WAWANCARA EKSKLUSIF Zein Al Hadad, Pelatih Persija yang Turut Mengalahkan Arsenal
Zein Al Hadad merupakan striker legendaris di era kompetisi Galatama. Bermain untuk Niac Mitra, yang kini bernama Mitra Kukar, dia sempat menyabet gelar top scorer pada musim 1987/88.
Menariknya, pelatih yang akrab disapa Mamak itu ternyata memiliki kisah yang cukup mirip dengan legenda Manchester United, Ryan Giggs. Keduanya pernah menjalani karier sebagai pemain sekaligus pelatih, hingga sama-sama membenamkan raksasa Liga Inggris, Arsenal.
Karier kepelatihan Zein Al Hadad juga cukup mengagumkan. Ia pernah berhasil membawa Deltras Sidoarjo mengakhiri puasa gelar selama 14 tahun dengan bermaterikan pemain pas-pasan di tengah kesulitan finansial klub.
Kini Mamak diberi kepercayaan untuk mengembalikan kejayaan Persija dan mengangkat kembali nama besar Macan Kemayoran yang saat ini terdampar di papan bawah klasemen TSC A 2016.
Seperti apa perjalanan dan kisah pria bernama lengkap Muhammad Zein Al Hadad itu? Berikut INDOSPORT mencoba menyajikan untuk pembaca setia.
1. Karier Sebagai Pemain
INDOSPORT: Ceritakan sedikit mengenai awal karier anda sebagai seorang pemain?
Zein Al Hadad: Saya memulai karier tahun 1977 sampai 1979 di Mitra muda, waktu itu belum yang Niac Mitra. Niac Mitra sendiri lahir 1979 dengan kompetisi Galatama. Saya ada di klub baru yang namanya Mitra Surabaya waktu itu. Sebelumnya ikut liga amatir dan kemudian ke Liga Galatama tahun 1980 bergabung ke Niac Mitra Galatama sampai tahun 1990, di mana Niac Mitra dibubarkan.
INDOSPORT: Apa saja yang anda alami selama menjadi seorang pemain?
Zein Al Hadad: Dalam arungan sepuluh tahun itu saya mengantarkan Niac Mitra beberapa kali juara. Pertama kali kita runner up terus tahun 1980-82 kita juara. Tahun 1982-83 pemain asing mulai dibuka masuk dimana Fandi Ahmad sama David Lee bergabung ke Niac Mitra dan kita juara lagi.
INDOSPORT: Masuknya pemain asing apakah berpengaruh terhadap kinerja dan permainan anda sendiri?
Zein AL Hadad: Saya rasa tidak terlalu yah, memang tahun berikutnya banyak terjadi perombakan dan pemain banyak yang pindah. Tetapi di 1984 itu saya naik jadi kapten dan banyak pemain muda. Seterusnya di tahun 1987-88, Niac Mitra juara lagi di mana saya menjadi kapten dan top skor.
INDOSPORT: Setelahnya?
Zein Al Hadad: Kemudian di tahun 1988-89 harusnya Niac Mitra juara tetapi karena waktu itu ada kasus jadi istilahnya juara tak bermahkota. Setahun berikutnya di tahun 1990, Niac Mitra akhirnya resmi dibubarkan.
2. Prestasi Individu Sebagai Pemain
INDOSPORT: Apa saja prestasi yang anda raih sebagai saat masih menjadi pemain aktif?
Zein Al Hadad: Saya pernah jadi top skor di Piala Surabaya, terus juga Piala Tugu Muda Cup Semarang maupun Liga Galatama.
INDOSPORT: Selain itu?
Zein Al Hadad: Saya terpilih 88 jadi atlet terbaik terbaik sepakbola dari KONI Jatim.
INDOSPORT: Bagaimana dengan saat membela Timnas?
Zein Al Hadad: Saya sempat memperkuat Timnas saat tahun 1986, 1987, 1988, dan 1989 di PSSI Galatama Selection. Ikut juga diajang Kings Cup di Tahiland (tahun 1986,1987,1988) Pra Piala Asia, Piala Kemerdekaan, terus Pra Piala Dunia.
INDOSPORT: Tahun 1990 saat Niac Mitra bubar, apa yang anda lakukan, kabarnya anda juga memutuskan gantung sepatu saat itu?
