x

Rekam Jejak Sang Pelatih Sejati Persib Bandung, Djajang Nurjaman

Rabu, 29 Juni 2016 07:37 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto

Persib Bandung dikenal sebagai klub papan atas Indonesia. Tim Maung Bandung tercatat sudah berhasil meraih gelar juara kompetisi bergengsi Indonesia sebanyak tujuh kali, mulai dari era Perserikatan, Liga Indonesia, hingga Indonesia Super League (ISL) 2014.

Tim Pangeran Biru berhasil menjadi juara era Perserikatan pada tahun 1939, 1961, 1986, 1990, dan 1994. Lalu menjadi juara Liga Indonesia tahun 1995. Kemudian menjadi juara ISL 2014.

Raihan prestasi yang diraih Persib tersebut tak terlepas dari sosok para pemain dan pelatih hebat yang pernah memebela tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut. Sebut aja, Robby Darwis, Aang Witarsa, Omo Suratmo, Adeng Hudaya, Adjat Sudrajat, Yana Rodiana, Subangkit, dan Dede Rosadi, hingga pelatih kawakan seperti, Indra Thohir dan Nandar Iskandar pernah membela Persib.

Namun, dari sekian banyak nama-nama top yang lahir dari Persib, ada satu yang menjadi perhatian lebih, yakni Djajang Nurjaman. Maklum saja, pria yang kini berumur 52 tahun tersebut lebih banyak menorehkan tinta emas bagi Persib

Tercatat, pria yang akrab disapa Djanur tersebut pernah membawa Persib menjadi yang terbaik di Indonesia sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih.

Ia pernah membawa tim Maung Bandung menjuarai Perserikatan pada tahun 1986 dan 1994 sebagai pemain. Lalu membawa Persib menjadi juara Liga Indonesia sebagai asisten pelatih Indra Thohir. Kemudian membawa Persib menjadi juara ISL 2014 sebagai pelatih kepala. Terakhir, Djanur berhasil membawa Piala Presiden 2015.

Usai mengukir banyak prestasi bagi Persib, Djanur resmi meninggalkan Persib. Ia meninggalkan tim yang membesarkan namanya untuk mengejar lisensi kepelatihan AFC A hingga UEFA. Ia pun mengikuti ilmu kepelatihan di salah satu klub papan atas Serie A Italia, Inter Milan.

Posisi Djanur akhirnya digantikan Dejan Antonic. Pelatih asal Serbia tersebut menjadi pelatih Persib di turnamen Bali Island Cup, Piala Bhayangkara, dan kompetisi Torabika Soccer Championship (2016).

Sayang, sepak terjang Dejan tak segemilang Djanur. Ia gagal membawa Persib bersaing di papan atas kompetisi TSC 2016. Hal tersebut membuat Dejan mengundurkan diri sebagai pelatih Persib.

Kekosongan pelatih Persib langsung diisi oleh asisten yang pernah bekerjasama dengan Dejan dan Djanur, yakni Herrie Setyawan. Akan tetapi, pria berkepala plontos itu hanya ditunjuk sebagai pelatih sementara.

Tidak mau menunggu lama, manajemen Persib akhirnya resmi memanggil kembali Djanur untuk menangani Persib. Ia pun menerima pinangan tim Pangeran Biru usai tidak melanjutkan kursus kepelatihannya di Inter Milan.


Djajang Nurjaman.

Hal tersebut membuat Djanur bisa dibilang sebagai pelatih sejati Persib. Pasalnya, Persib tak pernah lepas dari sosok pria asal Majalengka tersebut. Meski sejumlah nama sempat diisukan menjadi suksesor Dejan, seperti Jacksen F. Thiago. 

Kini, beban berat untuk mengembalikan kejayaan Persib ada di pundak Djanur. Ia bersiap mengembalikan nama besar Persib di TSC 2016.

Meski begitu, ada kalanya kita mengenal rekam jejak sang pelatih sejati Persib tersebut. Untuk itu INDOSPORT telah menyiapkan rekam jejak pria kelahiran 30 Oktober 1964 tersebut. Berikut ulasannya:


1. Awal Karier Djajang Nurjaman Sebagai Pemain dan Asisten Pelatih

Bakat sepakbola yang dimiliki Djanur sebetulnya sudah terlihat sejak kecil. Ia kerap kali bermains sepalbola di tanah kelahirannya, Majalengka.

