Dualisme Liga Jadi Sorotan
Pada Januari, terjadi dualisme liga di Tanah Air, Liga Primer Indonesia (LPI) Djohar Arifin dan Liga Super Indonesia (LSI)-nya La Nyalla M. Mattalitti, buntut dari keributan antara Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro.
Prestasi Timnas jadi imbas dari kekisruhan ini. Anak asuh Nil Maizar, pelatih Timnas saat itu, kalah telak 0-5 dari Yordania dalam laga ujicoba.
Kabut hitam terus menyelimuti sepakbola Tanah Air setelah pada kualifikasi Piala Asia 2015, Timnas yang hanya berisi pemain LPI kembali kalah dari Irak 0-1.
Presiden SBY resmi menunjuk Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, mengganti Andi Mallarangeng yang terjerat kasus.
Menteri yang sebelumnya terkenal sebagai pakar informasi dan teknologi langsung melakukan gebrakan. Dia menyatakan siap membubarkan salahsatu liga jika kekisruhan tak kunjung selesai.
Apalagi pada Februari peringkat Indonesia di daftar FIFA melorot. Merah-Putih ada di urutan ke-163 dari 207 anggota, merosot tujuh peringkat dari bulan sebelumnya.
Meski di bulan yang sama, Timnas U-18 Indonesia berhasil meraih emas dalam ajang International Youth Invitational di Hongkong.
Roy Suryo mencetuskan ide membentuk sebuah badan untuk meredam konflik PSSI dengan organisasi tandingannya, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) karena sanksi FIFA terus membayangi.
Sampai akhirnya masuk di Maret. Tepatnya pada 17 Maret 2013 kedua pihak yang berselisih melakukan islah di Hotel Borobudur, Jakarta, melakukan Kongres Luar Biasa (KLB).
Beberapa keputusan penting lahir di kongres, terutama unifikasi liga, menyatukan kembali dua kompetisi dalam satu naungan. KLB ini efektif melunakkan gengsi dua pihak.
Dunia bulutangkis menjadi pelipur olahraga nasional di awal tahun. Pada Maret, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi juara All England setelah mengalahkan pasangan Cina.
Kemenangan Tantowi/Liliyana ini merupakan hasil gemilang bagi bulutangkis Indonesia. Sebab, Negeri Tirai Bambu, Cina selalu mendominasi All England 3 tahun belakangan.
Indonesia sebelumnya juga berhasil bawa pulang satu gelar juara dari Malaysia Open Super Series dari ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.
Di April, PSSI yang tetap dalam komando Djohar Arifin sibuk mempersiapkan Timnas jelang Pra Piala Asia 2015, kemudian terbentuk Badan Tim Nasional (BTN).
Timbul masalah baru ketika BTN menunjuk Luis Manuel Blanco menjadi pelatih Timnas. Sejumlah pemain Timnas merasa tak cocok dengan pengasuhnya, sebagian pemain mangkir dari latihan.
Akhirnya Blanco, pelatih asal Argentina, keluar. PSSI lalu menunjuk duet Jacksen F Tiago dan Rahmad Darmawan sebagai pelatih sementara untuk persiapan Pra Piala Asia 2015 melawan Arab Saudi pada 14 Juni.