Qatar, Hajatan Piala Dunia, dan Sekelumit Problema Hak Asasi Manusia
Qatar akan menjadi negara ketiga di Asia yang bakal menggelar hajatan Piala Dunia. Sebelumnya, Jepang dan Korea Selatan sukses menjadi penyelenggara pada tahun 2002 lalu.
Dua puluh tahun setelah kedua negara Asia Timur tersebut, Qatar siap menyambut proyek ambisius di cabang olahraga ini. Bahkan, salah satu negara penyuplai minyak ini telah mengambil ancang-ancang sejak tahun 2010 lalu untuk proyek ini.
Bukan hal lumrah memang, kala sebuah negara yang berada di antara padang gurun ingin menggelar ajang sekelas Piala Dunia. Akan tetapi, dengan teknologi dan biaya miliaran Dolar Amerika Serikat, Qatar mencoba membalik logika banyak pihak.
Desain dan tata kelola penyelenggaraan Piala Dunia 2022 mendatang telang diluncurkan oleh panitia. FIFA pun akhirnya tak ragu menunjuk salah satu negara di jazirah Arab ini untuk menggelar ajang tersohor di dunia sepakbola ini.
Pembangunan demi pembangunan mulai dibenahi oleh Qatar. Mulai dari sarana hingga prasarana penunjang mulai dikebut untuk mencapai target yang diminta FIFA sebagai salah satu bukti kesiapan mereka untuk menggelar Piala Dunia, 5 tahun mendatang.
Akan tetapi, masalah baru mulai menyeruak ke permukaan. Dalam sisi kemanusiaan, ternyata ada sejumlah pengabaian yang dilakukan Qatar selama proses pembangunan.
Sisi perburuhan menjadi salah satu aspek kental yang mendapat sorotan selama pembangunan. Seperti apa kondisi pembangunan jelang Piala Dunia 2022 tersebut? Berikut hasil ulasan dari INDOSPORT.
1. Mimpi Manis Para Pekerja
Sejak tahun 2010, FIFA akhirnya mengumumkan Qatar sebagai negara tuan rumah Piala Dunia 2022. Qatar sukses menyingkirkan 4 negara lain yang juga bersaing untuk menjadi tuan rumah.
Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Australia sempat bersaing dengan Qatar pada pemungutan suara yang telah digelar sejak tahun 2009. Namun, Qatar akhirnya mendapat 14 suara mayoritas yang membawa mereka menjadi negara Timur Tengah pertama yang bisa menggelar Piala Dunia.
Proyeksi untuk segera menyiapkan sarana pun muncul dan digagas oleh Qatar. Dana senilai USD140 miliar (Rp1865 triliun) disiapkan Qatar untuk pembangunan segala sarana dan prasarana.
Qatar akan menyiapakan 12 stadion yang akan digunakan dalam Piala Dunia 2022 mendatang. 9 stadion diantaranya merupakan stadion yang baru akan dibangun setelah mereka ditunjuk sebagai tuan rumah.
Selain itu, Qatar juga siap membangun bandara dan pelabuhan baru bertaraf internasional. Jalur rel kereta api, jalan tol baru, dan saluran pembuangan baru juga disiapkan untuk menghadapi turnamen sepakbola terbesar di dunia ini.
Bagaimana proyek ini merupakan gula-gula manis bagi para pekerja dan investor. Qatar menjadi magnet baru bagi sektor perburuhan, dengan janji jangka panjang yang siap diretas para pencari kesempatan.
Namun demikian, mimpi manis ini tak berakhir baik bagi sejumlah pekerja migran. Bertandang ke Qatar untuk mencari kesempatan justru dilalui dengan sekelumit masalah yang menjadi jebakan.
2. Qatar Berpotensi Gelar Piala Dunia Terkejam
Pada tahun 2012 - 2013, Amnesty International merilis bahwa jumlah penduduk Qatar meningkat 10,5%. Artinya, ada 20 penduduk baru dalam setiap jam yang datang ke Qatar.
Jumlah ini meningkat seiring dengan janji manis akan perubahan nasib bagi para pekerja. Sampai tahun 2014 lalu, Amnesty International merilis setidaknya 1,38 juta pekerja asing mengadu nasib ke Qatar.
Pekerja dari Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi yang terbanyak dalam daftar pekerja migran ini. International Labour Organization (ILO) merilis setidaknya 1 juta pekerja datang dari wilayah tersebut.
Ini artinya 94% pekerja datang dari kawasan yang cukup miskin di Asia tersebut. ILO juga menyebut bahwa janji manis akan pekerjaan layak hilang saat mereka tiba di Qatar.
Menurut data International Trade Union Centre (ITUC), ada 10 aspek yang menjadi pelanggaran akan hak pekerja di Qatar. Sebagian besar mereka yang terdampak merupakan pekerja yang terlibat dalam persiapan proyek Piala Dunia 2022.
Hal yang cukup sumir adalah kondisi pekerja yang harus beraktivitas di suhu tinggi. Parahnya lagi, menurut laporan Amnesty International, para buruh ini harus bekerja di bawah suhu 50 derajat celcius.
Imbasnya, ribuan pekerja tewas akibat situasi yang kurang bersahabat ini. Para pengembang berusaha mengebut pembangunan proyek hingga harus mengorbankan ribuan pekerja.
