Cara Ini Dinilai Efektif untuk Atasi Dampak Negatif Game Online

Rabu, 27 Maret 2019 23:30 WIB
Editor: Matheus Elmerio Giovanni
© Internet
Game Online Dota 2 Copyright: © Internet
Game Online Dota 2

INDOSPORT.COM – Edi Santoso selaku akademisi dari Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) menganggap bahwa literasi media atau literasi game secara khusus sangat dibutuhkan dalam mengatasi kemungkinan adanya dampak negatif yang ditimbulkan dari “game online”.

Selain itu, keterlibatan seluruh pihak lembaga seperti keluarga, lingkungan, dan pemerintah sangat diperlukan agar bersama-sama kedepanya dapat mengatasi masalah ini.

"Untuk mengatasi adanya kemungkinan dampak negatif game online, perlu keberdayaan personal dan keberdayaan institusional. Keberdayaan personal, berarti literasi media, atau literasi game secara khusus," kata Edi di Purwokerto, pada Rabu (27/03/19).

"Game seringkali dimainkan di rumah. Maka, idealnya setiap rumah punya regulasi bagi anggotanya dalam soal game, misalnya soal jenis game dan waktu main," sambungnya.

Dosen Magister Ilmu Komunikasi Unsoed tersebut menjelaskan bahwa aspek literasi yang dimaksud antara lain adalah pemahaman game sebagai realitas industri dan sebagai realitas virtual.

Sedangkan pemahaman mengenai game online juga tentunya perlu ditingkatkan lagi supaya para gamers mengetahui segala macam dampak yang bisa ditimbulkan.

© WallpaperCave
Cabang olahraga yang ada dalam game PUBG Copyright: WallpaperCaveCabang olahraga yang ada dalam game PUBG

"Bahwa ada kepentingan kapitalis di dalamnya, dan game sebagai realitas virtual, bukan realitas faktual. Maka gamer harus tahu etika main game. Mulai dari ketepatan memilih jenis game, sesuai aturan umur, sampai ketentuan durasi main," pungkasnya.

Edi juga menambahkan bahwa pihak Sekolah bisa mendukung dengan memberi edukasi soal etika bermain dan literasi bisa ditingkatkan melalui sekolah.

Sementara dukungan moral yang diberikan agamawan juga dinilai strategis dalam mengendalikan dampak yang ditimbulkan dari game itu sendiri.

"Lingkungan artinya semua pihak harus mendukung. Misalnya, petugas rental harus menegur anak yang main game yang tak sesuai umur. Warga juga biar menegur jika melihat anak main game secara tidak wajar,”

"Terlebih lagi jika ditambah adanya aturan atau regulasi dari pemerintah, mengingat game sudah menjadi budaya masyarakat. Harus ada pengaturan," katanya.

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Zaitun Rasmin mengatakan MUI sedang mengkaji usulan masyarakat terkait fatwa game Player Unknown's Battlegrounds (PUBG) yang dianggap haram.

"Kami akan kaji dulu. Masukan dari masyarakat ini sangat penting bagi MUI tentang game," ucap Zaitun.

Berdasarkan Permen Kominfo  Nomor 11 Tahun 2016. Dalam pasal 8 beleid tersebut, PUBG memang masuk pada klasifikasi gim yang menunjukkan tindakan kekerasan dan hanya boleh dimainkan oleh pemain berusia 18 tahun ke atas.

Penulis: Risto Risanto

Terus Ikuti Berita Olahraga eSports Lainnya Hanya di INDOSPORT

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%