x

Kurang Perhatian, SSB di Balikpapan Banyak yang Terbengkalai

Kamis, 13 Oktober 2016 12:08 WIB
Kontributor: Teddy Rumengan | Editor: Ahmad Priobudiyono

"Sudah banyak SSB yang sudah tidak lagi jalan, mungkin ada sekitar 17 yang sudah tutup karena tidak punya biaya maupun sarana seperti lapangan," ujar Sekretaris SSB Selicin Minyak Balikpapan, Eddy Yudhohandana.

Menurutnya, tidak adanya partisipasi dari perusahaan maupun Pemerintah Kota Balikpapan maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terhadap perkembangan SSB membuat banyak yang terpaksa memilih vakum. Bukan hanya di Kota Balikpapan.

"Harus membiayai sendiri, tidak ada yang bantu, Pemkot harusnya bisa melalui KONI ikut berperan mendukung SSB, tapi ini gak ada. Apalagi mau harapkan partisipasi perusahan akan sangat sulit rasanya, sudah terbukti," lanjut dia.

Sekretaris Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI) Kalimantan Timur itu mengungkapkan, biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan maupun operasional SSB cukup besar. Minimal mencapai puluhan juta setiap bulannya.


Foto ilustrasi: Talenta-talenta muda sekolah sepakbola di tanah air.

"Karena tidak ada bantuan itu terpaksa iuran pengurus, kalau hanya mengandalkan partisipasi dari dari orangtua anak yang masuk SSB tidak akan cukup. Kita harus bayar pelatih, karena pelatihnya harus berlisensi, dan harus sewa lapangan," tambah Eddy.

"Biaya lain yang harus kita keluarkan itu juga kalau misalnya harus uji coba, kan kita harus bayar juga untuk perangkat pertandingan, lapangan juga harus kita sewa. Belum juga kita undang lawan untuk uji coba kan ada biayanya," beber Eddy.

Dia mengatakan, sebenarnya banyak anak-anak di Kota Balikpapan yang memiliki bakat menjadi pesepakbola, hanya saja sulit berkembang karena minimnya jumlah SSB. Apalagi, juga masuk SSB harus membayar iuran.

"Banyak yang punya potensi, tapi bagaimana kalau mereka tidak punya biaya. Karena kan memang SSB juga punya pengeluaran, untuk kaos tim, bola dan lain-lain. Jadi dari iuran itulah kita maksimalkan untuk biaya ini dan itu," ujarnya.

"Kendala lain juga, kadang baru juga ikut SSB sebulan, eh bulan depannya sudah berhenti karena orangtua takut pelajaran di sekolah terganggu. Padahal anaknya ingin sekali jadi pemain sepakbola. Banyak kendalanya,” sambung Eddy.

Kendala-kendala itu juga yang dihadapi SSB Selicin Minyak Balikpapan yang diketuai eks Asisten Pelatih Persiba Balikpapan, M. Arsyad. Namun begitu, Eddy bersyukur SSB Selicin Minyak masih terus berjalan, meski harus tergopoh-gopoh.

"Kalau di SSB Selicin Minyak itu kami punya empat pelatih yang minimal berlinsensi yang dikeluarkan Asprov atau dibawah PSSI, latihan sehari dua kali, pagi dan sore. Kalau di SSB Selicin Minyak kita muridnya ratusan, kita usia 12 tahun ke bawah," ujarnya.

"Makanya kita mohon perhatian pemerintah, juga perusahaan. Karena banyak potensi anak-anak Balikpapan menjadi pesepkabola andal, hanya saja mereka kan harus belajar melalui SSB, sedangkan SSB di Balikpapan kesulitan," pungkas Eddy.

Liga IndonesiaAsosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia (ASSBI)

Berita Terkini