x

67 Tahun Usia Wenger, Sederet Kisah Menarik Kehidupan Sang Profesor

Sabtu, 22 Oktober 2016 17:45 WIB
Penulis: May Rahmadi | Editor: Joko Sedayu

Memiliki nama asli Arsene Charles Ernest Wenger, dia lahir dari pasangan Alphonse dan Louise Wenger pada 22 Oktober 1949 di Strasbourg, sebuah kota di perbatasan Prancis dan Jerman.

Pada usia 14 tahun, Wenger bergabung dengan tim muda dalam klub sepakbola FC Duttlenheim. Enam tahun kemudian, dia pindah ke klub muda lainnya, Mutzig.


Arsene Wenger (di tengah belakang) bermain untuk FC Duttlenheim pada musim 1966/67.

Dia mulai menjadi pemain sepakbola profesional pada 1969. Sampai akhirnya, karier Wenger berarkhir pada 1981.

Selama 12 tahun itu, dia menjalani karier sepakbola seniornya di empat klub kecil Prancis. Tetapi dia hanya mencatat empat gol dari 67 penampilan.

Meski begitu, dia dipercaya menjadi pelatih klub Ligue 1 Prancis, Nancy-Lorraine, pada 1984. Saat itu, Wenger telah berusia 35 tahun, namun dia hanya bertahan tiga tahun.

Wenger kemudian meneruskan karier kepelatihannya di klub Prancis lainnya, AS Monaco, pada 1987 sampai 1994. Setelah itu, dia tinggal di Jepang selama setahun untuk melatih klub Nagoya Grampus, sebelum akhirnya terbang ke Arsenal pada 1996.

Sejak saat itulah dia menjadi orang nomor satu di Arsenal dan telah menyumbang tiga gelar Liga Primer Inggris, enam piala FA, dan enam piala Community Shield.

Atas prestasi dan loyalitas Wenger pada The Gunners, dia mendapat julukan The Professor dari para fans.

Tetapi, selama 20 tahun meneguhkan kesetiannya di tim asal London itu, ternyata ada sejumlah fakta yang belum banyak diketahui publik mengenai Sang Profesor.

Kali ini, INDOSPORT merangkum tiga fakta menarik mengenai Arsene Wenger, di luar dunia sepakbola.


1. Tumbuh di Era Wajib Militer

Arsene Wenger besar ketika Perang Dunia II baru saja berakhir.

Lima tahun setelah berakhirnya perang dunia kedua, tepatnya tahun 1950, ayah Wenger mengikuti program wajib militer yang diterapkan secara paksa oleh tentara Jerman. Sedangkan ibunya, sibuk menjalani bisnis suku cadang mobil dan rumah makan.

Kesibukan kedua orangtuanya itu kemudian membuat Wenger kecil, yang belum genap berusia satu tahun, harus dipindahkan ke kota Duttlenheim, sekitar 16 km dari tempat lahirnya.

Dia sedikit beruntung, sebab kota tersebut adalah tempat di mana anak-anak muda sangat diperhatikan. Dia tumbuh besar dalam asuhan tetangganya di sana.

Tinggal di perbatasan antara Jerman dan Prancis, membuat Wenger kecil kebingungan dalam berbahasa. Menurut ayahnya, dia semula secara alami menggunakan bahasa Jerman. Sampai pada usia tujuh tahun, dia baru bisa bahasa Prancis.

Pengalaman itulah yang membuat Wenger mudah memahami berbagai macam bahasa. Karena akrab dengan berbagai macam bahasa sejak kecil, kini memahami lebih dari 20 bahasa. Enam di antaranya, dia sudah fasih, yaitu bahasa Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia, dan Jepang.


2. Master Ekonomi

Arsene Wenger mendapat gelar master di Fakultas Ekonomi di Universitas Strasbourg.

Tidak banyak juga yang mengetahui bahwa Wenger sebenarnya dia peraih gelar pendidikan master di Fakultas Ekonomi di Universitas Strasbourg.

Saat berusia masih berkarier di tim muda, Wenger bermain di klub bernama Mutzig. Umurnya waktu itu 20 tahun. Dia berpikir, jika dia tidak bisa menjadi bintang di dunia sepakbola, dia akan melanjutkan bisnis orangtuanya, yaitu onderdil kendaraan bermotor dan usaha rumah makan.

Karena itu, dia mendaftarkan diri ke Universitas Strasbourg sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi. Dia sempat berpindah klub saat itu. Tetapi hal tersebut tidak membuatnya mengakhiri kariernya di dunia pendidikan.

Akhirnya, setelah tiga tahun, dia berhasil menyelesaikan kewajiban perkuliahannya. Di sana, Wenger mendapat gelar master Ekonomi.


3. Penggemar Musik Reggae

Arsene Wenger diam-diam menyukai musik asal Jamaika, reggae, yang dipopulerkan oleh musisi Bob Marley.

Jika melihat penampilannya, Wenger barangkali seperti orang yang tertekan, penuh pikiran, dan menanggung banyak beban. Tetapi, ternyata dia memiliki selera musik yang jauh dari tipe kepribadannya itu.

Master Ekonomi itu diam-diam suka menghayati musik reggae. Wenger mengaku sangat terobsesi, dan sering menghabiskan waktu luangnya untuk mendengar lagu beraliran musik reggae.

"Ya, saya suka musik dan karakternya. Mereka tidak didikte industri. Mereka apa adanya. Saya suka orang yang orisinil dan menonjol karena bakatnya," kata Wenger, dilansir dari The Guardian.

Meski tidak terlihat dari tampangnya, Wenger bahkan sangat mengidolakan Bob Marley cs.

"Memang benar, itu adalah aspek dari kepribadian saya yang orang tidak tahu. Dengan pekerjaan saya, saya sering stres, jadi saya sering terhambat," sambungnya.

ArsenalArsene WengerLiga Inggris

Berita Terkini