x

SK PSSI Dicabut, Futsal Bakal Kalahkan Sepakbola, Mampukah?

Kamis, 12 Mei 2016 15:00 WIB
Penulis: Petrus Manus Da' Yerimon | Editor: Galih Prasetyo

Kisruh PSSI dan pemerintah membuat FIFA menjatuhkan sanksi kepada sepakbola tanah air. Efeknya terlalu banyak dan merugikan semua pihak. 

Salah satu pihak yang dirugikan ialah Federasi Futsal Indonesia (FFI) yang berada di bawah payung PSSI. Timnas futsal dan klub futsal dipastikan tidak bisa menjalani pertandingan internasional.

Meski demkian FFI dan liga futsal profesionalnya tetap berjalan normal berbeda dengan kondisi PSSI berserta Indonesian Super League (ISL). 

Banyak sisi positif yang dapat diambil dari keberlangsungan liga futsal nasional tersebut, meski tidak menutup kemungkinan ada beberapa celah yang mesti ditambal agar lebih baik ke depannya.

Dengan dicabutnya pembekuan PSSI dan peluang dihapusnya sanksi FIFA, liga futsal maupun timnas futsal pun berkesempatan untuk unjuk gigi dan mengibarkan bendera Merah Putih di pentas dunia. Hal itu bisa saja terjadi mengingat ranking Timnas futsal Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Timnas sepakbola.

Timnas futsal saat ini berada di ranking 49 dunia, sementara Timnas sepakbola jauh terperosok di posisi 185 (per 05 Mei 2016), terpaut 10 peringkat dari Timor Leste yang notabene negera pecahan Indonesia.

Terkait hal diatas INDOSPORT pun mencoba menggali dan menyajikan plus minus cabang olahraga futsal di Indonesia :


1. Federasi dan Liga Profesional

Federasi Futsal Indonesia

Di Indonesia induk cabang olahraga futsal sendiri dikenal dengan Federasi Futsal Indonesia (FFI) dan merupakan badan resmi yang berada di bawah naungan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Awalnya futsal tergabung di Asosiasi Futsal Indonesia (AFI) yang terbentuk pada 22 Juni 2014 dan kemudian mengalami perubahan nama dan statuta saat Kongres AFI pada 20 November 2015.

AFI sendiri sebenarnya dibentuk karena pembubaran Badan Futsal Nasional (BFN) oleh PSSI pada 25 Januari 2015. BFN awalnya adalah induk resmi futsal yang dibentuk PSSI yang menangani olahraga ini sejak berkembang di Indonesia, termasuk menangani liga pro yang saat itu bernama Indonesia Futsal League sejak 2006-2013.

Kini FFI mengambil alih dan mulai menyelenggarakan liga futsal sejak 2015, baik putra maupun putri yang saat itu bernama Futsal Super League (FSL) dan musim ini menjadi Pro Futsal League (PFL). 

Selain itu FFI juga menangani timnas futsal, baik putra maupun putri. FFI sendiri memiliki perwakilan disetiap provinsi yakni Asosiasi Futsal Provinsi (AFP), dan di Kota dengan nama Asosiasi Futsal Kota (AFK).


2. Target dan Mimpi Besar

Ketua Umum FFI, Hary Tanoesoedibjo (HT) serius mengembangkan olahraga futsal di Tanah Air. Meski futsal terkena dampak sanksi FIFA, pembinaan futsal Indonesia tidak diam di tempat. FFI terus menggenjot kompetisi futsal baik tingkat lokal maupun nasional. 

“Saya ingin melihat futsal maju. Salah satunya bagaimana futsal bisa memiliki prestasi, bisa membawa nama harum Indonesia,” ujar HT seperti dilansir dari Sindonews.com

Sebelum terkena imbas sanksi FIFA, pihak FFI telah menargetkan Timnas futsal Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia Futsal 2016 ini. Hal itu kemudian membuat FFI memilih fokus di tahun 2020 mendatang.

