x

3 Perbedaan Melatih Timnas dan Klub

Selasa, 14 Juni 2016 15:10 WIB
Editor: Yohanes Ishak

Pada era modern masa kini, perbedaan yang paling siginifikan adalah dalam sebuah klub banyak pemain yang berbeda-beda negara, sangat sedikit pula dalam satu klub yang dihuni oleh pemain murni lokal dalam liga domestik klub tersebut.

Bagi seorang pelatih, tentu memiliki ambisi dan tantangan yang berbeda untuk menangani setiap tim yang mereka besut, baik itu di klub maupun negara.

Sejatinya, melatih sebuah klub untuk meraih kesuksesan baik dalam membangun tim yang bagus ataupun mengangkat gelar juara lebih mudah daripada menangani timnas untuk menjadi juara di benuanya sendiri apalagi menjadi juara dunia.

Lalu di manakah letak perbedaannya? Berikut ini INDOSPORT merangkumnya sesuai yang dilansir dari SKD:


1. Faktor Finansial

Roman Abramovich, sosok miliuner yang memiliki klub Chelsea.

Melatih sebuah klub, tentu lebih mudah karena setiap klub pastinya memiliki pemilik atau sumber uang untuk mendatangkan sejumlah pemain berkualitas dari berbagai negara.

Sebut saja klub-klub yang dimiliki seorang milioner seperti, Chelsea, Manchester City, Real Madrid, Paris Saint-Germain (PSG), dan masih banyak lagi.

Dengan memiliki dana yang melimpah, mereka dapat mendatangkan pemain berkualitas tinggi yang disertai dengan gaji menggiurkan. Hal ini tentu saja memudahkan bagi pelatih dalam klub untuk meracik taktiknya di setiap pertandingan.

Sementara pelatih yang menangani negara atau timnas, mereka harus mencari, memantau, sekaligus memilih pemain dengan melihat peformanya bersama klub.

Hal ini tentu tidak mudah, karena pastinya dalam satu musim, ada pemain yang memiliki peforma sama bagusnya, sehingga setiap pelatih harus mengorbankan pemain lain yang juga sedang dalam level permainan tingkat tingginya.

Ada pula timnas yang pemainnya sedang di bawah peforma atau dirundung cedera, tidak hanya itu, pelatih yang menangani negara juga harus memutar otaknya, karena tidak semua timnas memiliki pemain berlabel bintang atau karier profesional di tingkat klub.


2. Waktu Latihan Jadi Faktor Utama

Vicente del Bosque, pelatih timnas Spanyol, salah satu contoh juru taktik yang memiliki waktu terbatas untuk menangani tim besutannya.

Setelah disebabkan karena faktor finansial, pelatih timnas juga harus dipersulit dengan waktu latihan dengan anak-anak asuhnya.

Hal ini terjadi karena mereka harus menunggu waktu dalam hitungan bulan atau saat jeda liga domestik untuk pertandingan internasional.

Sementara pelatih yang menangani sebuah klub dapat bertemu dengan tim asuhannya setiap minggu bahkan tidak menutup kemungkinan bertemu setiap hari.

Tentu saja pelatih klub dapat menentukan skema taktik yang ia inginkan dan mengarahkan timnya jauh lebih cepat, daripada pelatih timnas yang harus menunggu waktu cukup lama untuk mengasah taktik yang ia inginkan.

Belum lagi kalau ada pemain yang sebelumnya dipanggil cedera, maka ia harus kembali memutar otak untuk meracik taktik dengan si pemain baru. Beruntung jika si pemain yang baru dipanggil timnas mampu cepat beradaptasi, bagaimana kalau tidak?


3. Persiapan Jangka Panjang

Para bibit muda dari akademi klub Barcelona, La Masia.

Hampir setiap klub profesional memiliki akademinya masing-masing, sehingga cukup banyak pemain-pemain muda di dalamnya dapat dijadikan pemain masa depan klub.

Dengan kata lain, setiap klub memiliki persiapan jangka panjang dengan pemain muda yang mereka asah dengan penanganan yang tepat.

Sosok pelatih Jose Mourinho merupakan salah satu pelatih jenius, namun kurang memaksimalkan kemampuan pemain muda dari akademi klub yang ia latih.

Padahal dii level Internasional, bagi para pelatih mereka tidak dapat memiliki kesempatan istimewa seperti hal tersebut, karena pastinya mereka hanya bisa memanggil pemain yang telah memiliki klub resmi.

Sedangkan untuk memiliki keinginan pemain muda berbakat, mereka harus memasukan si pemain terlebih dulu ke dalam klub. Tentunya, klub tersebut belum tentu memainkan pemain muda yang dipercayakan oleh pelatih internasional, karena mereka juga memiliki kebutuhan yang berbeda.

Hal inilah yang membuat pelatih internasional tidak dapat memiliki persiapan jangka panjang untuk setiap kompetisi yang siap mereka lakoni.

Euro 2016Copa America Centenario 2016Bola Internasional

Berita Terkini