x

Selain China, Berikut Tiga Negara Asia yang Bakal Rajai Sepakbola Internasional

Minggu, 25 Desember 2016 10:05 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Kekuataan sepakbola internasional beberapa tahun terakhir sedikit alami pergeseran trend. Pencinta sepakbola internasional kini melihat adanya geliat dari sepakbola di negara-negara kawasan Asia. 

Sepakbola internasional yang beberapa tahun terakhir hanya didominasi negara-negara dari Eropa dan Amerika Selatan, lambat laun akan digeser oleh negara-negara dari kawasan Asia. 

China saat ini jadi negara di Asia yang paling terdepan membangun kekuataan sepakbola mereka. Jepang dan Korea Selatan hanya jadi kekuataan lama yang bertugas hanya menjadi 'penjaga' kekuataan sepakbola kawasan Asia. 

Menariknya, tidak hanya China yang tengah bergeliat lewat Liga Super China. Negara-negara lain di kawasan Teluk misalnya juga tengah melalukan pembenahan di sepakbola dalam negeri mereka. 

Tidak hanya negara Teluk, negara dari pecahan Uni Soviet dan berada di region Asia Tengah juga membangun sepakbola dalam negeri mereka. 

Meski cara masing-masing negara ini memiliki perbedaan, namun terdapat kesamaan tujuan yakni menjadi raksasa baru di perhelatan sepakbola internasional. 

Berikut tiga negara yang miliki ambisi jadi raja baru di sepakbola internasional untuk pembaca setia INDOSPORT:


1. Qatar

Abdurrahman Iwan, pesepakbola berdarah Indonesia yang berkarier di Qatar.

Pada 2015 lalu, BBC menurunkan laporan berjudul 'How will Qatar build a good team for the 2022 World Cup?' dalam laporan tersebut, jurnalis BBC, Alex South membelejeti cara kerja federasi sepakbola Qatar membangun sepakbola di dalam negeri mereka. 

Bukan semata soal kekuasaan uang, sepakbola Qatar dibangun dengan program yang berkesinambungan dan memiliki tujuan yang sangat jelas. 

Kesamaan dari negara-negara yang maju di sepakbola internasional, pengembangan pemain usia muda jadi fokus federasi sepakbola Qatar. 

Talenta muda asal Indonesia yang kini merumput di Qatar, Abdurrahman Iwan mengatakan kepada INDOSPORT bahwa sepakbola Qatar sangat terfokus pada pemain muda. 

"Belajar dari Academy Aspire gratis. Semua fasilitas ditanggung oleh Academy Aspire," kata pemain yang memang lahir Qatar tersebut. 

Qatar diakui oleh Abdurrahman memang mengistimewakan pemain yang lahir di Qatar meski orangtua mereka bukan warga negara Qatar. 

"Sejak 2006, aturan di sepakbola Qatar berubah. Mereka yang bisa tergabung di klub profesional hanya pemain kelahiran Qatar. Semua biaya dan fasilitas akan ditanggung oleh klub," kata ayah dari Abdurrahman Iwan,  Iwan Koeswanto kepada INDOSPORT

Sekedar informasi, selama membela Al Wakrah SC, salah satu klub profesional di Qatar, Abdurrahman Iwan yang notabene memiliki ayah dan ibu warga negara Indonesia mendapat sejumlah fasilitas mewah, mulai dari seragam, sepatu, fasilitas antar jemput, hingga uang saku. 

"Ya tidak banyak sih tapi buat anak-anak lumayan yaitu sebesar 250 Riyal Qatar atau sekitar Rp900.000 (dengan kurs Rp3600 per 1 riyal)," kata Iwan. 

Tidak itu saja, Abdurrahman malah kata Iwan juga mendapat tambahan bonus dari pihak klub sebesar 200 Riyal Qatar jika bertanding di Qatar Star League Junior. 

