x

(EKSKLUSIF) Nil Maizar: Curahan Hati Soal Karier, Keluarga, Semen Padang dan Timnas

Minggu, 3 Juli 2016 13:00 WIB
Kontributor: Taufik Hidayat | Editor: Tengku Sufiyanto

Nil Maizar dikenal sebagai salah satu pelatih lokal papan atas Indonesia. Pelatih asal Payakumbuh tersebut tercatat pernah menukangi sejumlah klub besar, seperti Semen Padang dan Persisam Putra Samarinda.

Selain itu, pelatih berumur 46 tahun tersebut juga pernah menukangi Timnas Indonesia. Kala itu, ia menukangi Timnas Indonesia untuk berlaga di ajang Piala AFF 2012.

Berbagai macam prestasi pernah diraihnya, ia pernah merebut gelar juara Indonesia Premier League (IPL) 2012 bersama Semen Padang.

Akan tetapi, sebetulnya Nil Maizar memulai kariernya di dunia sepakbola nasional sebagai pesepakbola. Ia pernah membela Semen Padang dan PSP Padang.

Maka bisa dibilang, karier gemilang Nil tak terlepas dari Semen Padang. Tim Kabau Sirah bisa dibilang menjadi belahan jiwanya.

Ia memulai kariernya sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih dari klub yang bermarkas di Stadion Haji Agus Salim tersebut.


Grafis Tentang Nil Maizar.

Tak hanya Semen Padang, dukungan keluarga juga tidak bisa dilepaskan dari karier gemilang pelatih kelahiran 2 Januari 1970 tersebut.

Nil secara gamblang memberikan kisah perjalanannya meniti karier sebagai pemain, asisten pelatih, hingga pelatih kepada INDOSPORT.

Tak ketinggalan, segi humanis kesehariannya, dukungan keluarga, ungkapan yang tak pernah diucapkannya ketika menangani Timnas Indonesia, peluang melanjutkan kariernya di luar negeri, cita-citanya, dan jerih payahnya dalam berkarier di dunia bal-balan juga dicurahkan dari hati seorang pelatih yang terkenal akan kedisiplinannya tersebut.

Berikut rangkuman dan kutipan wawancara Nil Maizar bersama INDOSPORT:


1. Perjalanan Karir Nil Maizar Sebagai Pemain

Nil Maizar

Seperti kebanyakan pelatih, Nil Maizar mengawali kariernya sebagai pemain sepakbola. Nil mulai bermain sepakbola dari usia 10 tahun dengan bergabung dengan klub kampung halamannya, Mandala FC. Di klub asal Kelurahan Kota Nan Ampek, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat tersebut, Nil kecil mengasah kemampuannya bermain bola.

Memiliki kemampuan yang menonjol, Nil sering bermain di berbagai kejuaran usia dini di Sumbar. Memasuki Sekolah Menengah pertama (SMP), ia mulai dikenal oleh sebagian besar orang-orang bola Ranah Minang.

Hasilnya, beberapa kali dia dipanggil oleh daerah lain di Sumbar untuk memperkuat tim mereka. Hampir semua tim dari berbagai daerah Sumbar sudah pernah diperkuat Nil dalam berbagai kejuaraan tingkat daerah.

“SMP kelas 1 saya sudah mulai menjadi pemain jemputan di Sumbar, saya pernah bermain untuk klub di Padang Panjang, Pangkalan, Pasaman, Padang, dan lain-lain,” ujar Nil.

Meski sudah menjadi salah seorang pemain yang sering dibawa beberapa daerah lain untuk mengikuti turnamen atau kejuaraan, bukan berarti bayaran yang diterima Nil sama dengan kontrak yang diterima pemain-pemain profesional sekarang. Saat itu dia lebih sering hanya dikasih uang makan. 


Nil Maizar saat memimpin latihan Semen Padang.

Namun, kecintaan kepada sepakbola membuatnya selalu senang menjalani hari-harinya sebagai pemain bayaran non profesional di Sumbar.

“Pertama kali habis main diajak makan, kemudian ada juga yang kasih uang, tapi tidak banyak paling Rp2 ribu atau Rp5 ribu,” jelas pelatih yang kini berusia 46 tahun itu.

Nil merasa cukup beruntung karena aktifitasnya sebagai pemain bola tidak pernah mendapat ganjalan dari orang tua yang semasa itu masih berjualan di salah satu pasar tradisional di Payakumbuh, tanah kelahirannya.

“Orang tua tidak pernah melarang, meski sibuk main bola saya tetap membantu orangtua berjualan di Pasar Batingkek, Payakumbuh,” terangnya.

