x

Jatuh Bangun Fernando 'El Nino' Torres

Jumat, 22 April 2016 22:27 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Menit ke 37 stadion San Memes, Bilbao. Berawal dari serangan balik, Antoine Griezmann yang berdiri bebas kirim umpan crossing ke arah kotak penalti Bilbao. 

Instingnya sebagai gelandang serang sangat tepat. Operan bolanya langsung disambut sundulan oleh pemain bernomor punggung 9, Fernando Torres. 

Meski mendapat kawalan dari dua bek Bilbao, pemain kelahiran Fuenlabrada, 22km dari kota Madrid ini mampu memperdaya kiper Bilbao. 2x45 menit berakhir, gol Torres ini menempel ketat Barcelona di papan klasemen La Liga Spanyol. 

Usai laga, nama Torres jadi sorotan. Rantai golnya untuk Atletico Madrid banjir pujian. Torres memang selalu mencatatkan namanya di papan skor pada empat laga terakhir Atletico Madrid. 

Diprediksi kariernya akan habis di musim ini, Torres seolah ingin berkata, 'Saya belum habis,'

Menarik memang untuk disimak perjalan striker yang mendapat julukan El Nino ini di kancah sepakbola Eropa. 

INDOSPORT coba merangkumnya untuk pembaca setia. Dilansir dari thesefootballtimes.co, berikut kisah jatuh bangun Fernando 'El Nino' Torres: 


1. Terinspirasi Kapten Tsubasa

Captain Tsubasa

20 Maret 1984, Fernando Torres lahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Lahir di kota kecil, Fuenlabrada, 22 kilometer dari kota Madrid, Torres ternyata sudah dari umur 5 tahun bergabung dengan sekolah sepakbola. 

Darah sepakbola memang mengalir deras di tubuh Torres. Sang kakek, Israel ternyata ialah seorang kiper untuk klub lokal di kota kelahirannya. Beruntung bagi Torres, sang ibu sangat setia untuk mengantarkannya ke tempat latihan sepakbola. 

Israel juga yang menanamkan ke cucu laki-lakinya itu untuk mencintai klub Atletico Madrid. Isreal selalu mengantarkan Torres kecil berangkat ke stadion Vicente Calderon untuk menyaksikan laga Atletico Madrid. 

Umur 7 tahun, Torres yang awalnya berposisi sebagai penyerang beralih jadi kiper. Posisi sebagai kiper, ia lakoni saat menimba ilmu di klub lokal, Mario Holland. 

Layaknya anak kecil yang suka dengan animasi, Torres pun demikian. Tokoh animasi favoritnya yang juga jadi sumber inspirasinya ialah Kapten Tsubasa. 

"Ketika saya masih kecil, kami kesulitan untuk mendapat siaran televisi. Namun semua orang disekolah saat itu selalu membicarakan soal Kapten Tsubasa. Kesukaan saya pada sepakbola semakin menguat karena ini," kata Torres. 


2. Kontrak profesional di usia belia

Fernando Torres

Sang kakek, Israel sangat berambis mengantarkan Torres kecil main di Atletico Madrid. Ambisi itu tercapai saat Torres bermain untuk akademi sepakbola Atletico Madrid di usia 11 tahun. 

Sejak bergabung, penampilan Torres membuat staf kepelatihan dan pemandu bakat mempercayai bahwa anak ini akan bermetamorfosa jadi bintang besar. Tak ingin binaannya dilirik klub lain, manajemen Atletico Madrid selang empat tahun usai Torres bergabung menyodorkannya kontrak profesional. 

Perjalanan waktu berlalu dengan cepat. Mei 2001, Torres lakoni debut profesionalnya. Saat itu ia membela Atletico Madrid melawan CD Leganes. Tak ada yang istimewa di laga debutnya tersebut. 

Baru pada akhir musim 2001/2002, saat Atletico Madrid B naik ke Segunda Division, nama Torres mulai diperhitungkan. Pasalnya lolosnya Atletico Madrid B promosi ke Segunda Divison berkat sumbangsing Torres yang mencetak 6 gol saat itu. 