“Meski begitu (sanksi FIFA sehingga tidak bisa berkompetisi di manca negara), kita tetap bangun persiapan. Tidak bisa ikut Piala Dunia tahun ini, mungkin tahun 2020. Mudah-mudahan masalah PSSI bisa berakhir,” harap HT.

FFI juga berkeinginan agar liga futsal di Tanah Air menjadi sebuah industri layaknya sepakbola yang bisa menghasilkan ratusan bahkan miliaran rupiah yang mampu mesejahterahkan para pelaku di dalamnya.

“Sasarannya kita ingin futsal itu menjadi sebuah industry seperti yang diungkapkan Ketua Umum. Nah, sekarang ini kita lagi mendorong untuk mewujutkan hal itu,” tutur Sekretaris Jenderal FFI, Edi Prasetyo kepada INDOSPORT.


3. Liga Futsal Tetap Eksis

Pemain Simpatisan United Kabupaten Tangerang mencoba mengelabui kiper Simpatisan United Bogor.

Pembekuan PSSI dan sanksi FIFA di 2015 membuat peluang Timnas sepakbola maupun Timnas futsal untuk berlaga di kejuaraan internasional pun tertutup rapat. Sepakbola Indonesia seakan mati suri.

Kompetisi tertinggi di Tanah Air, Indonesian Super League (ISL), DIvisi Utama dan kasta di bawahnya kemudian tidak bergulir selama kurang lebih setahun. Akan tetapi, hal berbeda justru terjadi di futsal. Liga futsal berlangsung seperti biasa baik putra maupun putri.   

Hal ini karena FFI memang secara terpisah bertindak sebagai penyelenggara liga futsal sejak 2015, Futsal Super League (FSL) yang musim ini menjadi Pro Futsal League (PFL).

Menurut Ketua Umum FFI, Hary Tanoesoedibjo (HT), dengan adanya kompetisi akan memaksa para pemain terus berlatih, sehingga teknik bermain mereka semakin terasah. Selain itu, bisa membawa nama Indonesia di kancah internasional.

“Atlet kita perlu ditingkatkan percaya dirinya. Kalau tanding dengan asing, kadang-kadang grogi duluan. Makanya, kompetisi akan membuat mereka terlatih mentalnya dengan baik,” tuturnya.

“Saya ingin melihat futsal maju. Salah satunya bagaimana futsal bisa memiliki prestasi, bisa membawa nama harum Indonesia,” sambung HT

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Jenderal FFI, Edi Prasetyo yang mengatakan bahwa liga futsal memang tidak berhubungan dengan pihak PSSI, terkecuali timnas futsal.

“Kita berbeda dengan PSSI jadi program kita tetap berjalan seperti biasa. Kita memang ingin kompetisi berjalan sebanyak mungkin, dan Pak Ketua juga ingin pola pembinaannya berjalan terus. Tapi memang untuk timnasnya tidak bisa ikut kejuaraan internasional karena masih ada sanski itu (FIFA),” ujarnya saat dihubungi INDOSPORT.  

Tidak adanya kompetisi ISL beberapa waktu lalu, membuat sejumlah nama pesepakbola kemudian tertarik dan mencoba peruntungannya di liga futsal. 

Nama beken seperti Titus Bonai juga sempat mencicipi liga futsal Tanah Air. Mantan pemain Sriwijaya ini bergabung bersama tim asal Papua, Black Steel. Selain itu mantan pemain Persebaya 1927, Rendy Irwan pun membela Bintang Surabaya bersama eks Persegres, Mulham Arifin.


4. Memasyarakatkan Futsal

Futsal notabenenya saat ini belum begitu populer dibanding dengan sepakbola. Karenanya untuk lebih mendekatkan serta mempopulerkan dan meningkatkan animo masyarakat terhadap futsal, pihak FFI melakukan terobosan dengan menyiarkan pertandingan liga futsal nasional melalui media yang dipimpin Ketua Umum FFI Hary Tanoesoedibjo (HT).    

