x

Sisi Hitam Kota Penyelenggara Olimpiade 2016: Antara Limbah dan Aksi Gangster

Rabu, 3 Agustus 2016 15:17 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Rio de Janiero ialah kota terpadat kedua yang ada di Brasil dan terpadat ketujuh di benua Amerika. Penduduk kota ini juga yang terpadat ketiga di Brasil, oleh badan PBB, UNESCO, Rio de Janiero sempat mendapat pengakuan sebagai salah satu kota warisan dunia pada 2012 lalu. 

Hal itu karena kota ini dikenal dengan landscape budayanya yang sangat indah. Didirikan pada 1565, kota Rio de Janiero pada awalnya merupakan salah kota ibu kota kekaisaran Portuguis, baru pada 1763, kota ini menjadi bagian dari kota di Brasil. 

Kekinian, kota ini berkembang menjadi salah satu kota industri dan memiliki pendapat bersih kedua diantara kota-kota di Brasil. Kota ini bahkan menjadi kantor pusat dua perusahaan besar dunia, Petrobas dan Grupo Globo, salah satu perusahaan media terbesar di kawasan Amerika Selatan. 

Yang juga membuat kota ini dikenal banyak orang di dunia ialah karena kota ini tiap tahunnya selalu diselenggarakan karnaval terbesar dan terheboh di dunia, karnaval Rio de Janiero. 

Selain itu, kota ini juga dikenal seantero jagat karena keindahan pantainya. Salah satu pantai yang cukup banyak jadi pembicaraan banyak orang ialah pantai Copacabana. Untuk keindahan dan daya tarik wisata Rio, INDOSPORT akan menyajikannya di edisi berikutnya. 

Saat ini, INDOSPORT tertarik untuk membahas terkait sisi gelap dari kota Rio de Janiero. Hal ini mengingat makin meningkatnya aksi kriminalitas jelang pembukaan Olimpiade. Bahkan teranyar, salah satu aparat keamanan Olimpiade seperti dilansir Daily Mail ditangkap karena diduga melakukan aksi pemerkosaan. 

Selain aksi kriminal tersebut, kota ini juga memiliki sisi kelam terkait polusi. Menjamurnya industri-industri besar di kota ini berdampak buruk pada lingkungan. Laporan dari The Sun, Daily Mail serta media lokal Brasil memperlihatkan bagaiamana limbah jadi hal yang sangat buruk di Rio de Janiero. 

Berikut ulasan soal sisi hitam Rio de Janiero, antara limbah dan aksi kriminal penjahat kota untuk pembaca setia INDOSPORT: 


1. Aksi penculikan dan penjambretan meningkat tajam

Adriano, eks penyerang timnas Brasil yang bergabung dengan geng kriminal.

Seperti dilansir dari The Wall Street Journal berdasar laporan dari Rio de Janiero Institute of Public Security, aksi penculikan dan penjambretan di kota ini pada 2014 melonjak tajam. 

Untuk kasus penculikan, jika pada 2013, di Rio de Janiero terjadi hampir 10ribu kasus penculikan maka pada 2014 melonjak menjadi 11,747 kasus penculikan. Hal sama juga terjadi untuk kasus penjambretan, pada 2014 tercatat terjadi 40ribu kasus penjambretan, melonjak hampir 100 persen lebih di 2013. 

Kasus-kasus kriminal tersebut seperti laporan dari osac.gov biasanya menimpa turis asing dan terjadi di waktu malam hari. Untuk pelaku terindentifikasi berasal dari geng-geng kriminal yang terorganisir. 

Untuk solusi, pemerintah setempat Rio pada 2016 jelang Olimpiade sebenarnya sudah berupaya menekan aksi kriminal. Salah satu solusi jangka pendek yang mereka terapkan ialah dengan meluncurkan program Favela pacification program. Ini merupakan program menangguhan kejahatan dengan memaksimalkan peran serta masyarkat setempat. 

Selain itu, pemerintah kota Rio juga menyarankan untuk para turis atau kontingen negara peserta Rio untuk tidak berpergian ke daerah-daerah perbatasan kota Rio seperti kawasan Foz de Iguazi, ini merupakan salah satu kawasan paling berbahaya di Rio de Janiero. 