Selain itu, dari Aspire Academy, Abdurrahman juga mendapat fasilitas yang tak kalah mewah. Iwan mengatakan jika Abdurrahman bermain di luar Qatar, pihak akademi akan menanggung semua biaya mulai dari visa, hotel, dan fasilitas lainnya. 

"Alhamdullillah juga buat perkembangan karier Abdurrahman di Qatar kami tidak mengeluarkan sedikitpun biaya sejak Abdurrahman bergabung di klub professional Al Wakrah SC sejak umur 5 tahun dan Aspire Academy sejak umur 8 tahun," kata Iwan.

Ketua federasi sepakbola Qatar di 2015, Mansour Mohammed Al Ansar menekankan bahwa pembinaan pemain muda ialah satu keharusan. 

"Ini suatu kewajiban. Anda tidak bisa mengambil seorang pemain bintang dan diminta untuk membela negara Anda di Piala Dunia. Itu bukan cara kami," kata Al Ansar seperti dilansir BBC

Pemerintah Qatar sadar bahwa mereka tidak memiliki populasi sebesar Brasil misalnya, namun pembinaan dengan cara memberikan fasilitas mewah kepada pemain muda kelahiran Qatar meski orang tuanya bukan warga negara Qatar jadi solusi tersendiri bagi sepakbola negara tuan rumah Piala Dunia 2020 ini. 

"Pemain muda ini harus berjuang keras untuk bisa membela Timnas Qatar. Harus ada perjuangan untuk bisa masuk ke skuat," kata pelatih Timnas Qatar U-20, Felix Sanchez pada 2015 lalu. 


2. Uni Emirat Arab

Timnas Uni Emirat Arab (UEA) saat melawan Timnas Thailand.

Pada 2015 lalu, salah satu negara yang disebut-sebut menghasilkan generasi emas ialah Uni Emirat Arab (UEA). Salah satu generasi emas dari UEA yang jadi sorotan ialah Omar Abdulrahman.

Pemain kelahiran Riyadh, Arab Saudi ini bisa dibilang sebagai pemain tersukes di UEA. Selain Omar, ada juga nama Ahmed Khalil. 

Geliat sepakbola dari UEA juga diamini oleh mantan pelatih Timnas Inggris, Sven-Goran Eriksson. Pria Swedia ini memang pernah melatih di salah satu klub UEA, Al Nasr. 

"Sama halnya di Al Nasr dan Guangzhou R&F. Sepak bola terus berkembang pesat," kata Eriksson seperti dilansir FIFA.com

UEA yang acapkali jadi tuan rumah untuk event-event seperti final Coppa Italia merupakan salah satu strategi federasi sepakbola UEA untuk membangun sepakbola dalam negeri mereka. 

Federasi sepakbola UEA sadar betul kiprah mereka di pentas internasional sangat buruk. Di level Piala Asia, prestasi tertinggi mereka hanya runner up pada 1992 silam. 

Untuk Piala Dunia, UEA hanya baru satu kali lolos ke putaran final yakni di Piala Dunia 1990, itupun langsung kalah di babak pertama. Bahkan pada 2005 silam, UEA mencetak rekor buruk yakni alami kekalahan terbesar, kalah 0-8 dari Brasil. 

Lambat laun sepakbola UEA terbantu karena banyaknya bangsawa negeri ini yang menanam investasi di sejumlah klub top Eropa. Paris Saint Germain (PSG) jadi klub top Eropa yang dimiliki oleh Syeikh Mansour, milioner dari Uni Emirat Arab. 

Liga-liga di UEA pun mulai melirik mantan-mantan pemain bintang Eropa, Alessandro Del Piero hingga Diego Maradona pernah mengais uang di sepakbola UEA. Apa efeknya untuk perkembangan sepakbola negeri ini? 

Sama dengan China ataupun Qatar, meski dimudahkan dalam hal dana, federasi sepakbola UEA membangun Timnas mereka dari level pemain muda. Teranyar, bekersajasama dengan FIFA, UEA akan mengadakan festival untuk menyaring 100 bibit muda berbakat dari lapangan hijau. 

