x

Beda Perlakuan Liga Thailand, Malaysia dan Indonesia dalam Pemotongan Gaji Pemain

Kamis, 2 April 2020 16:53 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
Pemangkasan gaji sampai 75 persen untuk pemain-pemain Liga 1 dinilai cukup besar. Lalu, bagaimana dengan sepak bola di Malaysia dan Thailand di Asia Tenggara?

INDOSPORT.COM - Pemangkasan gaji sampai 75 persen untuk pemain-pemain Liga 1 dinilai cukup besar. Lalu, bagaimana dengan sepak bola di Malaysia dan Thailand di Asia Tenggara?

Situasi COVID-19 yang makin tak terkendali memaksa sepak bola untuk tidur panjang. Hampir semua liga-liga di dunia termasuk Indonesia harus menghentikan roda berkompetisi.

Klub-klub Liga 1 pun bakal mendapat kerugian besar dari penundaan kompetisi. Hal ini berdampak pada penggajian pemain. 

Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 mengalami penundaan sejak Senin (16/3/2020) lalu karena pandemi virus corona.

Baca Juga
Baca Juga

Akhirnya PSSI mengeluarkan surat bernomor 48/SKEP/III/2020 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Mochamad Iriawan pada Jumat (27/03/20) lalu dan memutuskan kalau setiap klub boleh memberikan 25 persen gaji ke pemain.

Hal ini sempat memicu protes dari Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). APPI pun tidak terima dengan keputusan tersebut dan langsung bersurat ke PSSI dengan memberikan lima poin keberatan.

APPI menilai keputusan pembayaran gaji sebesar 25 persen sejak April-Juni semestinya disepakati oleh kedua belah pihak terlebih dahulu. 

Eksekusi dari kebijakan PSSI belum efektif diterapkan lantaran pada bulan Maret pemain masih digaji full. 

Pemain klub Liga 1 PSM Makassar, Aji Kurniawan (putih), mencoba melewati hadangan pemain Persipura Jayapura.

Pemotongan gaji pemain memang sangat lazim dilakukan di tengah krisis pandemi virus Corona ini. Klub-klub Eropa pun menerapkan hal yang sama. 

Di Asia Tenggara sendiri Indonesia tidak sendirian. Dua negara sepak bola besar lainnya, Thailand dan Malaysia, juga menerapkan hal yang sama. Hanya saja, terjadi perbedaan cukup mencolok di dalamnya. 

Angka persentase pemotongan gaji sampai 25 persen di Liga 1 terdengar sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan kondisi di Malaysia dan Thailand. 

Di malaysia, kebijakan pemotongan gaji sempat mendapatkan pertentangan dari para pemain. Namun, dari pihak federasi sendiri belum ada penentuan nominal resmi mengenai pemotongan gaji meski sama-sama sepakat kompetisi dihentikan. 

Walau masih menimbulkan pertentangan antara klub, asosiasi pemain, dan liga, pemotongan gaji tetap dilakukan secara mandiri. Alhasil, tiap-tiap klub menerapkan persentase yang berbeda-beda. 

Klub kaya raya Negeri Jiran, Johor Darul Ta'zim,  memangkas gaji para pemainnya sebesar 33 persen atau sepertiga. Para pemain pun cukup ikhlas dengan kondisi ini. 

Bahkan, banyak dari pemain JDT yang ikut menyumbangkan sisa gajinya untuk membantu penanganan virus corona di Malaysia. 

Sementara itu klub dari kasta kedua Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM FC) memutuskan untuk memotong gaji pemainnya di kisaran 15-20 persen. Dilansir dari media Malaysia, Bernama, kebijakan ini mulai efektif pada bulan April. 

Sampai saat ini belum ada informasi klub peserta Liga Super Malaysia atau pun Liga Primer Malaysia yang membayar gaji hanya  25 persen.

Presiden Johor Darul Takzim Tunku Ismail Sultan Ibrahim. Foto: Malay Mail

Pemandangan yang agak berbeda terjadi di Thailand. Sampai saat ini klub-klub Thailand belum ada kesepakatan soal pemotongan gaji pemain. 

Hanya saja, pemangkasan gaji terlebih dahulu terjadi di tim nasional. Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) memutuskan memotong gaji pelatih Timnas Thailand,  Akira Nishino, sampai 50 persen. 

Dilansir dari The Phuket News, FAT mengalami krisis finansial. Selain Nishino, staf pelatih dan pegawai di semua kelompok umur tim nasional juga akan dipangkas gajinya. 

Walau pemotongan gaji pemain di level klub belum masif, namun FAT meyakini dampak finansial juga bakal dirasakan oleh liga. 

“Mereka semua punya biaya. Mereka harus membayar gaji kepada pemain, pelatih, dan ofisial tim lainnya yang mereka pekerjakan. Pandemi ini sebenarnya berpotensi merusak seluruh pengaturan sepakbola di Thailand, ” kata presiden FAT, Somyot Poompunmuang.

Pihak berwenang di sepak bola Thailand pun tengah memutar otak mencari cara agar liga tetap dimainkan demi menghindari kerugian pemasukan dari TV maupun sponsor. 

"Memainkan pertandingan tanpa penonton adalah sebuah pilihan, tetapi kita harus memikirkan siaran langsung dan dampaknya pada kampanye pemasaran sponsor kita." 

Baca Juga
Baca Juga

Liga Thailand pun diyakini akan menerapkan kebijakan pemotongan gaji pemain dalam waktu dekat. Hanya saja persentase pemotongan diprediksi tak akan lebih dari 50 persen. 

Andai tak ada perubahan situasi, maka Liga Indonesia jadi yang paling ekstrem dalam kebijakan pememotongan gaji pemain di antara liga besar Asia Tenggara. 

PSSIThailandAsosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI)Liga Super MalaysiaLiga 1Berita Liga 1Virus Corona

Berita Terkini