10 Tim Sepakbola Paling Dibenci
Masih ingat penampilan Argentina di Piala Dunia 1990? Tak diragukan lagi tim asal Amerika Selatan ini akan selalu dikenang sebagai salah satu tim yang diberkati dengan kemujuran hingga lolos ke partai puncak.
Sejarah pun mencatat waktu itu Albiceleste sukses memainkan sepakbola negatif dengan strategi bertahan total dan membuang-buang waktu untuk beradu kemujuran lewat adu penalti.
Tak hanya Argentina pada masa itu. Masih ada deretan tim lain yang tercatat dengan tinta hitam sebagai tim yang dibenci sebagaimana diangkat INDOSPORT di bawah ini.
1. Argentina 1990
Argentina pada tahun 1990 merupakan tim yan paling dibenci secara luas terutama di pentas Piala Dunia. Tim ini mampu merangsek hinga partai final di Roma, Italia meski hanya dihuni dua pemain bertipikal menyerang yakni Claudio Caniggia, dan Diego Maradona, yang amat sangat tidak layak dan bermain karena cedera.
Skuad Carlos Bilardo dicap anti-sepakbola modern. Setelah kalah dari Kamerun di laga pembuka, Argentina bermain sangat defensit dengan 10 pemain di area pertahanan. Babak belur diserang dari awal sampai akhir Argentina mampu mencetak satu-satunya gol dalam laga itu memanfaatkan kejeniusan Maradona.
Di babak perempatfinal melawan Yugoslavia Argentina bermain dengan 10 orang selama 90 menit setelah Sergio Goycochea dikartu merah. Namun Argentina berhasil lolos ke semifinal dan bertemu Italia di Naples. Sebenarnya Azzurri tidak memainkan permainan terbaik mereka tetapi mereka berusaha untuk menyerang, dan semua tampak baik setelah Toto Schillaci memberi mereka memimpin awal. Caniggia menyamakan kedudukan di menit ke-67 menyusul kesalahan menghebohkan Walter Zenga. Argentina bermain negatif, membuang-buang waktu di setiap kesempatan dan mengambil keuntungan dalam adu tendangan penalti.
Di final Tim Tango melawan Jerman Barat. Argentina akhirnya dikalahkan oleh gol penalti di menit ke-85 dari Andreas Brehme. Banyak orang mengatakan bahwa keadilan telah mendapat tempat.
2. Bayern Munich 1970
Sama seperti Juventus dan Manchester United, Bayern Muenchen pernah dibenci di Jerman karena keberhasilan mereka. Kebencian resmi dimulai pada awal tahun 1970-an pada saat Bayern hanya memenangkan dua kejuaraan Jerman dalam sejarah mereka. Ada persaingan besar antara Bayern dan tim besar lain dari era ini seperti Borussia Monchengladbach.
Bayern sering diserang pada perjalanan mereka di Jerman, meskipun tim ini memiliki sejumlah pemain legendaris Jerman yang memenangkan Euro 1972 dan Piala Dunia 1974 seperti Franz Beckenbauer, Gerd Muller dan Paul Breitner.
3. Estudiantes 1967-1970
Estudiantes yang memenangkan Argentina Metropolitano1967, serta tiga gelar Copa Libertadores Don Revie dan Piala Intercontinental memiliki pemain bintang anggota juara Piala Dunia 1986 yakni Carlos Bilardo, dan Juan Ramon Veron, ayah dari Sebastian Veron.
Pelatih Osvaldo Zubeldia permainan fisik dan berfungsi untuk mengintimidasi lawan. Berbagai pelanggaran kerap dilakukan. Namun ironisnya julukan klub saat itu adalah La Tercera que Mata (Pembunuh Remaja).
4. Leeds United Masa Don Revie
Leeds dari tahun 1960-an dan awal 1970-an secara luas diakui sebagai tim paling dibenci dalam sejarah sepakbola Inggris.
Di lapangan mereka adalah tim yang luar biasa karena diberkati dengan pemain luar biasa seperti Peter Lorimer, Johnny Giles dan Billy Bremner. Meskipun mereka hanya memenangkan dua gelar Liga Primer Inggris, dua Piala Inter-Cities Fairs, satu Piala FA dan satu Piala Liga selama era ini, pada kenyataannya mereka seharusnya bisa lebih banyak mengoleksi gelar.
Tim ini pun dijuluki sebagai keseblasan yang sangat mengandalkan kekuatan fisik dan mendapatkan julukan 'Dirty Leeds' dan sering dikritik oleh pers.
5. Yunani (2004)
Sebelum Euro 2004, Yunani hanya tampil di dua turnamen besar dalam sepanjang sejarah yakni Euro 1980 dan Piala Dunia 1994.