"Semua bakat akan kami pantau dan kami perhatikan," kata  Balhassan Malouch, direktur departemen teknis federasi sepakbola UEA seperti dilansir dari uaefa.ae

Federasi sepakbola UEA memang memiliki program bernama Football Association Academy (FAA) untuk menjaring bibit muda di UEA. Program ini bahkan baru saja bekerjasama dengan Professional Football Scouts Association (PFSA) dari Inggris. 

Nantinya kerjasama ini akan menghasilkan kajian lengkap dari perkembangan pemain muda di UEA, kajian itu di dapat dari semua pemain muda UEA yang bermain di semua level kompetisi. Sekedar informasi, PFSA didukung penuh oleh mantan pesepakbola terkenal Inggris, seperti Ryan Giggs. 


3. Uzbekistan

Fans Uzbekistan saat menyaksikan pertandingan tim nasional mereka.

Uzbekistan merupakan salah satu negara pecahan dari Uni Soviet yang masuk dalam region Asia Tengah. Negara ini melakoni pertandingan resmi mereka pada 17 Juni 1992 silam melawan Tajikistan. 

Setelah pecah dari Uni Soviet, sepakbola Uzbekistan memang tidak terlalu menujukkan peningkatan berarti. Utamanya di level klub. 

Namun sejak era milenium, perkembangan sepakbola Uzbekistan perlahan alami peningkatan berarti. Ada titik cerah bahwa negara ini bakal bisa merajai sepakbola internasional. 

Di level Piala AFC misalnya, di 2004 Uzbekistan berhasil mencapai level perempatfinal. Hal itu mereka ulang di Piala AFC 2007 dan 2011. 

Senada dengan China, Qatar, dan UEA, Uzbekistan juga mengoptimalkan perkembangan sepakbola mereka lewat kaki-kaki pemain muda. Timnas U-20 Uzbekistan misalnya mampu tunjukkan penampilan impresif sejak bertanding di Piala Dunia U-20 pada 2013 silam. 

Hal ini tidak terlalu mengherankan pasalnya di level klub, pembinaan pada pemain muda memang jadi kewajiban. Klub-klub peserta liga Uzbekistan rata-rata memiliki pemain di usia muda, mulai dari 16 tahun sampai 19 tahun. 

Jangan tanya soal fasilitas, sejumlah klub memberikan fasilitas mewah untuk para pemain muda. Federasi sepakbola Uzbekistan juga memfokuskan pada pengembangan futsal. 

Khusus untuk futsal, Timnas Uzbekistan bahkan sempat berguru di Porto, Portugal sebelum tampil di ajang Piala Dunia Futsal yang berlangsung Kolombia beberapa waktu lalu. 

Kiprah Timnas muda Uzbekistan juga tak bisa dipandang sebelah mata. Timnas U-20 Uzbekistan pada tahun lalu masuk nominasi sebagai tim terbaik di Asia, bersaing dengan Timnas Australia dan Korsel. 

AFC bahkan memberi penghargaan tersendiri untuk federasi sepakbola Uzbeksitan di tahun lalu karena dianggap memiliki program pengembangan akar rumput yang baik. 

Federasi sepakbola Uzbekistan rupanya tidak berdiri sendiri. Pemerintah Uzbekistan disebut sangat mendukung penuh dengan rencana pengembangan pemain muda dan program lainnya. 

"Presiden kami memberikan dukungan yang sangat besar. Presiden memberi kemudahan untuk pengusaha yang ingin berinvestasi di liga Uzbekistan. Nilai investasi ini lalu kami gunakan untuk pengembangan sepakbola di akar rumput," kata Mirabror Usmonov, Ketua Federasi Sepakbola Uzbekistan seperti dilansir dari FIFA. 

FIFAQatarChinaAFCUzbekistanUni Emirat ArabIn Depth SportsBola InternasionalAbdurrahman Iwan

Berita Terkini