Ketika itu, ia bermain di sebuah lapangan yang terletak di kampung halamannya. Pasalnya, Sekolah Sepakbola (SSB) saat itu belum ada.

Seiring berputarnya waktu, Djanur bergabung dengan klub internal Persib saat usianya 17 tahun. Ia pun mulai menitih kariernya sebagai pesepakbola profesional bersama Persib.

Kemudian, Djanur meninggalkan Persib untuk membela Mercu Buana di kompetisi Galatama. Djanur membela Mercu Buana mulai tahun 1980-1985.

Setelah itu, ia kembali berseragam Persib. Langkah demi langkah dilalui Djanur untuk berusaha membawa tim Maung Bandung menjadi juara.


Djajang Nurjaman ketika melatih Persib Bandung di Piala Presiden 2015.

Akhirnya mimpi itu terwujud. Ia mampu merebut gelar bergengsi pertamanya sebagai pesepakbola profesional bersama Persib. Ketika itu, Djanur berhasil membawa tim Maung Bandung merebut gelar kompetisi Perserikatan tahun 1986. Kala itu, Djanur berhasil mencetak gol semata wayang kemenangan Persib atas Perseman Manokwari dengan skor 1-0 di laga final.

Empat tahun berselang, Djanur kembali membawa Persib menjadi juara Perserikatan. Ia bersama Persib berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 2-0 di laga final.

Langkah Djanur bersama Persib semakin gemilang usai ditunjuk menjadi asisten pelatih Indra Thohir. Ia ikut andil mengantarkan tim Pangeran Biru menjuarai Perserikatan tahun 1994 dan Liga Indonesia 1995.

Ketika itu Persib berhasil mengalahkan PSM Makassar dengan skor 2-0 melalui gol yang dicetak oleh Yudi Guntara pada menit ke-26 dan Sutiono Lamso pada menit ke-71 pada laga final Perserikatan musim 1993-1994.
Lalu berhasil mengandaskan Petrokimia Putra dengan skor 1-0 melalui gol dari Sutiono pada menit ke-76 di final Liga Indonesia I tahun 1995.


2. Karier Djanur Sebagai Pelatih Kepala

Djanur akhirnya meniti karier sebagai pelatih kepala usai membawa menorehkan tinta emas bersama Persib selaku pemain dan asisten pelatih. Ia mengawali karier kepelatihannya pada tahun 1997 untuk menangani Persib U-15.

Langkahnya menjadi pelatih kepala terus berlanjut. Ia kahirnya didapuk sebagai pelatih Persib U-17, lalu ke U-21, dan U-23. Ia pun mendapat pengalaman berarti untuk menjadi pelatih ke beberapa klub elit Indonesia.

Selanjutnya, Djanur mengembangkan karier sebagai pelatih Pelita Jaya pada ISL musim 2009-2010. Pengalamnnya bersama Pelita Jaya membawanya ke Persib.  Ia akhirnya resmi menjabat pelatih Persib pada tahun 2012. Djanur ditunjuk sebagai pelatih tim Maung Bandung atas permintaan sang manajer tim Pangeran Biru, Umuh Muchtar.

Di tahun pertamanya menangani Persib, Djanur berhasil membawa Persib finis di posisi keempat ISL 2012-2013. Setelah itu, ia membentuk tim Maung Bandung dengan materi pemain berkualitas.

Apa yang dilakukan Djanur tidak sia-sia. Ia berhasil mempersembahkan gelar juara ISL 2014 bagi Persib, di tahun keduanya. 

Ketika itu, Maung Bandung berhasil mengalahkan Persipura Jayapura di partai final melalui drama adu tendangan penalti 5-3 (2-2) di Stadion Gelora Jakabaring Palembang. Seluruh algojo Persib berhasil menuntaskan tugasnya dengan baik. Bek tengah Persib, Ahmad Jufrianto menjadi penentu kemenangan, saat ia mengeksekusi tendangan penalti terakhir tim Maung Bandung.


Djajang Nurjaman.

Tak sampai di situ, Djanur akhirnya kembali membawa Persib menjuarai sebuah turnamen bergengsi Indonesia, usai kompetisi resmi ISL 2015 dihentikan akibat konflik sepakbola nasional yang berunjung pada pembekuan PSSI oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Turnamen tersebut bernama Piala Presiden 2015.

