Makam Pahlawan Barca itu Nyaris Rata
Sebuah batu nisan yang nyaris lebur dengan tanah tentu menjadi pemandangan biasa. Namun siapa sangka di bawah reruntuhan nisan itu bersemayam seorang pria yang namanya jarang disebut dalam ensiklopedia Barcelona.
Hans Gamper atau yang lebih dikenal khalayak luas sebagai Joan Gamper mendirikan Football Club Barcelona di tahun 1899 sadar akan potensinya sebagai alat perlawanan terhadap represi Kerajaan Spanyol, terlebih pada masa perang saudara di negeri semenanjung Iberia itu.
Seperti halnya Makassar di abad ke ke-15, sudah menjadi takdir bagi daerah yang memiliki pelabuhan yang ramai maka akan menjadi daerah yang subur akan ilmu, kebudayaan dan juga bahasa karena lalu lintas kapal yang berlabuh.
Pun begitu dengan warga Catalonia yang merasa memiliki kebudaayaan yang lebih bagus dan lebih besar dari Spanyol. Namun Spanyol yang saat itu terancam oleh Castilla harus mengenyahkan pandangan bahwa Catalonia lebih besar dari mereka.
Maka jalan represif pun ditempuh dengan Jendral Franco sebagai aktor utama untuk menghentikan aksi separatis warga Catalonia yang mendukung kubu republik dalam perang saudara Spanyol tahun 1936-1939.
Generasi saat ini mungkin lebih mengenal Helenio Herrera, Rinus Michel, Johan Cruyff atau Pep Guardiola sebagai pelatih paling kontemporer sebagai manajer sukses. Namun tak banyak yang mengenal nama Patrick O'Connell.
Bahkan makamnya di daerah Kensal Green terlihat biasa-biasa saja, bukan seperti makam orang yang pernah berjasa menyelamatkan keberadaan tim yang saat ini menjadi pujaan jutaan orang di seluruh dunia, Barcelona.
1. Siapa Patrick O'Connell
Terlahir sebagai Patrick Joseph O'Connell, pria kelahiran Irlandia ini lebih dikenal sebagai Paddy O'Connell. Pria yang selama aktif bermain berposisi sebagai sayap kiri ini dan dikenal sebagai pemain Manchester United.
Sedikit cela mewarnai kariernya sebagai pemain saat tersangkut kasus pengaturan pertandingan yang melibatkan Manchester United dengan Liverpool di tahun 1915, saat United sedang berjuang untuk menghindari degradasi.
Pady yang lolos dari hukuman bermain untuk Dumbarton di Liga Skotlandia setelah Perang Dunia 1 selesai dan menghabiskan kariernya sebagai pemain di Ashington.
Tak seperti pria asal Britania lainnya, Paddy lebih memilih Spanyol sebagai tempat untuk menempanya sebagai pelatih hebat dan klub pertama yang diasuhnya adalah Racing Santander di tahun 1922, setelah hanya semusim memegang jabatan sebagai pelatih Ashington.
Namun yang membuat pelatih yang juga dikenal sebagai Patricio O'Connell ini terkenal adalah saat mengangkat kasta Real Betis ke divisi pertama di tahun 1932, ia mempersembahkan gelar juara pertama dan satu-satunya untuk Real Betis di tahun 1935.
Atas prestasinya itulah Barcelona menunjuknya sebagai pengganti Franz Platko, seorang legenda Barcelona lainnya yang merupakan sosok di balik kesuksesan Barcelona meraih trofi La Liga pertamanya di tahun 1929.
2. Lahirnya Don Patricio
Pada masa Perang Saudara Spanyol, Barcelona yang merupakan kebanggaan masyarakat Catalonia tengah dalam posisi yang terancam. Di tahun 1936 saat kegiatan sepakbola dihentikan karena adanya perang saudara, Presiden Barcelona saat itu, Josep Sunyol terbunuh.
Di masa-masa kritis itu, sebuah tawaran datang dari seorang pebisnis Manuel Mas Serrano yang mengajak Barcelona untuk bermain dalam sebuah laga eksibisi di Meksiko dengan bayaran sebesar $15 ribu.
Tanpa pikir panjang, O'Connell langsung menyambut tawaran itu sekaligus menyelamatkan para penggawa Barcelona yang menjadi buruan pemerintah Kerajaan Spanyol kala itu dengan membawa mereka ke "tempat pengasingan" di Meksiko selama 14 hari.
Bersama 16 pemainnya, Barcelona melawan empat tim Meksiko, Club America, Atlante FC, Necaxa dan pemain terbaik Meksiko. Di Amerika Serikat Blaugrana berhadapan dengan Brooklyn Hispano, Brooklyn St. Mary's Celtic dan American Soccer League XI. Tur ini diakhiri dengan melawan tim yang berisi pemain Yahudi.
Uang hasil tur itu disimpan di rekening bank Swiss yang tak akan bisa terjangkau oleh rezim fasis Franco dan menyelamatkan klub ini dari krisis keuangan. Setelah tur berakhir, O'Connell kembali ke Spanyol dengan hanya membawa empat pemain karena sisanya memilih untuk menetap di Meksiko dan Perancis untuk menghindari kebengisan Franco.
Atas keputusan Patrick O'Connell membawa pemain Barcelona keluar dari Spanyol itulah sejarah mencatanya sebagai orang yang menyelamatkan Barcelona selama Perang Saudara Spanyol. Sudah menjadi tabiat orang Spanyol (dan Italia) untuk memanggil manajer sebuah klub dengan sebutan 'Mister'. Namun mengingat kontribusi besarnya, masyarakat Catalonia tak menambahkan imbuhan 'Mister' untuk menyebut nama Patrick O'Connell, melainkan menyebutnya sebagai Don Patrico.
3. Legasi Patrick O'Connell
Pady wafat pada tanggal 27 Februari 1959 dalam usia 71 tahun di St Pancras, London, Inggris. Kini orang hampir tak mengenali makan Don Patricio di Kensal Green karena hampir rata dengan tanah. Tak ingin generasi muda hilang ingatan akan sejarah, cucu dari O'Connell yaitu Mike O'Connell mengadakan sebuah kegiatan donasi untuk menyelamatkan makam sang kakek.
Aksi Mike O'Connell langsung dimeriahkan oleh David Beckham, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Gareth Bale dan Paolo Maldini yang mendonasikan jersey mereka untuk dilelang yang uang hasil penjualannya untuk mendanai makan sang pahlawan.
Ketika saat ini Barcelona berdiri sebagai salah satu klub sepakbola raksasa dunia, menjadi ironis saat makam sosok yang menyelamatkan klub ini justru tengah diambang rata dengan tanah.