x

Pep Guardiola, Insiden Kimmich dan Arogansinya di Munchen

Senin, 7 Maret 2016 18:08 WIB
Editor: Ramadhan

Mantan pelatih Barcelona ini memang selalu menampilkan banyak hal secara sempurna terutama saat dirinya menjadi pelatih. Di Barcelona, dengan stylish, Guardiola sukses membawa raksasa Catalan meraih banyak gelar.

Dengan limpahan gelar-gelar mayor, Guardiola selalu dicitrakan sebagai sosok pelatih perfeksionis dan seperti tanpa celah. Tak hanya secara gelar, untuk urusan taktik dan gaya kepemimpinan di atas lapangan, Guardiola selalu menunjukkan kesempurnaan.


Pep Guardiola saat memberikan instruksi kepada Xabi Alonso dari pinggir lapangan

Gaya yang sama juga tak berubah saat Guardiola membesut Bayern Munchen. Bersama Die Roten, Guardiola juga menerapkan taktik sempurna sehingga menghasilkan banyak gelar. Namun, siapa sangka Guardiola juga pernah melakukan kesalahan-kesalahan yang justru menunjukkan sisi buruknya di skuat Munchen.


Pep Guardiola memarahi Joshua Kimmich di tengah lapangan Signal Iduna Park usai laga melawan Borussia Dortmund

Yang terbaru adalah saat dirinya memarahi pemain muda, Joshua Kimmich di tengah-tengah lapangan Signal Iduna Park usai laga Der Klassiker melawan Borussia Dortmund. Tak tahu pasti apa alasan Guardiola memarahi Kimmich, yang jelas Guardiola terlihat sangat berapi-api di depan wajah Kimmich.

Berikut INDOSPORT mengulas sisi buruk Guardiola dalam hal kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan di skuat Munchen sebagai pelatih.


1. Guardiola Marahi Joshua Kimmich di Tengah Lapangan

Entah apa yang tengah merasuki Guardiola pada laga Der Klassiker melawan Borussia Dortmund di Bundesliga Jerman akhir pekan kemarin. Usai laga, Guardiola langsung menghampiri pemain mudanya, Joshua Kimmich di tengah-tengah lapangan Signal Iduna Park.

Saat seluruh pemain kedua tim tengah berjabat tangan, Guardiola justru terlihat sibuk memarahi Kimmich tepat di depan wajah dengan mimik berapi-api. Guardiola juga terlihat seakan menjelaskan banyak hal soal taktik.

Tak diketahui persis apa yang menyebabkan Guardiola begitu ekpresif terhadap Kimmich seolah tengah memarahi gelandang berusia 21 tahun tersebut. Yang jelas, setelah pertandingan, Guardiola justru memuji penampilan Kimmich di laga tersebut kepada media.


2. Pengumuman Hijrah ke Man City di Tengah Musim

Pep Guardiola sudah dipastikan akan mengambil alih kursi kepelatihan dari Manuel Pellegrini di Manchester City awal musim nanti.

Spekulasi mengenai masa depan Guardiola memang sudah terjawab, tapi satu hal yang membuat kabar tersebut tampak tak etis adalah keputusan kedua klub yang mengumumkan Guardiola sebagai pelatih baru The Citizens di tengah-tengah musim yang sedang berlangsung.

Alangkah lebih baik pengumuman tersebut disampaikan di akhir musim dan lebih dulu dirahasiakan dari publik demi menjaga stabilitas banyak hal terkait kedua klub. Dengan pengumuman yang terlalu dini tersebut, tentu banyak hal buruk terjadi seperti goyahnya posisi masing-masing tim di liga.

Sejak pengumuman tersebut, usaha City untuk meraih gelar benar-benar terganggu. The Citizens menelan 3 kekalahan beruntun, sementara Munchen menelan 2 hasil imbang dan 1 kekalahan dari 6 pertandingan liga terakhir mereka.

Tak hanya itu, posisi Manuel Pellegrini di City pun seperti dirusak dan diganggu dengan pengumuman tersebut. Beruntung, Pellegrini mampu membuktikan diri dengan membawa City meraih gelar Piala FA beberapa waktu yang lalu.