Zein Al Hadad: Sebetulnya saya tidak gantung sepatu tahun 1990, saat Niac Mitra bubar, saya bersama teman-teman di daerah Surabaya diajak bergabung ke salah satu tim, Assyabaab Salim Group Surabaya, klub internal Persebaya Surabaya.
Tetapi baru sebulan atau dua bulan seperti itu, pelatihnya meninggal terus saya naik jadi playing coach, pemain merangkap pelatih. Akhirnya disitu keterusan, mau main lagi juga sudah gimana, akhirnya 1991, 1992, dan 1993 saya jadi pelatih asisten. Setelahnya jadi pelatih kepala dari 1994-1997 sampai bubar.
3. Turut Benamkan Arsenal Tahun 1983
INDOSPORT: Ketika Arsenal mengunjungi Indonesia dan melakukan uji coba dengan Niac Mitra, apakah anda juga turut berpartisipasi dalam laga tersebut?
Zein Al Hadad: Waktu Niac Mitra lawan Arsenal saya paling muda waktu itu. Saya main juga sebagai pemain pengganti di babak kedua, kita unggul 2-0 tapi mainnya itu pukul setengah tiga jadi Arsenal itu kepanasan.
INDOPSORT: Apa yang anda rasakan saat itu? Apakah punya kenang-kenangan spesial dari laga tersebut?
Zein Al Hadad: Saya dikasih kesempatan main buat nambah pengalaman. Senang bisa main sama bintang-bintang dunia, walaupun cuma sebentar. Saya juga minta tanda tangan, saya lupa siapa namanya tapi masih disimpan di rumah.
4. Momen 'Gila' di Awal Melatih Klub
INDOSPORT: Saat menjajaki karier sebagai pelatih, apa saja momen terbaik menurut Anda?
Zein Al Hadad: Saat pertama kali jadi pelatih dan pemain di Assyabaab Salim Group Surabaya. Waktu itu lawan Barito Putera, setengah main kita 0-0, dan kedudukan masih sama saat babak kedua berjalan sekitar 15 menit. Akhirnya saya masuk karena pemain cedera, tujuannya beri semangat kepada anak-anak tapi di situ pertaruhan saya.
Ibaratnya antara madu dan racun kalau kalah habislah saya, tapi Alhamdulillah kita akhirnya menang satu kosong, itu pengalaman yang paling mendebarkan.
INDOSPORT: Kapan anda mendapatkan lisensi kepelatihan, yang juga menegaskan profesi sebagai seorang pelatih?
Zein Al Hadad: Saya pertama ambil lisensi pelatih itu tahun 1997. Kebetulan waktu itu Indonesia jadi tuan rumah jadi saya ikut ambil bagian besama Benny Dolo, Sutan Harhara, Bambang Nurdiansyah, dan lainnya.
5. Raihan Terbaik Sebagai Pelatih
INDOSPORT: Ceritakan sedikit perjalanan karier anda sebagai pelatih?
Zein Al Hadad: Setelah dapat lisensi A saya melatih di Salim Group, setelah itu tahun 2000 saya melatih di Jawa Timur, terus 2011-2012 saya di Persijatim Solo FC. Di 2003, saya di Persebaya Surabaya kemudian ke Timnas U-20 sama Peter White di 2005, selanjutnya di 2006 melatih di Persimaros, dan 2007 saya melatih di Belu Atambua, NTT.
INDOSPORT: Ada pengalaman menarik selama melatih di daerah Timur yang terkenal dengan cuacanya yang panas?
Zein Al Hadad: Di sana (NTT) panas banget tapi sudah biasa, dan itu merupakan bagian dari cerita saya. Kemudian di 2008-2009 saya pindah melatih ke Deltras, di sana saya bisa bawa tim menjadi juara ketiga di Copa Dji Sam Soe, setelah selama 14 belum klub tak pernah juara. Dan saya dapat gelar pelatih terbaik waktu itu.
INDOSPORT: Apa rahasia Anda saat membawa Deltras Sidoarjo meraih peringkat ketiga dengan skuat yang tidak terlalu mewah?
