CLS Ingin Sapu Bersih
Performa CLS Knights Surabaya saat Seri I NBL 2013-2014 bak yoyo yang naik turun. CLS sempat melibas tim kuat, Satria Muda Britama, namun harus mengakui keunggulan tim medioker Hangtuah Sumsel IM.
CLS pun berambisi menebus cacat itu dengan menginginkan sapu bersih kemenangan dalam seluruh laga Seri II NBL 2013-2014 di Jakarta, 11-19 Januari 2014. Target itu realistis karena CLS menilai tak sau lawan adalah favorit juara.
Lawan-lawan CLS di seri II adalah Satya Wacana Metro LBC Bandung, NSH GMC Jakarta, Bimasakti Nikko Steel Malang, Pacific Caesar Surabaya, dan JNE BSC Bandung Utama. "Kami harus bisa ambil semua," kata Andre Yuwadi di laman NBL, Kamis (09/01/14).
Lawan terberat CLS di atas kertas adalah Satya Wacana. Tim dari Bandung itu makin kuat setelah mendapatkan tenaga tambahan dari tim nasional basket Indonesia, Respati Ragil dan Kaleb Ramot.
"Mereka adalah kuda hitam yang bisa menyulitkan. Kami tak boleh lengah dan meremehkan," kata Andre yang juga berstatus sebagai asisten pelatih CLS.
Problem utama CLS adalah rebound. Total raihan rebound mereka sangat rendah. Sepanjang seri perdana mereka hanya membukukan 198 rebound dari enam pertandingan, atau rerata 33 per laga.
Angka itu sangat rendah jika mengacu dari pencapaian rebound tim-tim lima besar. "Karena itu, fokus kami menghadapi seri II adalah membenahi rebound," tegas Andre Yuwadi.
Kekuatan CLS akan bertambah seiring dengan kembalinya shooting guard Rachmad Febri Utomo dari timnas. Febri mulai bergabung beberapa hari sebelum Tahun Baru 2014.
Febri hanya punya waktu dua pekan untuk beradaptasi dan membangun chemistry. "Kami tidak perlu banyak adjustment dengan adanya Febri. Sistem, tak ada perubahan. Yang penting mengembalikan kekompakan tim," beber Andre.
Di bagian lain, bintang baru CLS, Mario Wuysang, mengungkapkan dirinya makin paham sistem permainan CLS. Dia sempat kesulitan menerapkan sistem CLS itu pada seri pertama.
"Saya belum sampai sebulan berlatih sudah ikut di seri I. Of course belum kompak. Sekarang saya lebih memahami," kata pebasket yang besar di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, itu.
Seri II NBL 2013-2014 terhitung istimewa bagi Roe, sapaan Mario Wuysang. Di kancah basket profesional Indonesia, namanya identik dengan Aspac. Beberapa kali Roe dan Aspac bekerja sama meebut Juara NBL.
Di klasemen sementara Speedy NBL Indonesia, CLS berada di peringkat keempat. Mereka membukukan 10 poin, dari empat kali menang dan dua kali kalah masing-masing dari Hangtuah dan Pelita Jaya Energi-MP.