In-depth

Benarkah Jordi Cruyff Gagal Jadi Penerus Sang Ayah?

Jumat, 23 Oktober 2020 19:37 WIB
Editor: Nugrahenny Putri Untari
© Quality Sport Images/Getty Images
Perjalanan putra Johan Cruyff, Jordi Cruyff, di dunia sepak bola. Copyright: © Quality Sport Images/Getty Images
Perjalanan putra Johan Cruyff, Jordi Cruyff, di dunia sepak bola.
Perjalanan Jordi Cruyff

Pada tahun 1978, Johan Cruyff pindah ke Amerika setelah kehilangan banyak uang akibat bisnisnya yang gagal. Ia turut membawa serta keluarganya termasuk Jordi ketika bermain untuk Los Angeles Aztecs dan Washington Diplomats.

Namun kisah mereka di Negeri Paman Sam hanya sebentar. Sempat kembali ke Belanda, keluarga Cruyff pun kembali menetap di Spanyol.

Johan Cruyff menjadi pelatih Barcelona pada tahun 1988 dan sang putra berhasil masuk ke tim junior. Jordi tampil gemilang saat masih muda, tampil lebih dari 50 kali setelah debut di Barcelona B pada tahun 1992.

Ia kemudian debut di tim senior pada tahun 1994 dan menjadi pahlawan timnya saat melawan Sporting Gijon. Ia kemudian tampil brilian ketika membabat habis Manchester United 4-0 di ajang Liga Champions.

Pada tahun 1996, kisah sang ayah bersama Barcelona harus berakhir setelah raihan 11 trofi. Jordi pun ikut pergi dari Camp Nou dan bergabung dengan klub Liga Inggris, Manchester United.

Kedatangan Jordi ke kubu The Red Devils tidak lepas dari penampilannya saat membela Barcelona dan Timnas Belanda. Selain memikat Guus Hiddink yang memasukkannya ke skuat untuk Euro 1996, ia juga sukses menarik perhatian Sir Alex Ferguson.

Sayangnya, Jordi harus berkutat dengan cedera lutut yang membuat menit bermainnya berkurang. Waktu terus berlalu dan pada tahun 2000 ia memutuskan kembali ke Spanyol karena merasa sulit dengan kehidupan di Manchester.

Deportivo Alaves adalah pelabuhan Jordi Cruyff selanjutnya. Musim pertamanya bisa dibilang cukup bagus lantaran berhasil mengantarkan timnya menuju final UEFA Cup 2000-2001.

Pertandingan final antara Liverpool vs Alaves yang digelar pada 16 Mei 2001 tersebut berlangsung seru dan sangat menghibur. Jordi sendiri turut mencatatkan namanya di papan skor meski timnya harus kalah dengan skor 4-5.

Setelah Alaves, ia juga sempat membela Espanyol, Metalurh Donetsk, dan Valletta sebelum memutuskan gantung sepatu pada tahun 2010.

Karier Jordi Cruyff di belakang layar pun dimulai. Ia mendapat jabatan sebagai direktur olahraga di AEK Larnaca dan Maccabi Tel Aviv.

Di bawah naungannya, Maccabi Tel Aviv meraih kesuksesan besar dengan menjuarai Liga Israel 2012-2013 usai penantian panjang mereka selama 10 tahun. Pada Januari 2017, ia menjadi pelatih interim klub tersebut menyusul pemecatan Shota Arveladze.

Saat akhir musim 2016-2017, Jordi ditawari posisi di tim direktur olahraga Barcelona, di mana ia bisa melanjutkan warisan sang ayah di Camp Nou. Akan tetapi, ia ternyata lebih memilih tinggal di Maccabi Tel Aviv.

Setelah selesai di Maccabi Tel Aviv, Jordi Cruyff kemudian melanjutkan petualangannya di Liga Super China dengan menangani Chongqing Dangdai Lifan dan kini Shenzhen.

Meski pencapaiannya dianggap tidak sementereng sang ayah, Jordi Cruyff punya catatan dan nama besar yang ia peroleh dari jerih payahnya sendiri. Ia tampil di Liga Champions dan bahkan mewakili negaranya di kompetisi internasional.

Ia juga pernah bermain untuk dua klub papan atas dunia yakni Barcelona dan Manchester United. Selain itu, Jordi berani mengambil keputusan penting untuk berpetualang di Israel, Ukraina, Malta, Cyprus, dan kini China. Jadi, apakah ia adalah penerus gagal Johan Cruyff?

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%