Duel Koboy, Tembak Burung hingga Pamer Bakat Seni Pernah Dimainkan di Olimpiade
Sejumlah cabang olahraga kuno yang kini tak pernah lagi ada beritanya ternyata pernah dipertandingkan di ajang olimpiade. Ajang olimpiade bahkan pernah menjadi tempat dipertandingkannya karya dari para seniman.
Seiring berjalannya waktu dan International Olympic Committee (IOC) sebagai organisasi resmi olimpiade mulai mempertandingkan olahraga yang modern, maka sejumlah olahraga kuno pun mulai tidak lagi dipertandingkan.
Dari sekian banyak olahraga kuno yang ada di olimpide, ada tiga cabang pertandingan yang cukup unik untuk dibahas yakni cabang adu tembak, tembak burung, dan cabang seni. Tiga cabang ini pernah dipertandingkan di olimpiade era 1910-1940-an.
Berikut kisah duel adu tembak antar manusia, tembak merpati dan ajang pamer bakat seni yang pernah dipertandingkan pada event olimpiade untuk pembaca setia INDOSPORT:
1. Adu tembak
Pada ajang olimpiade 1912 yang berlangsung di Paris, Prancis, terdapat cabang menembak yang jadi salah satu olahraga yang dipertandingkan.
Layaknya para koboy di zaman wild west, sejumlah negara mengirim atletnya di cabang ini. Ajang adu tembak ini bukan seperti cabang olahraga menembak seperti pada olimpiade saat ini.
Untuk senjata yang digunakan seperti dilansir dari topendsports.com di ajang ini ialah senjata dengan kaliber 7,5mm sampai 12mm dengan panjang maksimal larasnya 30cm.
Ajang adu tembak di era olimpiade 1912 ialah dua atlet dari dua negara saling menembak satu sama lain. Terdapat beberapa nomor dari ajang adu tembak ini yakni nomor 50 meter, nomor 300 meter, nomor 600 meter serta ada nomor 50 meter untuk tim dengan menggunakan senjata militer.
Pada olimpiade 1912, medali emas sukses diraih oleh Alfred Lane dari Amerika Serikat sementara perak didapat oleh Paul Palen dari Swedia sedangkan perunggu direbut rekan senegara Palen, Johan Hubner.
Menariknya seperti dilansir dari Time, jauh sebelum olimpiade 1912 di Paris, ajang adu tembak pernah juga dipertandingkan pada olimpiade Athena 1906. Meski pada ajang ini, ajang adu tembak masih masuk dalam kategori olahraga tak resmi. Selain itu, pada ajang Olimpiade New York 1908 ajang adu tembak juga dimainkan di Carnegie Hall, New York.
Tiap peserta di cabang ini akan menggunakan pelindung tubuh yang sangat tebal serta wajah mereka ditutupi topeng dengan plat kaca. Menariknya, meski tidak pernah memakan korban jiwa, cabang ini tidak lagi dipertandingkan.
Namun pada Olimpiade Sydney 2000 sebuah jejak pendapat mengungkapkan bahwa mayoritas pecinta olimpiade meminta agar ajang adu tembak kembali dipertandingkan.
2. Tembak merpati
Bagi kalangan masyarakat Inggris sudah sangat tidak asing dengan kebiasaan orang-orang kerajaan Inggris yang senang dengan olahraga berburu bebek atau burung merpati. Mayoritas keluarga kerajaan Inggris memang dikenal selalu melakukan rutinitas tersebut pada zaman dulu.
Menariknya, olahraga khas keluarga kerajaan Inggris ini ternyata pernah jadi salah satu cabang yang dipertandingkan pada event olimpiade, tepatnya pada olimpiade 1900.
Seperti dilansir dari topendsports.com, peraih medali emas di nomor ini ialah mereka yang paling banyak membunuh merpati . Seiring berjalannya waktu, olahraga ini mendapat banyak kritikan karena membunuh banyak merpati yang masih hidup, sejumlah orang menganggap olahraga ini sangat kental nuasa aristokrat-nya.
Peraturan pada cabang ini ialah akan ada sejumlah merpati yang akan diterbangkan pada jarak 27 meter di depan peserta, para peserta tinggal menembak sebanyak mungkin merpati yang terbang.
Pada olimpiade 1900, atlet asal Belgia sukses meraih medali setelah menewaskan 21 merpati disusul oleh Maurice Faure yang menewaskan 20 merpati dan diurutan ketiga ada Donald MacIntosh dari Australia yang menewaskan 18 merpati.
3. Pamer bakat seni
Selain olahraga, pada olimpiade ternyata pernah dipertandingkan ajang pamer bakat seni. Kompetisi seni mulai dipertandingkan pada ajang olimpiade 1912 hingga olimpiade 1948.
Kompetisi seni di olimpiade dipertandingkan terinspirasi dari usulan pendiri IOC, Pierre de Fredy serta Baron de Coubertin. Ada lima kategori di kompetisi seni pada ajang olimpiade yakni seni arsitektur, sastra, musik, lukisan dan patung.
Sejumlah maha karya seni kemudian dihasilkan dari ajang olimpiade, satu diantaranya ialah stadion Olimpiade, Jerman yang didesign oleh Jan Wils. Stadion itu sendiri kemudian jadi tempat untuk pegelaran olimpiade 1928 di Amsterdam.
Selain arsitek, di kompetisi seni yang dipertandingkan pada olimpiade juga menghasilkan karya lain seperti karya lukis pertandingan rugby yang dibuat oleh pelukis Jean Jacoby. Yang menarik ialah sosok dari Alfred Hajos asal Hungaria, ia sukses meraih medali perak pada cabang renang di Olimpiade Athena 1896 dan kemudian meraih medali perak dari kompetisi seni cabang arsitektur, 28 tahun kemudian.
Pada 1948, kompetisi seni tidak lagi dipertandingkan pada olimpiade. Sejumlah seniman menganggap bahwa mereka ialah kelas profesional sedangkan atlet yang bertanding di olimpiade masuk dalam kelas amatir.