x

Karena Sepakbola Dimainkan oleh Manusia, Bukan Robot

Rabu, 10 Mei 2017 21:58 WIB
Editor: Gregah Nurikhsani Estuning
Grassroots.

Sulit untuk dipungkiri, sepakbola ikut tersapu dengan banyaknya perkembangan zaman. Demi alasan agar sepakbola bisa mengikuti perkembangan dan memuaskan pihak-pihak tertentu, banyak hal-hal manusiawi yang dihilangkan.

Ketika menguraikan salah satu karya berujudul A Treatise on Human Nature, filsuf Skotlandia, David Hume memproklamirkan: "Alasannya adalah hanya demi memuaskan hawa nafsu", yang menggambarkan betapa naluri insan manusia selalu berujung pada lust (nafsu).

Meskipun pemahaman manusia tentang, ambil contoh, ilmu fisika dan nuklir menyebabkan ditemukannya bom atom, hanya ada sedikit alasan saja bagi kita untuk mengembangkannya. Sebagaimana Dr. Malcolm dari Jeff Goldblum menjelaskan kepada Richard Attenborough John Hammond di Jurassic Park, "ilmuwan Anda begitu asyik dengan apakah mereka bisa; mereka tidak berhenti untuk berpikir apakah mereka seharusnya melakukannya".

Sayangnya, banyak keputusan-keputusan yang dilakukan oleh otoritas sepakbola negara-negara tertentu melupakan bahwa sepakbola adalah olahraga (dan hiburan) yang dilakukan oleh manusia, bukan robot.

Kembali lagi, demi memuaskan hasrat dan bersaing menjadi yang terbaik, ada beberapa hal yang 'harus' dilakukan. Tentu saja, selalu ada alasan untuk menguatkan argumentasi mereka. INDOSPORT kali ini merangkum aspek-aspek modernitas dan perkembangan zaman yang terjadi di ranah sepakbola.


1. Kompetisi dan Jadwal Padat

Ilustrasi drawing Piala FA.

Kondisi fisik dan psikologis manusia tidaklah statis, selalu megalami perubahan dari waktu ke waktu, dan tak melulu ke arah yang lebih baik. Meningkatnya usia tidak mesti sejalan dengan membaiknya fisik, apalagi psikis. Hal ini kadang dilupakan oleh praktisi sepakbola.

Secara kasar, aspek fisik pesepakbola boleh saja bisa teratasi dengan menyediakan dokter, fisioterapis dan ahli kesehatan bidang olahraga lain. Untuk meng-handle psikis, pihak klub bisa menjamin asuransi kesehatan lewat janji akan mendapat penanganan terbaik.

Lalu bagaimana kalau suatu ketika ada pesepakbola yang kariernya harus tamat karena cedera yang sangat parah? Padahal sepakbola bagi mereka lebih dari sekadar pekerjaan, hobi, atau jalan hidup?

Inggris memiliki sedikitnya tiga kompetisi, yakni Liga Inggris, Piala Liga, dan Piala FA. Banyak yang dikorbankan ketika pesepakbola tidak bisa melawan sistem dan mau tak mau harus tetap bermain sekalipun tubuh mereka menolak.

Tidak hanya soal fisik semata, Liga Inggris seakan terlampau liberal; memisahkan jurang antara kehidupan pribadi sebagai manusia dengan Tuhan dan dengan sepakbola itu sendiri. Contoh nyatanya adalah tetap memainkan pertandingan di hari besar agama.

Banyak pelaku sepakbola yang menyayangkan adanya pemberlakuan ini. Boxing Day menjadi satu contoh sahih bagaimana otoritas kompetisi/liga bersikeras menggelar pertandingan di hari suci bagi pemeluk agama.

Manajer sekaliber Jose Mourinho dan Sir Alex Ferguson saja pernah mengeluhkan adanya pertandingan sepakbola di hari besar agama. Padahal menurut mereka pemain juga harus beristirahat dan meluangkan waktu dengan keluarga, terlepas apakah itu karena hari libur keagamaan atau tidak.