Setidaknya tercatat 4 ribu orang tewas sepanjang tahun 2010 hingga tahun 2014 di Qatar. Kebanyakan diakibatkan karena serangan jantung akibat suhu panas, dan kecelakaan kerja.
Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang milenium baru. Untuk perbandingan, Piala Dunia 2014 di Brasil hanya mengakibatkan 7 orang tewas selama masa pembangunan.
Demikian pula saat penyelenggaraan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang hanya membuat 2 nyawa pekerja hilang. Tentu saja akibat dari jumlah pekerja tewas di Qatar ini menjadi sinyal betapa berbahayanya ambisi yang tidak diiringi dengan kemanusiaan.
3. Dugaan Skandal di Balik Nyawa Hilang
Tumpang tindih permasalahan Piala Dunia 2022 tak berhenti sampai pada praktek kekejian pembangunan. Qatar pun terselaput masalah baru, dugaan skandal korupsi.
Tidak main-main, dugaan ini berawal dari nyanyian mantan Presiden FIFA, Sepp Blater. Pada sebuah wawancara dengan media asal Rusia, TASS, Blater menyebutkan bahwa ada andil Amerika Serikat (AS) dalam upaya mengkudetanya dari jabatan Presiden FIFA pada tahun 2010.
Wawancara yang direkam pada tahun 2015 lalu ini menyebutkan bahwa Blatter menuduh AS mencoba menggunakan Michel Platini yang kala itu menjadi Presiden UEFA. Blatter mengatakan bahwa AS mencoba menyuap UEFA agar bisa memuluskan upayanya menjadi tuan rumah.
Selain itu, desas-desus soal skandal korupsi juga menyeruak terkait tender pembangunan sejumlah infrastruktur yang dijanjikan akan digarap oleh beberapa petinggi FIFA. Sebuah laporan dari Departemen Hukum AS melansir sebuah laporan yang menyebut bahwa FIFA meraup tidak kurang dari USD150 juta (Rp1,9 trilun) untuk proses lelang Piala Dunia dalam 24 tahun terakhir.
Fakta ini sempat membawa Qatar ke dalam krisis jelang penyelanggaraan Piala Dunia 2022. Bahkan sejumlah protes dilayangkan untuk menyerukan aksi boikot terhadap penyelenggaraan Piala Dunia tersebut.
Salah satu organisasi perempuan di Jerman, FEMEN, melakukan aksi kampanye yang cukup sensasional terkait dugaan pelanggaraan hak asasi manusia (HAM) di Qatar. Dua orang perempuan tiba-tiba menyeruak tanpa menggunakan baju ke dalam sebuah acara talkshow.
Mereka membuat body painting di bagian dada dengan gambar bola. Mereka pun meneriakkan untuk memboikot FIFA dan Piala Dunia 2022.
Alasannya jelas, skandal korupsi di FIFA dan dugaan pelanggaraan HAM terhadap sejumlah pekerja di Qatar.
4. Respon Keras FIFA dan Keberlangsungan Sepakbola yang Manusiawi
FIFA bereaksi keras terhadap sejumlah tuduhan dari sejumlah lembaga terkait Piala Dunia 2022. FIFA menganggap bahwa Qatar harus segera menyikapi dengan segera jika ingin tetap ditasbihkan sebagai tuan rumah.
Pada tahun 2014 lalu, salah satu anggota Komite Eksekutif FIFA, Theo Zwanziger menegur keras Qatar. Zwanziger bahkan sempat memberikan batas waktu selama dua minggu terkait dugaan kondisi pekerja tersebut.
Bahkan, pria yang pernah menjadi Presiden Federasi Sepakbola Jerman ini mengancam akan mencabut hak Qatar untuk tetap menggelar Piala Dunia. Ini bukan kali pertama pria asal Jerman tersebut mengecam persiapan Piala Dunia 2022 Qatar.
Sebelumnya, Zwanziger juga sempat mengeluhkan kondisi cuaca di Qatar. Menurut Zwanziger, cuaca di Qatar terlampau panas untuk menggelar Piala Dunia yang berlangsung pada bulan Juni-Juli.
Setahun kemudian, FIFA secara resmi juga memberikan laporan terkait persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar. FIFA mengaku menyadari pentingnya menjaga standar dan kualitas pekerja untuk tetap berdasarkan hak asasi manusia.
Dalam rilis tertanggal 1 Desember 2015 tersebut, FIFA akan terus mengawal Komite Tinggi untuk Kesejahteraan dan Standar Pekerja untuk tetap berkaca pada aturan yang berlaku. FIFA juga telah terjun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi sebenarnya.
Bahkan, FIFA telah mengundang secara langsung para stack holders persiapan pembangunan Piala Dunia 2022. Intinya, FIFA mengaku siap mengawal proses persiapan Piala Dunia 2022 yang siap menjaga nilai kemanusiaan.
Berkaca dari komitmen FIFA dan Qatar untuk bisa melangsungkan Piala Dunia 2022 yang lebih humanis, sudah saatnya untuk menggagas kembali bahwa industri dan hiburan tidak boleh menomor duakan unsur kemanusiaan. Selamat Hari HAM Internasional!