x

Mengapa Arema Masih Pantas Pertahankan Cristian Gonzales?

Sabtu, 8 Juli 2017 07:02 WIB
Editor: Gregah Nurikhsani Estuning
Cristian Gonzales.

Seluruh pencinta sepakbola Indonesia rasanya pasti mengenal Cristian Gonzales, penyerang Arema FC yang memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) karena kecintaan dan dedikasinya kepada Sang Merah Putih. Meski terbilang sangat uzur (40 tahun) untuk ukuran pesepakbola, striker kelahiran Uruguay itu masih tetap diandalkan Singo Edan hingga detik ini.

Mengingat pada Agustus nanti usianya akan bertambah menjadi 41, menarik untuk disimak bagaimana kariernya ke depan bersama Arema FC. Selain itu, baru-baru ini muncul gosip kurang menyenangkan yang berhembus seputar masa depan El Loco, julukan Gonzales, di klub yang bermarkas di Malang tersebut.

Baca juga:

Manajemen Singo Edan dikabarkan bakal melepas empat pemainnya di paruh kedua Gojek Traveloka Liga 1 2017 ke Persiba Balikpapan. Sunarto, Hendro Siswanto, Feri Aman Saragih dan tentunya Gonzales adalah keempat pemain yang dimaksud.

Belakangan, Gonzales menepis adanya rumor tersebut. Ia mengaku kaget dan merasa tidak pernah mendengar adanya pembicaraan mengenai dirinya, ketiga rekannya, dan Persiba Balikpapan.

Gonzales gagal tunjukkan tajinya di laga melawan Persela Lamongan.

Terlepas dari pengakuan tersebut, suami Eva Nurida Siregar itu memang sebenarnya memiliki banyak alasan kuat mengapa ia layak dipertahankan. Kali ini, INDOSPORT mencoba merangkumnya dalam tiga faktor berikut.


1. Sudah Terlanjur Disayang Aremania

Gonzales cetak gol ke-4 musim ini.

Cristian Gonzales memulai kariernya di Indonesia bersama PSM Makassar tahun 2003. Saat itu ia datang ke Stadion Andi Mattalatta berstatus bebas transfer. Satu tahun membela Juku Eja, ia hijrah ke Persik Kediri.

Di tim asal Jawa Timur itulah namanya semakin kinclong dan mulai diperhitungkan oleh masyarakat sepakbola Indonesia. Saat itu sebenarnya sudah bertebaran striker-striker andal, baik lokal mau pun asing seperti Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas, Emmanuel de Porras, Emaleu Serge, Aldo Barreto, Alfredo Figueroa, Franco Hita, sampai mantan rekan setimnya di PSM, Oscar Aravena.

Bersama Persik Kediri, ia sempat ikut membantu memberi gelar juara Liga Indonesia dan juga tampil di Liga Champions Asia bersama Macan Putih, julukan Persik. El Loco lalu hijrah ke Persib Bandung, Persisam Putra Samarinda, hingga akhirnya pada tahun 2012, ia resmi berkostum Arema.

Sejak itu pula, Gonzales menjadi salah satu pemain yang paling dielu-elukan oleh Aremania. Ketajamannya tak pernah habis dimakan usia. Tak heran banyak Aremania yang khawatir Gonzales bakal meninggalkan Malang.

Maret kemarin, saat tim-tim peserta Liga Indonesia tengah sibuk mempersiapkan skuat, pendukung Arema FC sempat was-was ketika mengetahui jika Gonzales belum juga mendapatkan kontrak baru dari manajemen.

Bermula dari sebuah posting-an di Instagram ofisial tim, warganet secara masiv menuliskan kata-kata mendukung Gonzales. Tagar seperti #saveloco dan #savegonzales membanjiri kolom komentar di posting-an tersebut.

Esteban_Vizcarrafans: #saveloco.

Ryanfatkhu: #savegonzales.

Nooraqlal_: Jangan lepas gonzales kami mohon pak @aremafcofficial.

Achmad Ghozali, salah satu dedengkot Aremania juga sempat mengutarakan pendapatnya soal mengapa ketika itu El Loco belum juga mendapatkan kontrak baru di Arema FC. Menurutnya, melihat performa Gonzales di Piala Presiden kemarin, pihak manajemen tak perlu lagi pikir panjang.

"Kami berpikir persoalan kontrak Gonzales sudah selesai karena dia tampil lepas di Piala Presiden. Begitu muncul berita dia belum dikontrak, tentu kami sedih. Harusnya dia pemain yang jadi prioritas utama untuk dikontrak," ujar Achmad Ghozali.

"Suasana seperti ini justru bikin tim tidak kondusif nantinya. Jadi kami harap segera ada solusi antara manajemen dengan pihak Gonzales. Segera mungkin kedua pihak berkomunikasi," lanjutnya. Daripada membeli marquee player yang kontraknya tinggi, lebih baik digunakan untuk perpanjangan kontrak pemain lama. Salah satunya Gonzales."