Keberhasilan itu diraih usai mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 2-0 pada laga final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Oktober tahun lalu.

Setelah itu, Djanur gagal mempersembahkan gelar juara bergengsi untuk Persib di turnamen selanjutnyayang digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi resmi di Indonesia, yakni Piala Jenderal Sudirman 2015. Tim Pangeran Biru gagal lolos dari babak penyisihan grup.


3. Misi Bersama Persib di TSC 2016

Usai kegagalan Persib di Piala Jenderal Sudirman, Djanur memutuskan untuk meninggalkan kursi kepelatihan tim Maung Bandung. Hal itu dilakukan karena Djanur harus mengikuti kursus kepelatihan di klub Serie A Italia, Inter Milan.

Kursus kepelatihan tersebut dilakukan agar Djanur mampu memeproleh lisensi kepelatihan AFC A hingga UEFA. Hal itu dilakukan guna dapat mendampingi tim yang dilatihnya pada berbagai ajang kompetisi bergengsi dunia, seperti Liga Champions Asia dan Piala AFC. Maklum saja hal tersebut harus dikejar oleh Djanur. Mengingat, ia tidak bisa mendampingi Persib ketika berlaga di Piala AFC 2014.

Selama menimba kursus kepelatihan, posisi Djanur digantikan Dejan Antonic. Pelatih asal Serbia tersebut didapuk untuk melatih Atep Cs di beberapa turnamen selanjutnya, yakni Bali Island Cup 2016 dan Piala Bhayangkara 2016.

Dejan pun gagal membawa Persib menjadi juara Bali Island Cup dan Piala Bhayangkara. Tim maung Bandung dikalah bersaing dengan Arema Cronus di Bali Island Cup 2016. Lalu kembali dipecundangi Arema di laga final Piala Bhayangkara.

Meski begitu, mantan pelatih Pelita Bandung Raya (PBR) tetap dipercaya manajemen untuk melatih Persib. Ia berniat membalas kegagalannya di beberapa turnamen dalam ajang kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) 2016.

Sayang, Dejan gagal meraih misinya bersama Persib. Tim Maung Bandung terpuruk di TSC 2016. Mereka hanya meraih sekali kemenangan dari tujuh laga. Hasil tersebut membuat Dejan resmi mengundurkan diri dari jabatannya selaku pelatih Persib.

Saat Dejan mengundurkan diri, Djanur sebetulnya sudah berada di Bandung untuk mengurus visa demi melanjutkan kursus kepelatihannya di Inter Milan. Namun, ia gagal kembali ke Inter Milan usai isu terorisme berkembang di Eropa termasuk negara klub tempatnya menimba ilmu kepelatihan, Italia.


Djajang Nurjaman.

Akan tetapi, Djanur tidak mengisi langsung kursi kekosongan pelatih Persib. Justru, Herrie Setyawan yang notabennya asisten pelatih era Djanur dan Dejan diplot sebagi pelatih sementara Persib.

Akhirnya, Djanur pun kembali melatih Persib. Kepastian itu lahir usai Djanur diminta manajemen Persib untuk kembali melatih Hariono dan kawan-kawan, atau sehari setelah tim Maung Bandung dikalahkan Pesegres Gresik United dengan skor 1-2 pada laga pekan kedelapan TSC 2016.

Ia pun mengusung misi untuk mengembalikan kejayaan dan nama besar Persib di persepakbolaan Indonesia. Djanur siap membentuk kembali kekuatan tim Pangeran Biru guna bersaing dalam perebutan gelar juara TSC 2016.

"Yang utama dibenahi yakni masalah mental. Sebetulnya secara kualitas para pemain yang dimiliki Persib sudah bagus. Tapi karena hasil di awal TSC yang kurang baik, otomatis berdampak pada mental. Sehingga hasil-hasil pertandingan di depan juga kurang baik," ujar Djanur.

"Tapi secara keseluruhan saya akan membentuk kekompakkan karena belum terjadi. Walaupun saya diluar saya juga mengikuti. Saya sudah punya kiat tersendiri. Saya pikir semuanya harus dalam kebersamaan seperti berangkat latihan bersama-sama. Yang saya tahu kan sebelumnya tidak seperti itu. Mereka berangkat latihan sendiri-sendiri," pungkasnya.

Persib BandungLiga Indonesia

Berita Terkini