Sistem menepikan agama dan terlihat seperti menepikan urusan manusia dengan agama atau Tuhannya. Apa saja yang berpeluang 'mengganggu' akan ditabrak demi kepuasan dan kepentingan pihak-pihak tertentu. Ujung-ujungnya, hak siar menjadi alasan utama.

Dari sisi fisik, mungkin akan ada argumen "Pesepakbola bekerja dengan memenangkan pertandingan, dibayar oleh klub, dan dilepas jika sudah tak mampu bersaing". Belum lagi pemain sepakbola harus berpindah dari satu kota ke kota lain dalam waktu berdekatan tanpa mengindahkan faktor psikis. Semua dilawan dengan satu kata: Profesionalitas.

Di sini saja, terlihat bagaimana sepakbola sudah tidak memanusiakan manusia lagi. Praktisi sepakbola sudah dianggap robot, bukan lagi manusia.


2. Teknologi dalam Sepakbola

Ilustrasi teknologi dalam sepakbola.

Dunia si kulit bundar kerap kali dipenuhi pro dan kontra, sekalipun mengenai hal yang dirasa baik bagi perkembangan sepakbola itu sendiri, salah satunya adalah penggunaan teknologi.

Mantan Presiden UEFA, Michael Platini menolak adanya penggunaan teknologi dalam sepakbola. Ia mengritik keras teknologi garis gawang ketika masih berkantor di Swiss. Pendapatnya mengenai keengganannya terhadap penerapan teknologi semacam itu cukup masuk akal; teknologi akan merusak indahnya sepakbola.

Platini yang dihukum selama empat tahun sejak Desember 2015 akibat pelanggaran kode etik itu lebih menyukai 5 wasit ketimbang menggunakan teknologi. Ia merasa jika sepakbola tak bisa menghilangkan sisi humanis. Lebih jauh, jika keputusan-keputusan di sepakbola ditentukan lewat teknologi, lalu apa gunanya wasit?

Dinilai secara objektif, adanya teknologi dalam sepakbola memang tak bisa dipungkiri manfaat besarnya. Banyak keputusan-keputusan kontroversial di atas lapangan bisa saja diminimalisir jika saat itu sudah diterapkan teknologi yang beragam, seperti VARs (Video Assistant Referees), Mata Elang, penggunaan chip, Goal Line Technology dan lain-lain.

Bulan Juni tahun lalu, International Football Association Board (IFAB), sebuah badan yang memiliki wewenang dalam menentukan Laws of the Game, bersama dengan FIFA meyetujui pengembangan teknologi rekaman video. Cara ini lalu diujicobakan di sejumlah pertandingan, termasuk di Piala Dunia Antar Klub yang dimenangi Real Madrid tahun 2016 kemarin.

Pelatih kepala Los Blancos, Zinedine Zidane, masih abu-abu perihal setuju atau tidaknya dia terhadap penggunaan VARs dan Goal Line Technology (teknologi garis gawang). Ia hanya meminta FIFA untuk lebih mensosialisasikan penerapannya.

"Kita harus beradaptasi dengan apa yang FIFA inginkan. Dalam hal gol Ronaldo ada sedikit kebingungan. Sesuatu harus lebih jelas, tapi kita harus beradaptasi. Meningkatkan sesuatu bagus untuk sepakbola. Tapi ini harus lebih jelas untuk semua orang dan untuk saat ini tidak," kata Zidane di konferensi pers usai mengalahkan Club America di semifinal Piala Dunia Antar Klub 2016 silam.

Berbeda dengan Zidane yang belum bisa memberikan penilaian, Luka Modric secara tegas menolaknya. Hampir sama dengan pelatihnya, gelandang asal Kroasia itu merasa penggunaan teknologi tersebut hanya akan membuat bingung para pemain dan penonton.

"Sejujurnya, bantuan video adalah inovasi terbaru yang tidak saya sukai. Hal itu menimbulkan banyak kebingungan dan bagi saya itu bukan sepakbola," ujar Modric seperti dikutip dari Marca Desember lalu.

