x

Benua Amerika Neraka Tim Eropa

Rabu, 25 Juni 2014 15:22 WIB
Penulis: Joko Sedayu | Editor: Raditya Adi Nugraha

Hingga saat ini, dari 19 edisi Piala Dunia terakhir, tujuh diantarannya diselenggarakan di benua Amerika. Dan dari tujuh kali penyelenggaraan itu pula tim-tim Eropa selalu kandas untuk merebut mahkota juara.

Selalu gagal jika bermain di benua Amerika, tim-tim Eropa mencari alasannya. Menurut penelitian, suhu tinggi dan udara lembap menjadi beberapa alasan mengapa tim-tim Eropa selalu berguguran di benua Amerika.

Terbiasa bermain dalam suhu rendah dan kelembapan yang rendah atau udara kering, menjadi alasan utama pemain-pemain dari tim Eropa kesulitan bermain di benua Amerika. Pada Piala Dunia Brasil 2014, cuaca di sana pada periode Juni dan Juli bisa mencapai 30 derajat celcius.

Padahal pada musim panas, rata-rata pemain-pemain Eropa sedang istirahat atau libur musim kompetisi. Mereka lebih sering bermain mulai Agustus hingga Mei, di mana cuaca di Eropa tidak pernah mencapai 20 derajat celcius.

Walhasil ketika Inggris, Spanyol, dan Italia datang ke Brasil, mereka bersusah payah untuk berdaptasi. Akibatnya Inggris dan Italia tidak berkutik menghadapi Kosta Rika dan Uruguay, sementara Spanyol takluk dari Chile. Adapun Bosnia-Herzegovina yang kalah dari Argentina dan Nigeria.

Dari tim-tim Eropa di atas, salah satu alasan mereka adalah bermain pada siang hari, tepatnya pada pukul 13.00 waktu setempat. Jelas, teriknya panas matahari membuat pemain-pemain Inggris, Italia, Spanyol, dan Bosnia-Herzegovina kehabisan tenaga.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, FIFA membuat peraturan waktu rehat untuk minum atau "cooling breaks". Namun peraturan tersebut akan diterapkan jika suhu di lapangan mencapai 32 derajat celcius.

Kini, tim-tim Eropa yang sudah pasti lolos ke babak 16 besar adalah Belanda, Yunani, Prancis, Jerman, dan Belgia. Sedangkan nasib Rusia, Portugal, dan Swiss ditentukan dalam pertandingan terakhir.

Pertanyaannya adalah, apakah tim-tim Eropa yang telah lolos mampu melewati hadangan Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Argentina? Tim dengan pemain-pemain yang sudah terbiasa dengan cuaca panas dan udara lembap.

Berikut adalah edisi Piala Dunia yang diselenggarakan di benua Amerika, di mana tim-tim Eropa belum pernah menjadi juara.


1. Piala Dunia Uruguay 1930

Pada Piala Dunia 1930, dari 13 peserta, tim-tim Eropa yang datang ke Uruguay adalah Belgia, Prancis, Rumania, dan Yugoslavia. Namun hanya Yugoslavia yang lolos dari fase grup.

Sayang langkah Yugoslavia langsung terhenti dari Uruguay dengan skor 1-6. Lalu Uruguay pun menjadi juara pada Piala Dunia pertama tersebut di Tanah Air mereka.

Sedangkan tim-tim Eropa lainnya tumbang di fase grup. Belgia menjadi juru kunci dengan dua kali kekalahan. Rumania mencatat satu kemenangan dan satu kali kekalahan. Dan Prancis mencatat dua kemenangan dan satu kekalahan.


2. Piala Dunia Brasil 1950

Pada Piala Dunia 1930, benua Eropa diwakili Swiss, Yugoslavia, Inggris, Spanyol, Swedia, Prancis, dan juara bertahan Italia. Sedangkan Jerman dilarang tampil karena Perang Dunia II.

Pada Piala Dunia kali ini tidak menerapkan babak sistem gugur. Namun menggunakan format round-robin. Jadi setelah fase grup pertama, juara grup disatukan dalam dan saling bertemu satu sama lain.

Tim yang lolos ke fase grup kedua adalah Uruguay, Brasil, Swedia, dan Spanyol. Sayang meskipun menempatkan dua wakil, Swedia dan Spanyol tidak berdaya menghadapi duo Amerika Latin, Uruguay dan Brasil. Uruguay menjadi juara grup sekaligus juara dunia dengan hasil dua kemenangan dan satu imbang.


3. Piala Dunia Chile 1962

Pada Piala Dunia 1962, mulai ada kemajuan dari tim-tim Eropa. Mungkin cuaca di Chile pada Mei dan Juni tidak sepanas di Uruguay dan Brasil, di mana pada bulan tersebut, rata-rata suhu tertinggi di Chile adalah antara 16 sampai 20 derajat celcius.

Di Chile Eropa diwakili oleh Bulgaria, Cekoslowakia, Inggris, Hungaria, Italia, Spanyol, Swiss, Uni Soviet, Jerman Barat, dan Yugoslavia.

Suhu dan kelembapan yang mendukung pada bulan Mei dan Juni di Chile ternyata memudahkan tim-tim Eropa. Tim Eropa yang lolos dari fase grup adalah Uni Soviet, Inggris, Jerman Barat, Cekoslovakia, Yugoslavia, dan Hungaria. Sedangkan benua Amerika hanya menyisakan Brasil dan Chile.

