champions dengan persentase penyelamatan sebesar 90,9 persen dan 30 penyelamatan, nyatanya tak cukup menggugah hati penikmat sepak bola untuk mengakui sosok Anda sebagai yang terbaik.

ChelseaBallon d'OrKiperGianluigi DonnarummaSepak BolaEdouard MendyLev Yashin

Berita Terkini