Satu argumen paling kuat datang dari Giuseppe Marotta, petinggi Juventus. Ia secara tegas menolak penggunaan rekaman ulang di dunia sepakbola untuk memudahkan kinerja wasit. Pria 57 tahun ini menganggap pemakaianya tak banyak membantu sang pengadil.

"Juve dengan tegas menolak penggunaan rekaman video di tengah laga. Hal tersebut akan mengubah kodrat alami sepakbola yang didasarkan pada pergerakan tanpa henti. Selain itu, rekaman video juga tidak selalu membuat situasi menjadi jelas," ungkap Marotta seperti dilansir Gazzetta Dello Sport.

VARs sudah diterapkan di kompetisi resmi, tepatnya A-League (Liga Australia). A-League menjadi liga pertama di dunia yang menerapkan penggunaan video replay untuk membantu wasit dalam membuat keputusan.


3. Sepakbola Ramah Pebisnis

Bentrok suporter Yunani.

Sepakbola dan bisnis belakangan ini menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Demi menyelamatkan klub dari kebangkrutan dan agar terus bisa menjamin roda ekonomi tim, pintu dibuka lebar bagi para investor asing seperti dari Timur Tengah, Rusia, atau Amerika Serikat. Tak jarang, klub menjual ruh atas nama kepentingan bisnis semata.

Cardiff City misalnya, pernah mengganti warna kebesaran klub dari biru menjadi merah. Alasannya sangat menggelitik; karena sang pemilik klub menyukai dan menganggap warna merah sebagai lambang kekuatan serta keberuntungan.

Kisah lain yang lebih jamak terjadi yakni menjual nama stadion ke pihak swasta. Bayern Munchen misalnya, membangun stadion baru dengan nama Allianz Arena karena 'pernikahan kontrak' dengan perusahaan asuransi raksasa dunia.

Perputaran dana ratusan juta pounds adalah indikasi bahwa sepakbola telah menjadi sebuah indsutri bisnis yang menguntungkan bagi segenap pelakunya. Tak heran kini banyak kalangan yang melabeli sepakbola dengan istilah sportainment; olahraga dikemas sedemikian rupa agar menjadi tontonan yang tak lebih dari sekadar jualan yang menghibur.

Singkatnya, sepakbola dianggap telah bertransformasi sebagai sebuah perputaran bisnis, agen dari modernisasi, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kapitalisme dan globalisasi.

Lagi-lagi tidak bisa dipungkiri, perputaran uang yang semakin kencang memang menguntungkan sepakbola dari sisi komersial. Faktor lain seperti infrastruktur, kualitas, dan program-program internal klub menjadi lebih tertata dan jelas arahnya. Namun di sisi lain, bisnis dalam sepakbola yang terlampau mendominasi tiap sendi justru akan menghilangkan esensi dari 'permainan sepakbola' itu sendiri.

Sepakbola seharusnya tidak lebih dari permaianan tendang menendang bola, siapa yang cetak gol lebih banyak dia yang menang. Suporter lalu muncul sebagai 'pemanis'. Kehadirannya memunculkan drama dan romantisme, baik itu bagi suporter maupun tim yang didukungnya. Komersialisasi tentu saja boleh, tapi tidak bisa terlampau batas, sama saja seperti Hak Asasi Manusia (HAM), tentu tak bisa kebablasan.

Fatalnya, otak-otak bisnis menganggap sepakbola berserta suporternya sebagai robot penghasil emas. Suporter dicap sebagai konsumen sejati yang rela menghabiskan banyak uang demi klub yang ia cinta. Tidak usah jauh-jauh, bila dipikir secara jernih, sebenarnya apa tujuan dari jersey ketiga kalau bukan sebagai 'cara terakhir meraup uang'?

Sepakbola adalah game of people, sepakbola punya jiwa dan raganya sendiri.

Bola InternasionalTeknologi Sepakbola

Berita Terkini