Tapi pada akhirnya, dua wakil benua Amerika lolos ke semifinal. Untungnya Brasil dan Chile saling berhadapan di semifinal, sehingga benua Eropa menempatkan satu wakil di final. Sayang Cekoslovakia tumbang 1-3 dari juara bertahan Brasil.


4. Piala Dunia Meksiko 1970

Piala Dunia di Meksiko kembali membuat tim-tim Eropa kewalahan. Memang suhu rata-rata siang hari di sana adalah 24 derajat celcius. Tapi pada suhu tertinggi bisa mencapai 32 derajat celcius.

Wakil Eropa di Meksiko adalah Inggris, Italia, Uni Soviet, Jerman Barat, Belgia, Bulgaria, Cekoslovakia, dan Swedia. Tapi hanya empat tim yang melaju ke babak sistem gugur, yakni Uni Soviet, Italia, Jerman Barat, dan Inggris.

Italia dan Jerman Barat lolos ke semifinal, tapi mereka harus saling bunuh pada babak tersebut. Italia lolos ke final sayang mereka dibantai Brasil di final 1-4.


5. Piala Dunia Argentina 1978

Pada Piala Dunia di Argentina, ada beberapa pertandingan yang dimainkan pada malam hari, yakni pukul 19.15 waktu setempat. Selain itu, cuaca di Argentina tidak sepanas di Brasil dan Meksiko, tapi hal itu tidak membantu tim-tim Eropa untuk menjadi juara.

Pertandingan Piala Dunia di Argentina lebih banyak dimainkan di ibu kota Buenos Aires, di mana suhu di sana pada Mei sampai Juni berkisar dari 15 sampai 19 derajat celcius. Tapi pada siang hari suhu di kota-kota Argentina yang menjadi tempat laga Piala Dunia, bisa mencapai 30 derajat celcius.

Di Argentina diwakili oleh Jerman Barat, Belanda, Italia, Swedia, Hungaria, Polandia, Skotlandia, Spanyol, Austria, dan Prancis. Dan yang lolos ke fase grup kedua adalah Jerman Barat, Belanda, Italia, Austria, dan Polandia.

Juara grup dari fase grup kedua langsung lolos ke final. Dan Belanda bertemu dengan Argentina. Namun tim tuan rumah yang diperkuat Mario Kempes mengalahkan tim Oranye 3-1. Namun selain faktor cuaca, suhu politik di Argentina yang saat itu sedang memanas karena pemerintah junta militer, juga memuluskan langkah tuan rumah menjadi juara untuk pertama kalinya.


6. Piala Dunia Meksiko 1986

Kembali ke Meksiko, kembali membuat tim-tim Eropa was-was. Apalagi mulai dari fase grup hingga ke final, pertandingan lebih sering dimainkan pada siang hari, tepatnya pada pukul 12.00 waktu setempat.

Tapi kali ini ada 14 tim Eropa yang datang ke Meksiko, yakni Italia, Jerman Barat, Polandia, Prancis, Inggris, Uni Soviet, Spanyol, Denmark, Belgia, Bulgaria, Hungaria, Irlandia Utara, Portugal, dan Skotlandia. Dan sembilan dari mereka lolos ke babak sistem gugur.

Pada babak 16 besar tim-tim Eropa berkuasa, bahkan pada babak perempatfinal, Prancis menyingkirkan Brasil dan Jerman Barat menendang tuan rumah Meksiko. Namun Inggris dan Belgia tidak bisa membendung Argentina. Dan di final Argentina menaklukan Jerman Barat 3-2.


7. Piala Dunia Amerika Serikat 1994

Amerika Serikat memang berada jauh di utara khatulistiwa, tapi ketika memasuki bulan Juni dan Juli, di sana sedang musim panas layaknya seperti di Eropa. Namun kelembapan di sana tidak jauh berbeda dengan di negara-negara Eropa, kecuali wilayah Orlando, Dallas, Pasadena, dan Stanford.

Suhu di empat wilayah tersebut pada bulan Juni dan Juli antar mulai 28 derajat sampai 32 derajat celcius. Bahkan pada siang tengah hari, tepatnya pukul 12.00 waktu setempat, bisa mencapai dari 38 sampai 43 derajat celcius.

Begitu pula dengan di Foxborough, Chicago atau di Washington, suhu di sana pada bulan Juni dan Juli cukup membuat banyak keluar keringat. Tapi hal itu tidak bisa menghalangi ketangguhan wakil Eropa.

Wakil Eropa di Piala Dunia 1994 adalah Jerman, Belgia, Italia, Bulgaria, Irlandia, Belanda, Rumania, Spanyol, Rusia, Yunani, Norwegia, Swedia dan Swiss. Dan hanya Norwegia, Yunani, dan Rusia yang gagal ke babak sistem gugur.

Namun, meskipun tim-tim Eropa merajai sistem gugur, Brasil sukses keluar sebagai juara. Tim Samba menaklukan Belanda 3-2 di perempatfinal, menundukkan Swedia di semifinal, dan membungkam Italia 3-2 melalui adu penalti di partai final.

Piala Dunia Brasil 2014

Berita Terkini