Tradisi Siram Air di Tribun Stadion I Wayan Gipta
Tak salah memang Bali menjadi pilihan utama para operator turnamen sebagai tempat pertandingan sepak bola. Pulau Dewata punya gairah besar dalam berbagai gelaran sepak bola nasional, baik dalam level kompetisi maupun turnamen.
Sepanjang gelaran Piala Bhayangkara, Stadion Dipta tak henti-hentinya bergemuruh di setiap hari pertandingan yang digelar sejak 19 hingga 27 Maret lalu. Para suporter dari lima tim yang bertanding pun bergantian menyesaki tribun stadion markas Bali United itu untuk mendukung timnya berlaga.
"Sudah lama Bali tidak ramai seperti ini. Sejak Bali United ada, kini Stadion Dipta jadi bagus, setelah dulu tak terurus karena Persegi sudah bubar," kata Ketut Wirajaya, salah satu pedagang baju di luar Stadion Dipta kepada INDOSPORT.
Tak lupa, tradisi siram air di tengah pertandingan juga rutin dilakukan sebagai upaya penyegaran kepada penonton. Pasalnya, meski masih di musim hujan, namun cuaca di Gianyar dan Bali pada umumnya terasa terik pada siang hingga sore hari.
Hal unik pun terlihat saat sebelum laga terakhir Bali United melawan PS Polri. Siraman air ke tribun timur yang dihuni Semeton Dewata sampai muncul garisan pelangi akibat panasnya cuaca.
"Di Bali memang cuaca tak menentu. Kadang hujan waktu sore atau malam, tapi siangnya panas sekali. Siraman air dari mobil pemadam kebakaran pun cukup menyejukkan suporter di tribun," ujar Made Putra, salah satu penonton di tribun VIP Stadion Dipta.