3. Terlalu Banyak Mengubah Skema

Guardiola pernah menerapkan skema ekstrim di skuatnya saat menghadapi Wolfsburg dan FC Cologne pada Oktober 2015 di pentas Bundesliga Jerman musim ini. Sebuah skema yang tentu tak pernah dimainkan tim manapun yakni skema 2-5-3.

Sistem revolusioner tersebut diterapkan berdasarkan fleksibilitas pemain. Namun, Guardiola terhitung sudah menerapkan 10 formasi yang berbeda musim ini, termasuk skema unik 3-1-2-1-3.

Tentu saja, inovasi dari taktik Guardiola sangat layak diacungi jempol mengingat timnya selalu mendapatkan hasil positif. Namun, banyak pihak mengklaim jika Guardiola belum mengetahui betul skema yang cocok untuk Die Roten.

Yang ditakutkan adalah dengan skema yang selalu berubah-ubah, Munchen jadi tak memiliki identitas pasti dalam hal permainan.


4. Membuat Munchen Mengalami Penurunan di Eropa

Guardiola datang ke Allianz Arena dengan kondisi skuat Munchen yang baru saja meraih treble winners. Tantangan terberat Guardiola tentu mempertahankan kejayaan yang sudah diraih saat dirinya ditunjuk sebagai pelatih Die Roten.

Namun, pekerjaan berat tersebut belum bisa dicapai Guardiola dan mantan pelatih Barcelona tersebut justru belum bisa mengikuti jejak pendahulunya, Jupp Heynckes yang sukses membawa Munchen berjaya di Eropa.

Munchen pernah kalah telak dengan agregat 5-0 dari Real Madrid di laga semifinal Liga Champions musim 2013/14 kemarin. Munchen juga harus kalah dari Barcelona dengan agregat 5-3 di Liga Champions musim lalu.

Selain itu, Die Roten juga menelan kekalahan 3 kalidi laga tandang melawan Manchester City, Porto, Arsenal dan Barcelona. Dan kemarin, meski sudah unggul 0-2 lebih dulu, Munchen justru hanya meraih hasil imbang 2-2 saat melawan Juventus di laga leg pertama Liga Champions di Juventus Stadium.


5. Perseteruan dengan Tim Medis

Rusaknya kepercayaan yang ditujukan kepada tim medis Muenchen menjadi pemicu mundurnya dokter tim Muenchen, Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt dari jabatannya usai kekalahan 3-1 Die Roten atas Porto pada leg pertama babak perempat final di Estadio do Dragao.

Muller Wohlfahrt merilis pernyataan mengenai pengunduran dirinya dari dokter tim Muenchen pada Kamis (16/04/15) malam waktu setempat.  Muller Wohlfahrt mengungkapkan bahwa pengunduran dirinya itu dipicu dari kekalahan telak Muenchen atas Porto.

Sebelum laga leg pertama babak perempat final Liga Champions di markas Porto itu pun, sejumlah pilar utama Muenchen sebenarnya sudah dihantam badai cedera. Nama-nama penting seperti Arjen Robben, Franck Ribery, David Alaba, Javi Martinez dan Mehdi Benatia sudah menepi lebih dulu.

Sebelumnya Muller Wohlfahrt yang sudah mengabdi bersama Muenchen sebagai dokter tim sejak 1977 itu pernah meninggalkan Muenchen pada musim 2008-09 setelah bertengkar dengan mantan pelatih kepala Muenchen saat itu, Jurgen Klinsmann. Namun, Muller Wohlfahrt akhirnya kembali lagi setelah Klinsmann mundur.

Di awal musim ini, Pep Guardiola mengakui pernah merasa jengkel dengan tim medis terkait penanganan cedera sejumlah pemainnya terutama Jerome Boateng.

“Saya harus selalu mengganti Boateng sebelum pertandingan selesai. Tapi, kita tidak bisa mengganti satu bek di setiap pertandingan. Seorang bek biasanya harus bermain dari awal hingga akhir laga. Kita harus berbicara dengan dokter tim lain waktu,” ucap Guardiola.

Bundesliga JermanBayern MunchenPep GuardiolaIn Depth Sports

Berita Terkini