x

Deretan 'Tumbal' di Perhelatan Liga 1 dan Liga 2

Selasa, 14 November 2017 14:42 WIB
Penulis: Yohanes Paulus Arianto Namang | Editor: Galih Prasetyo
Ricko Andrean

Kematian memang rencana Tuhan, tapi tak bisa dipungkiri ada campur tangan manusia di dalamnya. Kadang, manusia tak bisa menahan nafsunya, tak bisa menahan insting buasnya untuk menghabisi nyawa sesamanya. 

Dalam sepakbola, kematian tentu menjadi momok menakutkan dan hantu yang kapanpun dapat merenggut siapa saja. Orang baik dan orang jahat bisa saja jadi sasaran maut. 

Sepakbola harusnya menjadi olahraga yang menyatukan manusia, menjadi bahasa universal yang membahagiakan semua saja. Namun, ironisnya adalah dalam sepakbola masih saja kita jumpai kekerasan yang tak jarang berujung maut. 

Harusnya kematian di tribun tak perlu terjadi, jika semua pendukung memiliki kesadaran bahwa kita semua adalah satu. Bersaudara dalam keyakinan yang sama yakni sepakbola adalah bahasa persatuan universal. 

Selain itu juga adanya langkah-langkah antisipatif dari pihak penyelenggara, terutama pemerintah, yang sigap melakukan pencegahan agar tidak ada kekerasan sedikitpun atas nama apapun di stadion. Ini jadi pekerjaan rumah kita bersama, tapi juga jadi tanggung jawab moral kita untuk mencegah jatuhnya korban atas nama sepakbola. 

Baca Juga

Berikut ini INDOSPORT hadirkan di hadapan para pembaca, korban jiwa akibat hilangnya rasa kemanusiaan para suporter, dengan maksud agar hal serupa tak terulang kembali. 


1. Ricko Andrean

Ricko, korban salah sasaran oknum Bobotoh.

Kematian Ricko Andrean adalah dukacita mendalam bagi dunia sepakbola, lebih daripada itu matinya rasa kemanusiaan kita. 

Laki-laki 22 tahun itu adalah seorang bobotoh sapaan khas suporter setia Persib Bandung. Dia harus rela meregang nyawa lantaran berusaha melindungi salah seorang penonton yang dicurigai sebagai Jakmania dalam laga klasik antara Persib vs Persija yang digelar di Stadion Bandung Lautan Api (22/17/17).

Penonton yang diduga sebagai pendukung Persija itu dikeroyok massa hingga akhirnya lari dan bersembunyi di balik Ricko. Sial memang tak pernah berkompromi dengan siapapun, begitupun maut. 

Diduga sebagai anggota Jakmania, Ricko pun jadi pelampiasan hasrat membabi buta bobotoh dan ambruklah dia. Ia meninggal. Wafatnya Ricko adalah alarm peringatan bahwa sepakbola kita sedang berada dalam situasi darurat. 

Sepakbola sebagai bahasa universal menjadi ajang adu kekerasan antar pendukung, sepakbola sebagai permainan yang membaw gembira jadi momok dan horor menakutkan. 


2. Rizal Yanwar Putra

Salah satu suporter Persija Jakarta atau Jak Mania meninggal dunia.

Pekan terakhir Liga 1 ditutup dengan catatan hitam. Anggota Jakmania, Rizal Yanwar Putra  meninggal dunia. Rizal tewas usai menjadi korban pengeroyokan usai menonton laga Persija vs Bhayangkara di Stadion Patriot, Bekasi akhir pekan lalu. 

Anggota The Jakmania Sukatani Subkorwil Cikarang itu jadi korban ketiga di sepakbola nasional dalam tiga bulan terakhir. Sebelum Rizal, ada Catur Yuliantono dan Banu Rusman. Khusus Catur ialah korban tak berdosa saat menonton laga Timnas vs Fiji pada 02 September 2017 lalu. 

Menurut data dari Save Our Soccer (SOS) total pada 2017 ini ada 12 suporter tewas. Jumlah ini menjadi jumlah terbanyak selama satu tahun dalam sejarah sepak bola Indonesia.

“Terlalu murah harga nyawa di sepak bola Indonesia. Bahkan, hanya masuk ketegori kejadian biasa. Tak ada pengusutan secara tuntas. Alhasil, kejadian yang luar biasa ini menjadi biasa dan lumrah. Tidak baik buat perkembangan sepak bola Indonesia." kata Koordinator SOS, Akmal Marhali. 

Lagi-lagi, kemanusiaan tak ada harganya ketika dendam dan kebanggaan melampui akal sehat. 


3. Banu Rusman

Suporter Persita Tangerang meninggal dunia hari ini usai bentrok dengan suporter PSMS Medan.

Banu (17) adalah sosok supel yang kerap hadir menyaksikan laga-laga yang dimainkan oleh Persita. Kali ini niat baiknya menyaksikan pertandingan Persita Tangerang vs PSMS Medan di Cibinong Bogor ternyata adalah untuk yang terakhir kalinya. 

Siapa sangka, siapa duga maut sedang menantinya di Cibinong. Banu tewas akibat bentrokan yang terjadi setelah bentrok yang melibatkan sejumlah oknum aparat. 

"Untuk liga ini, maaf yang bermain Persita vs PSMS kenapa ada aparat? Kita lebih tahu kan Ketua Umum PSSI siapa?" sesal pengurus Viola Tangsel yang juga menyaksikan langsung laga dua hari lalu itu.

Viola Tangsel yang tidak ingin menyebutkan namanya itu berharap rekan-rekannya mengikhlaskan kepergian Banu Rusman. Selain itu, pendukung Persita juga diminta untuk tetap tenang dan menjaga nama baik klub kebanggaannya.

Persib BandungPersija JakartaLiga Indonesia

Berita Terkini