In-depth

Mengalkulasi Kiprah Alfred Riedl di Klub Sepak Bola, Sukses atau Gagal?

Jumat, 23 Agustus 2019 16:15 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
© Herry Ibrahim/INDOSPORT
Pealtih Timnas Indonesia, Alfred Riedl menendang bola dalam sesi latihan. Copyright: © Herry Ibrahim/INDOSPORT
Pealtih Timnas Indonesia, Alfred Riedl menendang bola dalam sesi latihan.

INDOSPORT.COM - Persebaya Surabaya akhirnya resmi mengumumkan Alfred Riedl sebagai pelatih anyar pada Jumat (23/08/19) pagi di akun Instagram resmi klub. 

Riedl akan menggantikan Djadjang Nurdjaman yang dipecat hampir dua pekan yang lalu. Kursi kepelatihan dalam dua pekan terakhir diemban oleh sang caretaker, Bejo Sugiantoro. Bejo sendiri akan menjadi asisten Riedl di tim Bajul Ijo.

Meski sudah sepakat akan menangani Persebaya, ia belum bisa langsung datang dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, ia saat ini sedang merampungkan beberapa urusan administrasi di negaranya sebelum kembali terjun di kancah sepak bola Indonesia.

Bukan Pelatih Sembarangan

Alfred Riedl bukanlah sosok asing bagi persepakbolaan Indonesia. Pelatih berusia 69 tahun ini pernah tiga kali didapuk sebagai pelatih Timnas Garuda. 

Selain melatih tim nasional, Alfred Riedl merupakan sosok berpengalaman yang pernah melatih banyak klub. Sepanjang kariernya, ia telah menangani tujuh klub yang tersebar di Austria (Wiener Sport-Club dan Favoritner AC), Mesir (El-Zamalek), Kuwait (Al-Salmiya), serta Vietnam (Khatoco Khanh Hoa dan Hai Phong). 

Alfred Riedl merupakan sosok yang cukup dipandang dalam persepakbolaan Austria. Tak hanya sebagai mantan pemain timnas, ia juga menunjukkan tajinya di dunia kepelatihan. 

Selama di Austria, ia pernah menangani dua klub lokal, yakni Favoritner AC dan Wiener Sport-CLub. Tak hanya itu, ia juga pernah ditunjuk sebagai pelatih Timnas Astria.

Riedl memulai petualangannya di dunia kepelatihan pada tahun 1989 saat membesut tim Wiener Sport-Club. Di klub ini Riedl hanya melatih selama satu tahun. 

Namun, satu tahun kepelatihannya itu sudah cukup membuatnya didapuk untuk melatih tim nasional Austria. 

Sayang, di timnas prestasinya tak begitu mencolok. Ia pun hanya melatih selama kurang lebih dua tahun (1990-1992) sebelum akhirnya lengser dan kembali melatih klub. 

Favoritner AC menjadi pelabuhan Riedl selanjutnya. Di klub lokal Austria keduanya ini ia bertahan selama dua musim sebelum akhirnya melanglang buana ke belahan dunia lainnya. 

Meniti Karier di Asia 

Selepas berkarier di Austria, Riedl memulai peruntungan dengan melatih klub Maroko, Olumpique Khouridga, pada tahun 1993/94. 

Dari situ ia melanjutkan melatih klub ternama Mesir, El Zamalek pada musim 1994/95. Dua tahun berselang ia dipercaya menukangi tim nasional Liechtenstein. 

Namun, ia hanya bertahan semusim sebelum akhirnya memulai petualangan panjang di Asia. 

Riedl memulai petualangannya dengan melatih tim nasional Vietnam pada tahun 1998-2000. Vietnam memiliki tempat spesial di hati Riedl. 

Ia kembali didapuk sebagai pelatih negara tersebut pada tahun 2003/04 dan 2005/07. Selama masa jeda kepelatihannya di timnas Vietnam, Riedl sempat menerima tawaran melatih di klub lokal, Khatoco Khánh Hòa, dan klub raksasa Kuwait, Al-Salmiya SC. 

Vietnam bukan satu-satunya tempat favorit Riedl melatih. Selepas berpetualang di Vietnam, Riedl memulai peruntungannya di Indonesia. 

Riedl tercatat tiga kali didapuk melatih Indonesia, yakni tahun 2010/11, 2013/14, dan 2016. Riedl pun sudah akrab benar dengan atmosfer sepak bola Tanah Air. 

Belakangan, ia menerima tawaran melatih salah satu klub besar Indonesia, Persebaya Surabaya. 

Spesialis Runner-Up

Alfred Riedl sepertinya tak bisa jauh-jauh dari Asia. Dari kurun tahun 1998 sampai 2019, karier kepelatihannya dihabiskan di Asia. Bisa dibilang, di Asialah puncak karier kepelatihan Riedl terwujud. 

Namun begitu, hanya trofi yang masih kurang dalam CV Riedl. Riedl selama bertahun-tahun dikenal sebagai pelatih spesialis runner-up. 

Bersama tim nasional Vietnam dia meraih lima kali posisi runner-up. Masing-masing pada tahun 1998 (Piala AFF), 1999 (SEA Games), 2003 (SEA Games), 2005 (SEA Games) dan 2006 (King's Cup).

Julukkan spesialis runner-up juga melekat pada Riedl saat membesut Timnas Indonesia. Selama menangani Indonesia, Alfred Riedl merasakan dua kali runner-up usai gagal di final Piala AFF tahun 2010 dan 2016. 

Lalu, setelah membaca rekam jejak Riedl, apakah ia pantas digolongkan sebagai pelatih gagal? atau pelatih sukses?

Tentunya jawabannya relatif. Dalam skala prestasi, Riedl jelas gagal karena tak mampu menghadirkan trofi. 

Namun, untuk bisa membawa sebuah tim ke partai final sampai tujuh kali tentunya dibutuhkan kemampuan yang tak sembarangan. 

Maka dari itu, dalam spektrum lebih luas, Riedl dapat dikategorikan pelatih yang bagus dan berkualitas. Ia bisa menberikan jaminan kuat bahwa tim yang ditanganinya akan tampil kompetitif dan bersaing di level tertinggi. 

Maka dari itu, ini merupakan kabar baik bagi Persebaya yang tengah meniti kebangkitan. Alfred Riedl bisa memberikan kualitas papan atas yang saat ini paling dibutuhkan oleh Bajul Ijo. 

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%