Karier Torres di tahun berikutnya terbilang fantastis. Ia mampu mencetak 13 gol dan membuat Atletico Madrid finish di urutan ke 11 La Liga Spanyol. Pada musim panas 2003, datang tawaran dari Chelsea. 

Uang 28juta Poundsterling siap digelontorkan Chelsea saat itu. Sayang manajemen Atletico Madrid menolaknya. Grafik Torres terus menanjak bersama Atletico Madrid. Ia pun mendapat debut bersama timnas Spanyol pada September 2003. 


3. Kapten termuda ‎Los Colchoneros

Fernando Torres

Selain memiliki kemampuan mencetak gol yang sangat tajam, keperibadian Torres terbilang sangat dewasa untuk ukuran usianya. Pelatih Atletico Madrid saat itu, Luis Aragones kemudian memberinya ban kapten. 

Torres dinobatkan jadi kapten termuda klub berjuluk Los Colchoneros. Usai 19 tahun, ia memimpin sejumlah pemain senior seperti kiper German Burgos, bek Cosmin Contra serrta gelandang yang kini jadi pelatihnya, Diego Simeone. 

"Saat itu, ia (Aragones) memberikan pelajaran berharga untuk jadi pesepakbola profesional. Aragones menyebut tidak ada hubungannya antara usai muda dengan pesepakbola profesional," kenang Torres soal sosok pelatih yang memberinya ban kapten tersebut seperti dikutip dari Daily Mail. 

Meski jadi kapten termuda, Torres tak canggung. Saat di lapangan hijau, ia tak segan untuk memberi instruksi ke rekan-rekannya, termasuk pelatihnya saat ini Diego Simeone. 

"Saat itu, ia tak sungkan untuk berteriak ke arah saya untuk mematuhi instruksi pelatih," kata Simeone. 

Padahal saat usia 15 tahun, Torres pernah merekam video yang berisi kekagumannya pada gelandang Argentina itu. Dalam video itu, Torres mengaku sangat mengidolai Simeone. 


4. Rebutan klub Inggris

Fernando Torres

Pada 2006, tawaran kedua datang dari Chelsea. Torehan 82 gol dari 214 laga jadi modal berharga Torres untuk dilirik oleh banyak klub liga Primer Inggris. Chelsea, ia tampik namun Torres tetap memutuskan hengkang ke Inggris. Liverpool jadi pelabuhannya. 

Sosok Spanyol, Rafael Benitez disebut-sebut sebagai alasan kuat Torres mau untuk meninggalkan klub masa kecilnya tersebut. Datang ke kota pelabuhan, Torres mulai babak baru sebagai ikon striker dari pinggiran kota Madrid yang miliki ketajaman luar biasa. 

20juta Poundsterling yang digelontorkan Atletico Madrid, ia lunasi dengan 24 gol di musim pertamanya. Torehan gol ini membuat Torres pecahkan rekor gol Robbie Fowler pada musim 1995/96 yang cetak 20 gol di debutnya bersama The Reds. 

Nomor 9 jadi nomor favorit untuk para fans Liverpool saat itu. Setelah Ian Rush, Robbie Fowler, datang lagi penyerang berkualitas yang membuat Anfiel bergemuruh saat ia mencetak gol, Fernando 'El Nino' Torres. 

Karier Torres terus menanjak bersama Liverpool. Meski jadi pahlawan di Liverpool, sosok Torres yang dikenal tertutup masih terus ia bawa. Fans Liverpool saat itu memandang Torres sebagai penyerang yang rendah hati dan tidak butuh publikasi berlebihan di luar kehebatannya di lapangan hijau. 

"Kesederhaan ialah bagian paling mendasar dari hidup saya, dimana saya tinggal," kata Torres seperti dilansir situs resmi Liverpool. 

Hal itu memang terbukti, pada Mei 2009, Torres menikahi kekasihnya, Olalla Dominguez. Pernikahan bintang Liverpool itu berlangsung sangat sederhana, tidak ada pesta semalam suntuk. Torres hanya melangsungkan pesta pernikahan sederhana di balai kota kecil El Escorial, Madrid. 


