Liga Spanyol

Sekarang Membenci, Ini Perjalanan Hubungan Barcelona dan Lionel Messi

Rabu, 26 Agustus 2020 16:19 WIB
Penulis: I Made Dwi Kardiasa | Editor: Theresia Ruth Simanjuntak
© Alex Caparros/GettyImages
Lionel Messi pada akhirnya menunjukkan tanda akhir hubungannya dengan raksasa LaLiga Spanyol, Barcelona. Begini kronologis kejadiannya hingga saling membenci. Copyright: © Alex Caparros/GettyImages
Lionel Messi pada akhirnya menunjukkan tanda akhir hubungannya dengan raksasa LaLiga Spanyol, Barcelona. Begini kronologis kejadiannya hingga saling membenci.

INDOSPORT.COM - Tepat hari ini, Rabu (26/08/20), merupakan saat paling bersejarah bagi raksasa LaLiga Spanyol, Barcelona karena Lionel Messi menyatakan ingin pergi secara resmi. Bagaimana kronologi hubungan keduanya harus berakhir?

El Barca sejatinya memiliki popularitas tinggi sebagai tim hebat dengan strategi Tiki-Taka sekaligus berbagai nama-nama besar pemain La Masia. Sebut saja bintang-bintang yang pernah berseragam di antaranya seperti Carles Puyol, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan tentu saja Messi.

Seiring berjalannya waktu, beberapa pemain itu pun mulai berganti silih berganti seperti Xavi yang putuskan jadi pelatih Al Sadd, Iniesta berkarier di liga Jepang, Fabregas meniti karier bareng AS Monaco dan Puyol pilih pensiun. Kini Azulgrana pun hanya meninggalkan satu bintangnya saja melakoni LaLiga Spanyol dan pentas Eropa.

Akan tetapi, pada akhirnya Lionel Messi malah membuat keputusan krusial usai rentetan kegagalan klub asal Catalonia itu dan memilih keluar dari zona nyaman alias tinggalkan Camp Nou. Berbagai fans dan media pun langsung menyerbu kantor Barcelona.

Banyaknya pemberitaan media tersebut tak lepas dari loyalitas Messi yang sudah membantu memenangkan 10 gelar LaLiga, empat Liga Champions, dan raih penghargaan individu enam Ballon d'Or. Apa yang membuat sosok bintang asal Argentina ini memilih keputusan pergi sedari sekarang?

Berikut INDOSPORT merangkum beberapa fakta akar permasalahan dari keretakan hubungan yang terjalin antara klub besar Spanyol ini dengan pemain ikoniknya sepanjang masa dilansir laman Four Four Two dan beberapa sumber lain.

Awal jatuh cinta Barcelona dengan Lionel Messi

Lahir pada 24 Juni 1987, sosok Lionel Messi langsung memiliki bakat alami seorang pesepak bola andal. Tak heran dua orang tuanya, Jorge Messi dan Celia Cuccittini menyekolahkan anaknya itu akademi sepak bola Argentina, Newell's Old Boys.

Selama kurang lebih enam tahun disana, pemain berujulukan Si Kutu ini catatkan statistik mengerikan yakni 234 gol dari 176 pertandingan selama mengembangkan bakat disana. Tak heran ia lantas menyita perhatian scout Barca yang membawanya ke tim junior.

Setelah tiga tahun menambah ilmu di La Masia, kemampuan Messi yang kian terasah sukses masuk ke tim cadangan Barcelona C dan Barcelona B sebelum akhirnya masuk skuat utama. Usia 17 tahun menjadi momen bersejarah baginya merumput dengan skuat utama.

Lewat aksi memukau kala diturunkan di menit 75 saat duel persahabatan antara Barcelona dengan Porto-nya Jose Mourinho, performanya cukup mengesankan dengan membuat dua kesempatan dan sebuah gol tunggal. Ronaldinho bintang anyar Barca langsung menyebut Messi sebagai calon megabintang.

Benar saja, ucapan itu pun jadi kenyataan, Lionel Messi tumbuh berkembang dengan berbagai rekan tim sebut saja Ronaldinho, Xavi, Samuel Eto'o, Iniesta, Puyol, Eric Abidal, Thierry Henry dan masih banyak lagi. Berbagai teman seperjuangan itu membuat bakatnya kian hebat.

Salah satu momen paling membahagiakannya ialah sukses persembahkan treble kala Barcelona ditukangi Luis Enrique dan Pep Guardiola. Ia juga sukses mencuri perhatian kala membuat trisula maut berjulukan trio MSN bareng Neymar dan Luis Suarez.

Imbas dari Messi pun sangat besar setelah Barcelona selalu mengagung-agungkan dirinya yang disebut-sebut lebih hebat dari Diego Maradona. Bahkan Catalan dipercaya sebagai klub satu orang saja, kala pemain La Albiceleste tersebut memiliki peranan penting dalam urusan transfer maupun hal lain.

Maklum saja, Barcelona seolah mulai kehilangan arah usai ditinggal banyak pemain hebat dan La Masia sulit memproduksi pemain baru berbakat. Tak heran, mereka mengistimewakan pemain yang sudah mencetak 634 gol dalam 731 pertandingan sekaligus penyumbang trofi terbanyak ini.