“Tujuannya untuk memberikan motivasi kepada pemain. Masyarakat yang tadinya tidak tertarik, bisa tertarik. Tapi, kita harus membangun bersama-sama bagaimana futsal bisa menjadi industri,” ungkap HT.

Sementara itu, strategi siaran langsung ini dinilai cukup efektif untuk mendekatkan futsal dengan masyarakat. Kemiripan futsal dengan sepakbola menjadi nilai tambah untuk mengenalkan olahraga ini.  

“Pak Hary selaku ketua umum ingin mendistribusikan siaran langsung ke seluruh Indonesia. Karenakan futsal ini kan memang basiknya dari sepakbola, jadi berpeluang besar,” tutur Edi Prasetyo selaku Sekretaris Jenderal FFI kepada INDOSPORT.


5. Nilai Lebih Liga Futsal di Tanah Air

Jika liga sepakbola Indonesia sempat terpuruk, hal berbeda justru dialami cabang olahraga futsal. Liga futsal tetap berjalan dan bahkan ada kompetisi untuk tim putri, lain halnya dengan sepakbola yang memang lebih fokus pada kategori putra.

Hal ini pula yang membuat beberapa pemain sepakbola sempat tergoda untuk berkarier dan mencari nafkah di cabang olahraga futsal.  Perkembangan olahraga ini juga dinilai sudah berjalan baik dan cukup dikenal luas masyarakat berkat adanya pemberitaan media.

“Perkembangan futsal di Indonesia sejauh ini sudah berjalan bagus. Setelah kami mengikuti 2 musim liga futsal. Sangat membanggakan futsal bisa lebih dikenal masyarakat umum karena disiarkan di tv dan diberitakan media,” ujar pelatih futsal putri UPI Antam, Asep Sumpena kepada INDOSPORT.

Sementara itu dari kualitas perangkat pertandingan liga futsal sendiri, FFI telah menetapkan agar semua pelatih minimal berlisensi 1 AFC. Hingga saat ini sudah tercatat 77 orang yang di level 1 AFC dan dua lainnya di level 2 AFC.

Keberlangsungan liga futsal juga bisa dibilang cukup sukses karena sampai saat ini tidak ada masalah dari tim peserta. Hal ini berbanding terbalik dengan kasta tertinggi sepakbola Indonesia yang sempat carut marut dengan masalah pajak, gaji pemain maupun lisensi klub.

“Yang namanya kontrak itu urusan penerima dan pemberi kerja. Antara pemain dan klubnya. Nilainya berapa mereka sendiri yang tentukan, semakin mereka terbuka kita akan mendukungnya. Kita ingin mereka profesional, kalau ada yang salah kita tindak. Tapi sejauh ini tidak ada complain ataupun masalah,” tutur Edi Prasetyio selaku Sekjen FFI kepada INDOSPORT.


6. Pembenahan Liga Futsal

Meski terbilang cukup sukses menggelar liga futsal nasional, FFI diharapkan lebih memperhatikan dan memperbanyak event futsal untuk kategori wanita. Hal itu dinilai karena ada banyak pemain potensial yang kurang terekspos karena minimnya kejuaraan.

“FFI sejauh ini sudah cukup bagus buat menjalankan liga putra dan putri. Akan tetapi, kalau bisa sarannya banyak-banyakin event futsal putri, mungkin banyak pemain putrinya cuman karena jarangnya event jadi mereka kurang terekspos,” tutur Fitri Rosdiana, pemain futsal putri UPI Antam kepada INDOSPORT.

Disisi lain, usaha membangkitkan eoforia masyarakat untuk menyaksikan pertandingan futsal disebut menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi FFI.

“Animo masyarakat akan futsal itu berbeda dengan sepakbola meskipun futsal sendiri cabang olahraga turunan. Sepakbola itu ibarat olahraga bawaan orok sudah sangat kental dimasyarakat,” ujar salah satu pengamat olahraga Tanah Air, Anton Sanjoyo kepada INDOSPORT.             