Zein Al Hadad: Di delapan besar kita kalahin Persija yang penuh dengan bintang. Saya melakukan pendekatan kepada pemain mengenai tanggung jawab secara individu dan tim. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni bagaimana saat menyerang, saat losing the ball, dan bagaimana transisi menyerang ke bertahan dan sebaliknya.
6. Tangani Persija Jakarta
INDOSPORT: Bagaimana anda bisa bergabung dengan Persija Jakarta?
Zein Al Hadad: Di 2010 saya melatih di PS Angkatan Darat di Piala Panglima, kemudian di 2011 saya ke Manado United, setelahnya di 2014 saya melatih di Timnas U-23 sama coach Aji Santoso untuk SEA Games dan Asian Games, setelahnya saya ke Persija sekarang.
INDOSPORT: Apa alasan Anda memilih bergabung dengan Persija Jakarta?
Zein Al Hadad: Saya bilang gabung Persija ini merupakan takdir. Saya ditelpon pak Ferry Paulus untuk membantu Persija dan saya oke saja. Saya tidak lihat jadwal padatnya, saya tertantang dan memilih masuk ke Persija. Tetapi kami memang kami butuh waktu buat tim jadi bagus.
INDOSPORT: Persija saat ini dalam keadaan yang kurang begitu bagus, berada di papan bawah, lantas apa motivasi anda untuk tetap ingin menanganinya meskipun kabarnya ada tawaran dari klub Divisi Utama?
Zein Al Hadad: Saat saya masuk Persija ada di papan bawah, dan memang berat dan tidak mudah, pokoknya kami semua berusaha keras. Saya anggap ini takdir, dan saya akan membantu coach Jan Saragih semampu saya.
Memang idealnya pelatih sebelum kompetisi harus punya waktu satu dua bulan untuk persiapan tim. Di sana ada tiga fase yakni persiapan umum, persiapan khusus, pra pertandingan, dan baru masuk kompetisi.
7. Tantangan Berat di Persija
INDOSPORT: Persija saat ini main di luar Jakarta dan Jakmania tidak bisa mendukung secara langsung. Bagaimana tanggapan Anda?
Zein Al Hadad: Jelas berpengaruh untuk Persija, karena beratnya kita tidak ada penonton terus main di tempat lain yang seperti di away. Kelebihan tuan rumah itu dukungan penonton dan kedua dengan pengenalan lapangan karena sudah terbiasa dengan lapangan.
INDOSPORT: Menurut Anda apakah pemain Persija saat ini dalam kondisi tertekan?
Zein Al Hadad: Mereka memang merasakan tekanan, tapi kita tim pelatih berusaha kasih motivasi, dan akhirnya hasilnya cukup lumayan kita dapat poin lawan tim besar seperti Persipura yang merupakan tim kuat dan calon juara. Di sini kita memang perlu untuk lebih bekerja keras.
INDOSPORT: Dengan kondisi Persija saat ini, apakah juga merupakan tantangan terberat Anda selama melatih?
Zein Al Hadad: Wartawan dan masyarakat pecinta sepakbola bisa menilainya sendiri. Saya masuk saat tim dalam keadaan seperti itu, ini tantangan buat saya.
8. Keturunan Arab dan Asal Panggilan Mamak
INDOSPORT: Anda memiliki garis keturunan Timur Tengah, lantas apa yang membuat anda lebih memilih sepakbola dibandingkan berwirausaha seperti pada umumnya?
Zein Al Hadad: Saya lahir di Surabaya, orangtua saya juga lahir dan besar di sini, jadi murni Indonesia cuma ada garis keturunan dari sana (Arab). Kenapa pilih sepakbola? Karena itu hobi saya dan orangtua juga mendukung jadi kenapa tidak?
INDOSPORT: Anda lebih sering dikenal dengan panggilan coach Mamak. Itu cukup berbeda dengan nama asli Anda, bisa ceritakan mengenai hal tersebut?
Zein Al Hadad: Sebetulnya nama saya adalah Muhammad. Dipanggil 'Mamak' karena depan saya tersebut. Di kalangan orang keturunan Arab panggilan tersebut sudah biasa kepada setiap nama 'Muhammad'. Jika nama saya Ahmad, saya pasti dipanggil 'Amak'