x

3 Fakta Miris Indonesia Tuan Rumah Asian Games 1962, Hiperinflasi Hingga 'Ganyang Malaysia'

Selasa, 7 Agustus 2018 14:51 WIB
Editor: Matheus Elmerio Giovanni
Tiga fakti miris Indonesia Asian Games 2018.

INDOSPORT.COM - Seperti yang sudah semua orang ketahui, Indonesia akan segera menyelenggarakan Asian Games 2018, yang merupakan kali kedua setelah pertama kali pada Asian Games 1962 silam.

Asian Games 2018 kali ini akan diselenggarakan di dua kota, yaitu Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Palembang. Di mana kedua pemerintahan kota tersebut sudah menegaskan persiapan Asian Games 2018 sudah 100% selesai.

Diselenggarakan di dua kota besar, tentunya persiapan Asian Games 2018 kali ini lebih ringan dibanding Asian Games 1962 yang hanya bertempat di Jakarta saja. 

Baca Juga

Apalagi, Asian Games ke-4 yang diselenggarakan di Indonesia kala itu, langsung berada di bawah komando Presiden Republik Indonesia, Sukarno. Tidak banyak yang tahu, bahwa di tengah persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, kondisi negara kita sangatlah berbeda ketimbang saat ini.

Ada beberapa fakta miris yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia, yang saat itu memang baru saja merdeka selama 15 tahun. Berikut INDOSPORT coba rangkum sebanyak 3 fakta miris Indonesia saat jadi tuan rumah Asian Games 1962.


1. Hiperinflasi

Ilustrasi Inflasi Perekonomian Indonesia saat Asian Games 1962

Hiperinflasi besar-besaran pernah dialami oleh Indonesia, sebagai buntut dari sikap berani Sukarno mencalonkan negara sebagai tuan rumah event olahraga terbesar se-Asia pada tahun 1962 silam.

Menurut data yang dilampirkan oleh Indonesia Investments, hiperinflasi yang terjadi selama kurang lebih 4 tahun (1962-1965) ini dikarenakan pemerintah dengan mudahnya mencetak uang untuk membayar utang.

Utang tersebut muncul untuk mendanai berbagai proyek megah (Monas, Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia dan Jembatan Semanggi) untuk persiapan sebagai tuan rumah Asian Games 1962, salah satunya adalah pinjaman besar dari Uni Soviet pada 1959 silam.

Dalam kurun waktu 1962-1965, Indonesia juga mengalami penurunan per kapita secara signifikan. Presentase per kapita Indonesia, khususnya pada 1962 sangatlah miris, yaitu minus 3%.


2. Kasus Suap Timnas Indonesia

Ilustrasi Pengaturan skor.

Di Asian Games 1962, sepak bola merupakan satu dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sepak bola menjadi olahraga paling menarik perhatian masyarakat selain juga bulutangkis dan atletik.

Bahkan, kala itu Presiden Soekarno sampai menargetkan sepak bola menggondol medali emas. Akan tetapi, alih-alih medali emas, Timnas Indonesia malah tersandung skandal suap terbesar di masanya.

Laga-laga uji coba persiapan Asian Games 1962 itulah skandal pengaturan skor, suap, dsb, terjadi. Di bulan Desember 1961, PSSI kedatangan lawan-lawan uji coba seperti Yugoslavia Selection, Malmoe FF (Swedia), dan Petrolul (Rumania). 

Hasilnya, timnas kalah 2-3 dari Yugoslavia Selection, kalah 0-2 dari Malmoe, dan kalah 3-4 dari Petrolul. Di awal bulan Januari 1962, PSSI kedatangan Thailand. Hasilnya, timnas Indonesia A menang 7-1 atas Thailand.

Di laga-laga inilah pengadilan berhasil membuktikan adanya pengaturan skor yang melibatkan 10 pemain Timnas. Buntut dari kasus suap terbesar di sejarah sepakbola Indonesia ini pun harus membuat KOGOR (KONI saat itu) mencoret 10 pemain yang terlibat dari pelatnas Asian Games 1962.


3. Politik Tidak Stabil

Sukarno (kanan) bersama dengan PM Uni Soviet, Nikita Kruschev melihat maket pembangunan stadion GBK.

Salah satu situasi tersulit yang dialami Indonesia jelang Asian Games 1962 tentunya adalah politik yang tidak stabil. Pasalnya, pemerintahan Sukarno pada kurun waktu 1957-1958 harus menghadapi pemberontakan di berbagai wilayah aset-aset Belanda.

Yang paling dekat sebelum Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, bukan lain adalah, konfrontasi yang terjadi antara Indonesia dengan negara tetangga, Malaysia yang bermula pada 1961.

Politik konfrontasi ini pun diduga oleh Indonesia Investments, membuat pemerintahan harus mengeluarkan cukup banyak dana untuk mempertahankan wilayah-wilayahnya dari Malaysia, yaitu Kalimantan.

Bahkan saat konfrontasi itu, Sukarno sampai mendeklarasikan perang dengan Malaysia dengan pidatonya yang terkenal, yaitu 'Ganyang Malaysia', yang diserukan ke seluruh pelosok negeri untuk menjaga kemerdekaan Indonesia.

Beberapa situasi politik yang telah dijelaskan, merupakan sebagian kecil dari situasi sulit yang dialami Indonesia saat itu. Namun, Sukarno dan Indonesia berhasil membuktikan bahwa mereka mampu dan sukses menjadi tuan rumah yang baik di Asian Games 1962.

Terus Ikuti Berita Sepak Bola dan Olahraga Lain Serta Serba-serbi Asian Games 2018 di INDOSPORT

IndonesiaAsian GamesAsian Games 2018Asian Games 1962Timnas IndonesiaSukarno

Berita Terkini