Sementara itu pengaturan jadwal dan penentuan venue pertandingan serta komunikasi juga dinilai harus lebih ditingkatkan demi mendukung kesuksesaan liga. Hal ini didasarkan pada mundurnya jadwal pekan ketujuh Pro Futsal League (PFL) 2016 Wilayah Barat beberapa waktu lalu.

"Kalau saya menilainya sesuatu hal yang kurang kordinasinya di internal Federasi Futsal Indonesia. Karena jadwal yang dari awal sudah disusun bisa-bisanya diundur dengan adanya event dari cabor lain," ungkap Mario Silitonga, asisten pelatih Elektric PLN seperti dilansir dari Bolalob.

Pekan ketujuh PFL sendiri awalnya akan diadakan pada akhir pekan lalu 30 April dan 1 Mei, tapi karena venue GOR C-Tra Bandung digunakan cabang olahraga lain maka tanggal pelaksanaan diundur ke 7 dan 8 Mei.

“Saran untuk FFI penyelenggaraan liganya lebih baik lagi terutama panitia lokal, harus sudah dipersiapkan dan direncanakan lebi awal. Regulasi yang diterapkan dan pelaksanaanya  juga harus sinkron. Kalau bisa disesuaikan dengan kalender futsal internasional,” tambah Asep Sumpena, pelatih futsal putri UPI Antam kepada INDOSPORT.


7. Menanti Geliat Futsal Pasca Pencabutan Pembekuan PSSI

Angin segar akhirnya menerpa kancah pesepakbolaan Tanah Aiqr. Pemerintah melalui Kemenpora resmi mencabut pembekuan PSSI. Hal ini berarti kesempatan ada secercah harapan bagi klub maupun timnas untuk bisa berlaga di kancah Internasional apabila sanksi FIFA juga hapuskan.

Jika sanksi FIFA benar-benar dicabut, bukan hanya PSSI dan sepakbola yang menemukan kebebasan. Cabang olahraga futsal juga turut merasakan hal itu, lantaran Federasi Futsal Indonesia berada di bawah naungan PSSI. Artinya timnas futsal dan klub futsal bisa ikut berkompetisi di level dunia.

"Harapan kita, masalah ini segera berakhir (PSSI). Akibat masalah ini futsal juga ikut terkena. Kita tidak bisa mengikuti kompetisi di luar negeri. Jadi tolonglah segera diselesaikan dengan baik supaya olahraga ataupun futsal bisa aktif tentunya tidak hanya pertandingan persahabatan di luar negeri tapi juga pertandingan sesungguhnya kompetisi Internasional," ujar Ketua Umum FFI, Hary Tanoesoejibdo beberapa waktu lalu.

Dicabutnya pembekuan PSSI tersebut juga disambut baik pelaku olahraga futsal, Asep Sumpena, yang merupakan pelatih tim UPI Antam, juara liga futsal wanita musim lalu.

“Mudah-mudahan futsal Indonesia lebih maju lagi setelah pembekuan PSSI oleh pemerintah dicabut dan bergerak cepat untuk membenahi futsal Tanah Air,” ujarnya kepada INDOSPORT.

Posisi Timnas futsal Indonesia saat ini memang jauh lebih bagus dibandingkan Timnas sepakbola. Futsal di peringkat 49 dunia sementara sepakbola di posisi 185, yang bahkan dibawah negara tetangga Timor Leste.

Sementara itu, pihak FFI juga pernah mencanangkan akan mendatangkan pelatih asing berkualitas serta mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia futsal pada 2020 mendatang apabila sanksi FIFA benar-benar dicabut.

Menarik ditunggu apakah futsal lebih mapan dan mampu mengibarkan Merah Putih di dunia Internasional atau sebaliknya sepakbola yang bakal berjaya terlebih dahulu.

FutsalTimnas Futsal IndonesiaCritic Sport

Berita Terkini