Untuk mencegah terjadinya aksi kejahatan berikut nomor hotline aparat keamaan lokal Rio de Janiero yang bisa dihubungi: 

Polisi Militer wilayah Ipanema: (21) 2332-2074 (24 jam)
Polisi Militer wilayah Lagoa: (21) (21) 2332-2912 (24 jam)
Polisi Militer wilayah Copacabana: (21) 2332-7913 / 14 (24 jam)
Polisi Militer wilayah Flamenco: (21) 2334-3972 / 4126 (24 jam)
Polisi Militer wilayah Leblon: (21) 2332-2877 / 2866 (24 jam)
Polisi Militer Nomor Darurat: 190 (24 jam)
Polisi : (21) 3399-7170
Polisi khusus turis : (21) 2332-2924
Pemadam Kebakaran: 190 atau 193
Ambulan: 192

Bahkan laporan dari numbeo.com menyebutkan bahwa Rio de Janiero memiliki level kriminal yang sangat membahayakan. Jika diukur, level kriminal di Rio de Janiero mencapai angka 90,27 persen. 

Teranyar, eks pesepakbola timnas Brasil yang pernah membela Inter Milan dan AS Roma, Adriano bahkan dikabarkan bergabung dengan geng kriminal. 


2. Limbah berbahaya

Hal yang juga paling mengkhawatirkan di Rio de Janiero ialah soal limbah pabrik dan sampah. Seperti laporan rioonwatch.org, Rio de Janiero menghasilkan sampah mencapai 10ribu ton tiap harinya. 

Bahkan permasalahan limbah di Rio de Janiero sudah jadi masalah klasik yang bertahan hampir 20 tahun lamanya dan belum ada solusi konkrit untuk menyelesaikannya. 

Salah satu lokasi di Rio de Janiero yang jadi sorotan terkait limbah ini ialah pantai Guanabara yang disebut banyak kalangan sebagai 'jamban raksasa'. 

Voa juga melaporkan bahwa pencemaran limbah berakibat pada polusi air di Rio de Janiero berada di level merah. Bahkan pantai Guanabara yang jadi salah satu venue untuk olahraga air dipenuhi oleh kotoran manusia bercampur dengan limbah rumah tangga dan industri. 

Investigasi dari kantor berita Associated Press menemukan virus dan bakteri dengan tingkat yang berbahaya dari saluran pembuangan di tempat-tempat para atlet akan berkompetisi dalam cabang-cabang olahraga air pada Olimpiade dan Paralimpik 2016.

Dalam pengujian independen pertama untuk virus dan bakteri di lokasi penyelenggaraan Olimpiade, AP melakukan empat putaran pengujian mulai bulan Maret. Hasilnya mengejutkan ahli-ahli internasional dan mencemaskan para atlet yang berlatih di Rio, beberapa diantaranya telah jatuh sakit disertai demam, muntah dan diare.

Salah satu korban yang polusi air di Rio de Janiero ialah atlet layar, David Hussl. Hussl yang merupakan atlet layar dari Jerman dilaporkan menderita sakit. 

"Saya menderita panas tinggi dan perut bermasalah usai berlatih di sekitaran pantai Guanabara," kata Hussl seperti dilansir dari VOA. 


3. Peran Pemerintah Kota

Brazil, Carnival in Rio de Janeiro

Meski didera banyak isu tak sedap terkait kesiapan Rio de Janiero dari sisi kriminalitas dan lingkungan, pemerintah kota setempat sebenarnya sudah berupaya mencari solusi konkrit. 

Untuk kasus kriminalitas misalnya, laporan dari Forbes menyebut bahwa meski dikenal dengan tingkat kriminalitas tinggi, Rio de Janiero sebenarnya lebih baik jika dibandingkan dengan kota St Louis yang pernah jadi tuan rumah Olimpiade 1904 ataupun Detroit yang rencananya jadi tuan rumah Olimpiade 2024. 

"Patroli polisi dan masyarakat dengan Favela pacification program membantu cukup banyak. Untuk tingkat kriminalitas ini, pemerintah kota juga sudah menyediakan cukup banyak lapangan pekerjaan," tulis laporan Forbes

Sedangkan untuk penanggulangan dari bahaya limbah, pemerintah kota mulai mengoptimalkan sistem daur ulang sampah. Sejumlah perusahaan diminta untuk mengeluarkan program  Corporate Social Responsibility (CSR) daur ulang sampah. 

Program konkritnya, pemerintah kota Brasil menerapkan siste, 'Catadores' yakni mengajak peran serta masyarakat umum untuk berjalan di sekitaran kota dan mengumpulkan sampah untuk diberikan ke bank sampah. 

Program ini juga membantu banyak masyarakat umum untuk mendapat lapangan pekerjaan baru yang artinya tingkat kriminalitas pun ditekan ke titik terendah. 

OlimpiadeOlimpiade 2016Olimpiade Rio de JaneiroIn Depth Sports

Berita Terkini