3 Fakta Mencengangkan Sejarah Rivalitas Persebaya dan Arema
Persebaya Surabaya dipastikan maju ke babak semifinal Piala Gubernur Kaltim 2018 (PGK) usai berhasil menekuk Sriwijaya FC dengan skor 2-0 di Stadion Batakan, Balikpapan pada Kamis (01/02/18) kemarin.
Dan dipastikan Bajul Ijo akan berhadapan dengan rival sepanjang masa mereka, Arema FC. Tentunya ini akan menjadi laga Derby Jatim yang sengit mengingat rivalitas kedua tim yang selalu panas.
Laga El Classico klub-klub Jawa Timur ini memang selalu ditunggu-tunggu, baik oleh para Aremania maupun Bonek. Keduanya punya sejarah yang cukup sengit dalam urusan di dalam maupun luar lapangan.
Arema sendiri sebenarnya sudah lebih dulu dipastikan lolos ke babak semifinal PGK 2018. Klub berjuluk Singo Edan tersebut berhasil mengalahkan Mitra Kukar dengan skor 1-3, membuat Arema membuka kesempatan untuk memperebutkan posisi ke laga final.
Soal rivalitas antara Persebaya dan Arema sendiri, dua klub tersebut memiliki sejarahnya sendiri. Setidaknya sederetan fakta yang bikin mencengangkan ini setidaknya sedikit menjawab dari mana asal rivalitas itu akhirnya lahir. Berikut INDOSPORT coba merangkum beberapa fakta tersebut.
1. Rivalitas Lahir di Liga Indonesia 1994
Persaingan panas kedua klub Jawa Timur tersebut sebenarnya lahir perdana usai adanya peleburan kompetisi yang dilakukan pada 1994 silam, dimana kompetisi Perserikatan dan Galatama akhirnya disatukan.
Pertemuan Persebaya dan Arema terjadi pertama kalinya kala mereka berada di Divisi Utama Liga Indonesia pada 1994 lalu. Dalam laga tersebut, Singo Edan berhasil mengandaskan Bajul Ijo dengan skor 1-0.
Namun, pertemuan kedua mereka menghasilkan raihan yang berbeda dari sebelumnya. Persebaya mengalahkan Arema dengan skor 3-2, membuat rivalitas tersebut akhirnya lahir di 14 pertemuan selanjutnya, bahkan hingga saat ini.
2. Tarung Harga Diri Bonek dan Aremania
Persaingan terjadi tak hanya di lapangan, namun juga di luar lapangan. Mereka adalah para pendukung Persebaya, Bonek, dan juga suporter Arema FC, para Aremania. Kehadiran mereka semakin membuat persaingan menjadi memanas.
Belum dapat dipastikan darimana rivalitas antara kedua pendukung itu lahir, namun ada dugaan bahwa rivalitas mereka muncul dari konflik yang terjadi di Tambaksari, dimana kedua kelompok yang berasal dari Surabaya dan Malang berseteru.
Kala itu, mereka tengah menonton sebuah konser, dimana area depan panggung dikuasai oleh anak-anak Malang yang meneriakan 'Arema'. Kabarnya, hal itu membuat arek-arek Surabaya di belakang mereka memanas. Konflik pun tak terbendung dan berlanjut di luar area konser.
3. Media Bikin Rivalitas Derby Jatim Memanas
Media punya peran besar dalam memanaskan keadaan. Pembingkaian serta pemilihan isu mengambil porsi yang cukup besar untuk menggiring opini masyarakat soal bagaimana cara mereka memandang Persebaya maupun Arema.
Persebaya dinilai memiliki pemberitaan yang cukup bagus dari media lokal terbesar mereka, Jawa Pos. Hal tersebut terungkap dalam buku Jawa Pos dan Sepakbola: Pembentukan Identitas Anak Muda Kota dengan Sepakbola.
Dalam buku tersebut, dikabarkan bahwa Jawa Pos memiliki kedekatan yang cukup emosional dengan Persebaya. Di satu sisi, Jawa Pos sendiri menjadi media terbesar di Jawa Timur. Hal ini tentu saja membawa keuntungan sendiri bagi Persebaya.
Namun rupanya hubungan emosional tersebut justru menjadi bumerang pemanas keadaan, dimana sederet klub, salah satunya Arema, melihat lahirnya arogansi Persebaya di kalangan sepakbola Jawa Timur.