x

3 Klub Besar Eropa yang Dicap Zionis

Minggu, 27 September 2015 19:12 WIB
Editor: Ahmad Priobudiyono

Dalam sejarah sepakbola Eropa beberapa, klub sepakbola papan atas Eropa dijuluki kebanyakan orang sebagai klub “Yahudi”.  Julukan kebanyakan ini lahir dari tribun penonton yang datang ke stadion untuk mendukung klub yang mereka bela.

Dekorasi meriah dengan bendera-bendera Israel dan spanduk bergambar simbol-simbol yahudi kerap menghiasi pemandangan tribun saat tim-tim Eropa kesayangan mereka berlaga. Ditambah ribuan supporter yang wajahnya di cat dengan lambang Bintang Daud di dahi mereka.

Para supporter yang anti Yahudi kerap meledek klub-klub ini dengan yel-yel dan teriakan anti Yahudi. Namun reaksi-reaksi negatif atau ledekan yang kerap terdengar adalah hembusan “Sssshh..” yang identik dengan suara desis ruang gas Holocaust pada perang dunia II.

Aksi saling ledek ini kerap menimbulkan insiden dalam sejarah sepakbola dunia, yang berbuntut pada jatuhnya korban. Berikut ulasan profil 3 klub besar eropa tersebut.


1. Ajax Amsterdam

Ajax telah lama dicap sebagai klub sepakbola Yahudi Belanda, pihak klub enggan mengakuinya. Bahkan sejarahpun menunjukkan sedikit sekali latar belakang Yahudi dalam Ajax.

Menurut Uri Coronel, Ketua Harian Ajax (pemeluk Yahudi), Ajax sama sekali bukan klub Yahudi; “Ajax adalah klub dengan sedikit sekali pemain dan suporter pemeluk agama Yahudi.

Bahkan Jurnalis olahraga Simon Kuper sempat melakukan investigas terkait hal ini untuk penulisan bukunya ´Ajax, Yahudi, Belanda´ (Ajax, De Joden, Nederland) dan tidak menemukan hubungan apapun.

“Sepanjang sejarah, Ajax tidak pernah menjadi klub Yahudi. Sebelum PD-II, klub asal Amsterdam ini merupakan milik kelas menengah, miliknya para administrator dan orang-orang yang memiliki perusahaan sendiri. Kebanyakan orang Yahudi terlalu miskin untuk menjadi anggota Ajax,” ungkapnya.

Pada Perang Dunia II, sekitar 75 persen populasi kaum Yahudi di Amsterdam dibasmi oleh Nazi. Setelah perang usai hanya beberapa orang Yahudi yang terlihat di tribun Ajax.

Di awal tahun 70, bangkitlah zaman keemasan Ajax di bawah pimpinan Jaap van Praag. Kuper: “Saya memiliki kesan bahwa orang-orang Yahudi yang tersisa saling bertemu kembali di Ajax.

Presiden Ajax saat itu adalah Yahudi, tukang pijat klub, sejumlah investor dan beberapa pemain kunci merupakan setengah Yahudi.”

Menurut presiden Ajax, Coronel, lingkungan Ajax yang bernuansa Yahudi di tahun 70-an janganlah diinterpretasi berlebihan. “Lah, memang kebanyakan orang Yahudi tinggal di Amsterdam, ya tentu saja mereka bukan fansnya Feyenoord (klub asal Rotterdam, red). Simpel aja; orang Yahudi Amsterdam yang suka sepakbola ya pasti mendukung Ajax.”

Awal tahun 1980, para hooligan-lah (saat itu fenomena baru) yang bertanggung jawab membentuk citra Ajax sebagai klub Yahudi. Berkat kegemaran mereka meneriakkan yel-yel lantang. 


2. Tottenham Hotspur

Tottenham Hotspur diketahui memiliki sejarah kedekatan dengan sejumlah tokoh Yahudi. Klub asal London Utara, Inggris, ini begitu tersohor di kalangan imigran Yahudi. Mereka tiba di sana akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Permukiman warga Yahudi di London Utara bukan hanya di East End. Orang-orang Yahudi juga banyak tinggal di distrik Barnet, Hackney, dan Harrow.

Sehingga kebanyakan pendukung Spurs berasal dari kalangan Yahudi yang dikenal dengan sebutan Yid Army. Sementara para pemainnya dijuluki dengan julukan Yiddos.

Logo ayam jantan dengan taji yang menjulang ke atas yang berdiri di atas bola juga disinyalir mengadopsi dari simbol-simbol zionis.

Tercatat ada beberapa insiden berbau rasis yang pernah terjadi saat beberapa Spurs bertanding melawan rival-rival utamanya.

Rival Utama Spurs di liga Inggris adalah Arsenal, pertemuan keduanya disebut The North London Derby dan selalu panas.

Tak jarang fans Arsenal meledek fans Spurs dengan cara menirukan desis bunyi asap, merujuk pada kasus pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi saat perang dunia kedua.

Namun insiden rasial yang paling dikenang adalah saat Spurs bertandang ke Roma dan melawan Lazio di stadion Olimpico. Pertandingan yang sendiri berakhir imbang 0-0 diwarnai dengan kericuhan yang berawal dari pendukung Lazio yang meneriaki "Tottenham Yahudi, Tottenham Yahudi".

Saat pertandingan berlangsung dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Bebaskan Palestina". Tercatat 9 orang pendukung Spurs terluka parah akibat serangan yang dilakukan oleh para pendukung Lazio.


3. Bayern Munich

Berbeda dengan Ajax dan Tottenham, keterkaitannya dengan Yahudi  tidak pada simbol atau supporter fanatiknya. Keterkaitan klub yang didirikan pada 27 Februari 1900, 115 tahun silam lebih condong pada sisi historis kepemilikan klub pada era Perang Dunia II.

Sejak berdirinya klub ini, catatan kesuksesan langsung mengiringi berkembangnya klub. Bergabung dengan Kreisliga, Bayern bisa memenangi kompetisi pada tahun pertama keikutsertaan mereka, meski kemudian absen menjadi juara hingga 1914, yang bersamaan dengan dimulainya Perang Dunia I. 

Setelah perang, Bayern menunjukkan dominasinya di sejumlah kompetisi regional, termasuk mengalahkan Eintracht Frankfurt 2-0 di Kejuaraan Jerman pada 1932.

Namun, kemunculan paham Nazi membuat perkembangan Bayern terhambat. Pasalnya Presiden klub saat itu, Kurt Landauer dan pelatih tim, harus meninggalkan Jerman karena mereka orang Yahudi. Sejak saat itu tak sedikit yang menyebut Bayern adalah tim Yahudi.

Bayern MunchenTottenham HotspurAjax AmsterdamTottenham HotspursFC Bayern Fan Indonesia (FCBFI)

Berita Terkini