"Meski sudah senior, naluri gol Cristian Gonzales masih tinggi. Di Piala Presiden dia sempat mencetak lima gol dalam satu laga. Final dia membuat tiga gol. Sayang kalau dia sampai pergi."

Pernyataan tersebut sedikit banyak menunjukkan betapa kecintaan Aremania sangatlah besar. Ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi manajemen untuk tetap mempertahankannya, toh ia tetap tajam di lini serang.

Bila Aremania sebagai ruh klub masih berharap Gonzales dipertahankan, wajarkah manajemen menyingkirkannya?


2. Nyatanya, El Loco Masih Tetap Tajam di Lini Depan

Cristian Gonzales (Arema FC).

Karena memang pada kenyataannya, Cristian Gonzales alias Mustafa Habibi tidak bisa disingkarkan begitu saja. Setidaknya, hingga pekan ke-13 Liga 1, ia masih masih menjadi top skor klub dengan gelontoran empat golnya ke gawang lawan.

Di awal-awal kompetisi, nama Gonzales sempat meredup. Bukan karena suntingan gol demi gol yang dilesakkan striker lawan, melainkan oleh rekannya sendiri, Dedik Setiawan.

Dedik seakan berusaha menyaingi Gonzales dengan menjadi pahlawan kemenangan di pekan ke-2, 3, dan 4 Liga 1 2017. Striker berusia 23 tahun tersebut mencetak gol secara beruntun melawan Bhayangkara FC, Persiba Balikpapan, dan Barito Putera.

Parahnya, Gonzales mandul di laga-laga tersebut. Ia bahkan baru bisa mencetak gol di pekan ke-6 melawan Madura United. Namun sayang, gol itu tak membawa Arema FC pulang dengan kemenangan karena Singo Edan hanya bermain imbang 1-1. Itu pun lewat penalti.

Setelah gol perdana di musim ini, tanda tanya besar kembali muncul. Bagaimana tidak, kurang lebih satu bulan Gonzales absen mencetak gol. Melawan Persela Lamongan (0-4), Mitra Kukar (2-0), Persija Jakarta (0-2), dan Perseru Serui (0-0), EL Loco gagal menjawab kepercayaan manajemen tim.

Kesabaran dan tekad kuat akhirnya terbayar kala menjamu Bali United di pekan ke-11. Tidak hanya satu gol, tapi dua gol langsung ia bobol ke gawang Serdadu Tridatu. Arema FC pun unggul meyakinkan 2 gol tanpa balas.

Melawan PS TNI di pekan ke-12, Gonzales lagi-lagi tak sanggup cetak gol, baru kemudian di laga melawan Sriwijaya FC yang berakhir dramatis, ia menambah koleksi golnya menjadi empat.

Menariknya, empat gol yang sudah ia bukukan adalah yang terbanyak di antara skuat yang ada. Lalu, masih pantaskah manajemen klub meragukan Cristian Gonzales?


3. Kemudian, Belum Ada Pengganti yang Sepadan

Cristian Gonzales (kanan) saat menghadapi Persela Lamongan.

Arema FC memiliki empat penyerang murni. Selain Gonzales, ada Sunarto, Dedik Setiawan, dan Dalmiansyah. Dari empat nama tersebut, hanya Gonzales (11) dan Dedik (9) yang paling sering diturunkan. Dedik bahkan perlahan mulai tidak dipercaya tampil sebagai starter di beberapa pekan belakangan.

Kecenderungan Aji Santoso adalah memainkan Gonzales dengan diapit oleh dua gelandang serang atau sayap. Mulai dari Dendi Santoso, Arif Suyono, Muhammad Rafli, Esteban Vizcarra, atau Andriyanto.

Khusus Dedik, ia sebenarnya bukan striker kacangan. Tiga gol di tiga pertandngan beruntun seperti pemaparan sebelumnya cukup sahih menunjukkan betapa ia punya kualitas. Tapi soal konsistensi masih patut dipertanyakan. Sebab Dedik mandul setelah terakhir kali mencetak gol di pekan ke-4.

Selebrasi gol Dedik Setiawan ke gawang Bhayangkara FC.

Striker lainnya, Sunarto dan Dalmiansyah malah bisa dibilang belum memberikan kontribusi. Wajar memang mengingat Aji lebih menyukai formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 dengan menempatkan winger sebagai penyerang, seperti Roberto Firmino dan Philippe Coutinho di Liverpool, misalnya. Alhasil, pilihan jatuh kepada El Loco atau Dedik sebagai penyerang murni.

Jika sudah begini, apakah pantas bagi manajemen Arema FC melepas Gonzales seperti digosipkan?

Jawabannya mungkin masih akan menunggu dibukanya bursa transfer paruh musim nanti. Jika klub mampu mendapatkan striker baru yang relatif lebih muda, tajam, dan bisa dicintai oleh Aremania seperti mereka mencintai Gonzales, keputusan bijaksana harus dilakukan.

Cristian GonzalesLiga IndonesiaArema FCLiga 1

Berita Terkini