Meski tak memiliki nama-nama besar, sentuhan legenda Jerman Otto Rehhagel mampu menyulap negara para dewa itu menjadi raksasa. Yunani terkenal dengan gaya bertahan sebelum menghukum lawan dari set-piece dan serangan balik. Hal itu dibuktikan saat Euro 2004. Yunani berhasil keluar fase grup. Mereka kemudian mengalahkan Perancis 1-0, menumbangkan tim favorit Republik Ceko, dan menyelesaikan pekerjaan dengan mengalahkan Portugal untuk kedua kalinya 1-0 berkat Angelos Charisteas di partai puncak.
Ini telah menjadi kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola internasional. Namun Yunan disorot dan diberi label oleh banyak orang sebagai "set-piece tim", dan 'anti-football'.
6. Juventus
Juventus dibenci di Italia untuk cukup banyak alasan yang sama seperti Manchester United dihina di Inggris.
Bianconeri sejauh ini tim menjadi tim yang paling sukses. Mereka sering digambarkan sebagai tim yang beruntung, mencetak banyak gol akhir untuk memenangkan pertandingan selama bertahun-tahun.
Juventus juga telah dituduh memanfaatkan keputusan wasit. Yang paling kontroversial terjadi pada tahun 1981 dan 1982, serta pada tingkat lebih rendah saat meraih Scudetto. Skandal Calciopoli pada 2006 benar-benar merusak citra Juve.
7. Manchester United Pasca 1993
Setelah memenangkan kejuaraan pertama mereka dalam 26 tahun terakhir pada tahun 1993, di masa kepelatihan Sir Alex Ferguson, Manchester United segera berkembang menjadi klub yang paling dominan di Inggris.
Dalam 17 tahun, The Red Devils mampu mengangkat 10 mahkota Premier League serta dua gelar Liga Champions. Skuad ini pun mendatangkan rasa cemburu dan berbagai komentar miring pun bermunculan.
Ada yang menilai Manchester Merah sebagai tim yang beruntung meski ada yang mengatakan mereka memiliki karakter yang luar biasa karena tingginya jumlah gol terutama di tahun 1990-an.
Ketika Ferguson memenangkan gelar pertamanya pada tahun 1993, ini terutama terjadi setelah bek Steve Bruce mencetak dua gol di masa injury time untuk mengubah defisit 1-0 menjadi kemenangan 2-1 atas Sheffield Wednesday. Kemudian, tentu saja, di final Liga Champions 1999 melawan Bayern Munich saat United kalah dari awal sampai akhir, tetapi mencetak dua gol di babak tambahan waktu untuk mengangkat mahkota.
Banyak fans MU sering disebut sebagai 'gloryhunters' yaitu mereka hanya mendukung klub karena berhasil.
8. Italia
Di kancah internasional, Italia mungkin menjadi salah satu negara yang selalu disukai terutama di Eropa Utara.
Namun sepakbola Italia terlanjur mendapat stereotip sebagai tim yang pragmatis dan ultra-defensif, dan membuang-buang beberapa bakat sebagai penyerang. Gli Azurri juga dikenal sebagai tim yang lekat dengan diving, dan menipu wasit atau seperti yang dikenal di Italia 'Furbo' (menjadi licik).
9. Arsenal Masa 1986-1995
Pada masa kepelatihan George Graham terutama masa akhir pemerintahannya Arsenal menjadi salah satu tim yang paling membosankan dalam sejarah permainan.
Dengan pemain berbakat yang sangat sedikit, Graham kerap hanya mengandalkan Ian Wright untuk mencetak gol. Saat memenangi dua gelar pada tahun 1989 dan 1991 The Gunners bermain sedikit lebih ofensif. Tapi Meriam London kemudian mendapat serangan dan kritik tajam ketika mereka mengangkat Piala Winners pada tahun 1994. Arsenal mengalahkan Parma satu gol tanpa balas di partai puncak namun tim ini hampir tidak keluar dari setengah lapangan.
10. Real Madrid Era Ramon Calderon
Pada masa ini El Real dianggap sebagai salah satu klub yang berambisi besar mendatangkan para pemain bintang. Bahkan mereka telah bersiap-siap dengan tawaran besar. Namun sayang berbagai tawaran menggiurkan tercatat tak berhasil.
Saat hendak mengejar Kaka, AC Milan lebih sigap mengamankan jasa pemain asal Brasil itu. Madrid juga berusaha memotong Manchester United untuk mendapatkan Cristiano Ronaldo meski pada akhirnya berhasil.
Madrid juga berusaha menjegal Villarreal untuk mendatangkan Santi Cazorla serta David Silva dan David Villa. Bahkan Calderon hampir tergoda untuk memboyong Cesc Fabregas dari klub rival abadi, Barcelona yang membuatnya dikritik habis-habisan oleh fans Madrid.