Mulai memasuki SMA, Nil bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Padang. Akan tetapi, ia tidak lama menuntut ilmu di sana, karena sudah dipanggil PSSI untuk mengikuti pemusatan latihan Pra Olimpiade di Cibubur, Jakarta.

Dari situ mulailah hari-harinya dilewati sebagai siswa diklat Ragunan. Saat itu Nil Maizar menjadi satu-satunya putra Ranah Minang yang dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan yang dilaksanakan selama lima tahun 1986 sampai 1991 tersebut.

Setelah itu, Nil kembali terpilih sebagai anggota tim Garuda II periode 1989-1991. Tahun 1990 Nil sempat merasakan magang di salah satu klub terbesar Republik Ceko, yaitu Sparta Prague.

Sekembalimnya dari Ceko, Semen Padang langsung memanggilnya. Dia memperkuat klub yang kini dilatihnya tersebut selama lima tahun 1992-1997.

Tahun 1999 Nil Maizar memutuskan untuk gantung sepatu dan memilih melanjutkan pendidikan dengan kuliah di Universitas Ekasakti, Padang. Di sana, ia mendapat gelar sarjana ekonomi.


2. Kisah Karier Nil Maizar Sebagai Pelatih dan Targetnya Bersama Semen Padang di TSC 2016

Nil Maizar

Karier Nil sebagai pelatih bisa dibilang berjalan sangat cepat. Dia mengawali kariernya sebagai pelatih dengan menangani salah satu tim lokal Padang, Mangkudun FC. Di sana, dia melatih para pemain muda untuk bisa berprestasi dan menjadi pemain profesional.

Untuk bayaran Nil mengaku hanya dibayar perlatihan saja, ketika itu dia hanya mendapat bayaran sekitar Rp20ribu setiap kali latihan.

“Namanya juga pelatih amatir. Jadi setiap kali latihan diberi uang, bukan gaji tapi mungkin lebih ke uang lelah saja,” tuturnya.

Dari sana dia tidak butuh waktu lama untuk kembali dilirik mantan timnya Semen Padang. Tahun 2004, Nil tercatat sebagai pelatih Galatama Semen Padang (pelatih junior).

Beberapa tahun dihabiskan Nil untuk melatih pemain-pemain muda Semen Padang. Sampai akhirnya ia ditunjuk sebagai asisten Arcan Iurie di Divisi Utama tahun 2009.

Musim 2009-2010, Nil Maizar berhasil membawa Semen Padang promosi ke Indonesia Super Leguae (ISL) setelah menaklukkan Persiram Raja Ampat pada perebutan peringkat tiga dengan skor 1-0 di Stadion Manahan Solo.

“Saat tim promosi ke Liga Super saya ditunjuk manajemen sebagai pelatih kepala,” terangnya.

Dari situ karier kepelatihan Nil Maizar semakin menanjak, namanya mulai dikenal sebagai salah satu pelatih debutan berpotensi besar.

Musim perdananya bersama Semen Padang, dia mampu mengantarkan Semen Padang menduduki posisi empat klasemen akhir ISL musim 2010-2011.

Setelah itu, Nil mampu membawa Semen Padang menjuarai IPL musim 2011-2012. Ketika itu, IPL yang disahkan PSSI sebagai liga profesional.

Maklum saja, sepakbola Indonesia sedang berada di kondisi dualisme antara PSSI dan Komisi Penyelamatan Sepakbola Indonesia (KPSI). Akibatnya, ada dua liga profesional di Tanah Air, yakni ISL dan IPL.

“Membangun tim itu adalah membangun hati. Hubungan yang terjalin antara pelatih dan pemain harus dari hati ke hati. Setiap pemain butuh perhatian, kalau sudah memiliki hubungan bagus dengan pemain, semua program latihan apa saja yang diberikan pelatih akan dijalani pemain dengan ikhlas,” ungkap Nil.

Setelah sukses bersama Semen Padang, Nil menukangi Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2012. Lalu, ia menjadi pelatih Persisam Putra Samarinda satu musim di ISL 2014-2015. Kemudian, Nil kembali melatih Semen Padang hingga saat ini.


Nil Maizar memimpin anak-anak asuhnya di Semen Padang saat berlaga dalam pertandingan TSC 2016.

Ia menjadi pelatih tim Kabau Sirah di kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Ia pun mengungkapkan targetnya bersama Semen Padang di kompetisi garapan PT Gelora Trisula Semesta (GTS) tersebut.

“Sama dengan manajemen saya ingin membawa Semen Padang finis di papan atas. Namun, semua tergantung aplikasi di lapangan, proses persiapan harus bagus, makan dan tidur, motivasi dari internal dan eksternal juga harus bagus,” kata Nil.

