5 Trik Buffon Hindari Cap Kiper Gagal
Sebagai seorang penjaga gawang kiprah Gianluigi Buffon sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di dunia memang tidak dapat diragukan. Delapan kali menyabet gelar Kiper Terbaik Serie A dan selama 17 tahun perannya di bawah mistar gawang tim Gli Azzuri Itala nyaris tak tergantikan.
Meskipun saat ini dirinya masih aktif bermain baik di level klub bersama Juventus atau pun di level Internasional bersama tim nasional Italia dirinya telah didapuk sebagai salah satu legenda hidup sepakbola Italia.
Sepanjang 20 tahun kiprahnya dalam berkarir sebagai pesepakbola profesional Buffon juga telah mengalami pasang surut dalam mempertahankan performa terbaiknya di bawah mistar gawang.
Pukulan paling telak untuk kariernya mungkin adalah saat dirinya secara resmi tidak dimasukkan dalam nominasi kiper terbaik dunia dalam ajang penghargaan Ballon d’Or versi FIFA tahun ini.
Keputusan mencengangkan ini sempat menuai protes keras dari publik sepakbola Italia, pasalnya kontribusi Buffon terhadap timnya Juventus tahun lalu sangat signifikan. Buffon telah berkontribusi besar membawa Juventus meraih gelar Serie A dan menjadi runner up Liga Champions musim lalu.
Gigi Buffon harus diakui sebagai seorang penjaga gawang berkelas yang berjiwa besar meskipun eksisitensinya terdeskreditkan. Di balik itu semua ternyata Buffon memiliki sejumlah trik dan cara tersendiri untuk tetap tampil konsisten dalam performa terbaiknya dan membuktikan dirinya adalah yang terbaik.
Sejumlah trik dan cara Buffon untuk keluar dari tekanan dan menghindari cap sebagai kiper gagal berhasil dirangkum INDOSPORT dalam ulasan berikut;
1. Stay Cool
Sepanjang karirnya sebagai seorang penjaga gawang Gianluigi Buffon telah banyak mengecap asam garam dalam menghadapi pertandingan besar yang sarat krusial untuk tim yang dibelanya.
Menghadapi lawan berat dalam tensi pertandingan tinggi sebagai seorang penjaga gawang Buffon pasti memiliki beban beban berat untuk menjaga gawangnya terbebas dari gol dan gempuran penyerang lawan.
Untuk keluar dari beban berat tersebut, Buffon memiliki cara dan trik tersendiri agar tetap tampil maksimal. Kiper yang kini berusia 37 tahun ini berusaha untuk tetap menjaga ketenangan meskipun tampil dengan beban beran dan berada di bawah tekanan.
"Saya mulai menjalani debut di Serie A saat berusia 17 tahun ketika Parma berhadapan dengan Milan, juara serie A tahun itu (Milan) memiliki Paolo Maldini, George Weah dan Roberto Baggio. Mereka dengan mudah bisa tampil dengan tenang, tapi tidak untuk tim saya (Parma). Jika saya tidak mengatur dengan tenang pastilah banyak kesalahan yang akan saya lakukan," ungkap Buffon saat itu.
2. Rasa Takut
Selain berusaha untuk tetap tampil tenang meskipun bermain menghadapi lawan berat dengan sejumlah tekanan Buffon tetap memelihara rasa takut dalam dirinya.
Kiper yang setia membela Juventus sejak tahun 2001 ini mengaku telah membiarkan rasa takut gagal dan khawatir tidak bisa tampil dalam performa terbaiknya dalam sebuah pertandingan.
Hal ini lah menurutnya yang membuat pemain-pemain besar seperti mega bintang Brasil, Ronaldo tetap bisa menjaga performa terbaiknya.
“Bintang Brasil, Ronaldo adalah pemain terbaik yang pernah saya hadapi. Namun pada puncaknya, ia tidak sama, tetapi Anda tidak bisa membiarkan diri tenggelam dalam zona nyaman. Pemain berkualitas yang akan berangkat dari itu.”
3. Enggan Jadi Masokis
Resiko menjadi seorang penjaga gawang adalah menjadi orang yang paling disalahkan jika tim yang dibelanya harus kebobolan dan menelan kekalahan. Dalam hal ini seorang kiper dapat dengan mudah menjadi kambing hitam dan dicap orang yang paling bersalah.
Namun menurut Buffon seorang penjaga gawang terbaik harus memiliki mental yang kuat dan tidak boleh merasa nyaman dan rela begitu saja ketika dirinya harus menjadi orang yang paling disalahkan.
“Untuk menjadi seorang penjaga gawang terbaik anda tidak boleh menjadi seorang masokis. Harus ada bagian dari otak anda kesadaran akan dipermalukan, tapi jika terpaksa terjebak dalam kesalahan maka anda harus tetap tegar agar bisa melanjutkan laga. Jika anda berhasil melalui itu, anda baru bisa dikatakan sebagai pemain."
4. Belajar dari Kesalahan
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sehebat apapun seorang penjaga gawang pasti ada saatnya melakukan kesalahan. Seorang pemain besar harus bisa menyikapi kesalahan yang dibuatnya dengan bijaksana.
Legenda kiper Italia ini berpendapat, tidak larut dalam penyesalan dan mengambil pelajaran adalah sikap terbaik yang harus dilakukan seorang penjaga gawang usai dirinya terjebak melakukan kesalahan.
"Tidak peduli seberapa berbakat seorang penjaga gawang adalah mereka akan membuat kesalahan. Jika anda pergi ke pertandingan berikutnya dalam kondisi trauma, kenyataannya adalah bahwa anda lebih mungkin untuk membuat kembali kesalahan tersebut. Terimalah bahwa Anda telah melakukan kesalahan, menerima bahwa mereka terjadi untuk yang terbaik dan terus maju. "
5. Tampil Sebagai Pembeda
Beban seorang kiper di lini pertahanan dalam setiap pertandingan dalam skala besar ataupun kecil sejatinya adalah sama, yaitu bagaimana caranya gawang yang dijaganya tetap aman.
Sepanjang kariernya menghadapi pertandingan skala besar seperti Liga Champions ataupun Piala Dunia, Buffon selalu berusaha menargetkan dirinya tampil sebaik mungkin, meskipun pada akhirnya timnya harus kalah setidaknya tim harus kalah dengan terhormat. Itulah yang akan membedakan.
"Apakah itu final Piala Champions atau Liga Dunia, anda harus menatapnya seperti permainan lainnya. Orang-orang selalu bertanya kepada saya: "Hal terbaik apa yang anda perbuat? Contoh saat Italia berhadapan melawan Prancis dengan Zidane sebagai maskot di final Piala Dunia. "Ini bukan yang terbaik. Yang paling penting, iya, tapi bukan yang terbaik. Mereka tidak akan mengingat ini sebagai musim yang ramah, tetapi sebagai seorang penjaga gawang Anda tidak dapat membuat perbedaan antara keduanya.”