5. Awan mendung menghampiri

Fernando Torres

Sebelum menikah dengan Dominguez, Torres mendapat cedera pertamanya di Liverpool. Padahal sebelum mendapat cedera, Torres baru saja mencetak gol kala Liverpool hancurkan Real Madrid di Liga Champions dengan skor 4-0 dan kalahkan Man United di Old Trafford dengan skor 4-1 pada musim 2008/2009. 

Usai Piala Dunia 2010, awan mendung hampiri Liverpool. Dibawah kepemimpinan Roy Hodgson, Torres menjadi mandul. Torres seperti kehilangan ketajaman. Ia frustasi karena berulang kali gagal cetak gol meski mendapat peluang emas. 

Pada 27 Januari 2011, tawaran ketiga kembali disodorkan untuk Torres. Torres bimbang, ia masih ingin di Liverpool namun ingin juga karier tidak tamat karena jarang mencetak gol. 

Tarik menarik pembelian Torres ke Chelsea akhirnya tuntas setelah klub London Biru itu bersedia gelontorkan dana sebesar 50juta Poundsterling. Angka yang terlampau sangat besar jika mengukur raihan gol Torres di musim sebelumnya. 

Datang ke Stamford Bridge dengan perguncingan uang transfer membuat Torres benar-benar terbebani. Selain itu, fans Liverpool membenci keputusannya untuk pindah ke Chelsea. 

Bahkan kapten Liverpool saat itu, Steven Gerrard mengaku marah. Pasalnya sebelum pindah Gerrard sempat membujuk Torres agar tidak pindah. Loyalitas Torres dianggap tergadaikan dengan pundi-pundi Poundsterling. 


6. Kutukan 50juta Poundsterling

Fernando Torres

Benar saja bersama Chelsea, Torres tak jua bangkit. Musim pertamanya di Chelsea, Torres hanya mampu mencetak 1 gol. Sangat miris. Uang 50juta Poundsterling seperti kutukan untuk karier Torres berikutnya. 

Meski sempat jadi pahlawan untuk Chelsea karena cetak gol ke gawang Barcelona di liga Champions pada menit-menit akhir, ketajama Torres dipertanyakan oleh banyak pihak. 

Pun saat ia meraih Golden Boot di Euro 2012, publik Inggris terlanjur mencapnya sudah tidak lagi tajam untuk ukuran penyerang. Bahkan saat mantan pelatihnya, Rafa Benitez membesut Chelsea pada 2012, Torres seperti dipinggirkan. 

Torres pernah menganalogikan penderitaanya di Chelsea saat itu seperti berenang dengan menggunakan pakaian basah. Kedatanga Jose Mourinho di 2013/14 semakin menambah dingin penderitaan Torres. Ia pun hijrah ke Italia dengan membela AC Milan sebagai pemain pinjaman. 

Januari 2015, Torres seperti dipanggil kembali publik Vicente Calderon. Ia mendapat kontrak permanen setelah sebelumnya jadi pemain pinjaman di klub masa kecilnya tersebut. 

Ketajaman Torres kembali muncul usai kembali gunakan nomor 9 di Atletico Madrid. Ia kembali menjadi penyerang tajam yang minim sorotan. Torres pernah berujar soal pengalaman hidupnya di Liverpool. 

"Tiga setengah tahun di sana (Liverpool) telah mengubah hidup saya. Aku merasa seorang raja disana namun di tahun-tahun terakhir menjadi berbeda," kata Torres. 

Setelah dianggap 'Judas' oleh fans Liverpool, Torres kini pulang kampung dan dianggap dewa oleh fans Atletico Madrid. Ia akan tetap dianggap sebagai pahlawan oleh publik Vicente Calderon. Anak dari pinggiran kota Madrid yang jadi bintang di tanah Ratu Elizabeth. 

Fernando TorresIn Depth Sports

Berita Terkini