Saat ini, Semen Padang berhasil menduduki posisi keenam klasemen sementara TSC 2016 dengan torehan 13 poin.

“Kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk TSC A 2016,” katanya.


3. Pentingnya Dukungan Keluarga

Nil Maizar

Selama menjalani profesinya sebagai pelatih, Nil Maizar mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga. Menurutnya, dukungan penuh keluarga selalu diberikan oleh anak dan istri. Di saat mentalnya terpuruk dan dalam kondisi sangat butuh dukungan, keluargalah yang pertama kali memberikan semangat.


Nil Maizar besama sang istri dan dua anaknya.

“Saya sering tidak tega kalau melihat anak sampai menangis kalau melihat saya merasa kalah. Dukungan tulus dan ikhlas anak-anak sangat membantu menguatkan saya,” kata pelatih kelahiran 2 Januari 1970 itu.


Nil Maizar bersama anaknya.


4. Curahan Hati Nil Maizar Soal Timnas Indonesia

Nil Maizar

Nil sempat menangani Timnas Indonesia di tengah dualisme sepakbola nasional antara PSSI dan KPSI. Saat itu, Nil menukangi Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2012.

Ia hanya bisa memanggil pemain-pemain dari kompetisi IPL saja, sementara pemain-pemain terbaik di kompetisi ISL tidak bisa dipanggilnya kala itu. Pasalnya, IPL menjadi kompetisi resmi yang diakui PSSI.

Sayang, Nil gagal membuat Indonesia berbicara banyak. Timnas Indonesia gagal lolos dari babak penyisihan Grup B Piala AFF 2012. Skuat Merah Putih hanya mampu mengumpulkan empat poin dari tiga pertandingan.

Meski begitu, apa yang diraih Nil bersama Timnas Indonesia patut diacungi jempol. Ia bersedia melatih Timnas Indonesia di tengah dualisme sepakbola nasional dengan diperkuat pemain seadanya dari kompetisi IPL.

Setelah itu, Nil sebetulnya berkesempatan melatih Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2016. Ia menjadi kandidat pelatih Timnas Indonesia bersama Rahmad Darmawan dan Indra Sjafri. 

Namun, PSSI akhirnya resmi menunjuk Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2016. Ia pun merasa tidak mendapat informasi langsung dari PSSI soal penunjukan Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia.

“Terkait penunjukan Alfred Riedl sebagai pelatih saya tidak pernah mendapat informasi sebelumnya. Bahkan saya hanya mengetahui hal itu dari media,” ungkap Nil.


Nil Maizar unjuk kebolehan mengolah si kulit bundar.

Meski begitu, Nil tidak kecewa. Dia berpesan agar Timnas Indonesia di bawah asuhan Riedl menjadi tim yang berkarakter kuat.

“Ada 300 juta jiwa lebih penduduk Indonesia, dan hal itu harus dipertanggungjawabkan, baik oleh pelatih maupun pemain sendiri. Untuk itu, pemilihan pemain harus dilakukan seprofesional mungkin,” harapnya.

Ditanya terkait cita-citanya sebagai pelatih yang belum tercapai, Nil Maizar tidak mau muluk. Ia mengaku hanya ingin menjalani karier sebaik mungkin ke depan dan melihat nantinya apa yang nantinya akan terjadi.

“Kalau suatu saat diminta kembali untuk Timnas saya akan bersedia, tapi saya tidak akan pernah meminta. Dan kalau bisa menjadi juara tentunya akan sangat menyenangkan,” ujarnya.


5. Ungkapan Nil Maizar Pernah Dilirik Tim Luar Negeri

Nil Maizar

Nil ternyata pernah dilirik salah satu klub Brunei Darussalam, namun saat itu kesempatan yang datang tidak diambilnya karena masih ingin berkarier di Indonesia.

“Sempat waktu itu ada tawaran ke Brunei, tapi saya belum bisa ambil karena masih ada yang harus diselesaikan di Indonesia,” jelasnya.


Nil Maizar kala memberikan instruksi kepada para pemain Semen Padang di saat latihan.

Namun demikian, pelatih flamboyan itu tidak memungkiri dia memiliki keinginan untuk suatu saat ingin mencoba petualangan sebagai pelatih sampai ke luar negeri.

“Kalau ada tawaran yang memang menjanjikan dan waktunya tepat saya akan mengambil,” ungkapnya.

Semen PadangIndonesiaNilmaizarWawancara KhususTorabika Soccer Championship (TSC)Liga Indonesia

Berita Terkini