x

Mengenang Sosok Pierluigi Collina: Wasit yang Ditakuti dan Disegani Pemain

Selasa, 1 Desember 2020 10:04 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
Mengenang sosok Pierluigi Collina, wasit berkepala plontos yang disegani dan ditakuti para pemain di atas lapangan.

INDOSPORT.COM – Mengenang sosok Pierluigi Collina, wasit asal Italia yang tegas dan memiliki tatapan menakutkan sehingga disegani para pemain di lapangan.

Pernahkah membayangkan apa jadinya sepak bola tanpa wasit? Wasit adalah elemen penting dalam sebuah pertandingan sepak  bola. Kehadirannya sebagai pengadil pun dibutuhkan untuk membuat pertandingan berjalan adil bagi kedua tim.

Wasit, dengan segala kontroversinya, dewasa ini kerap menjadi pihak yang selalu disalahkan. Jika menakar dari kelakar ‘wasit juga manusia’ maka tak heran kesalahan terkadang lahir dari keputusan atau bunyi peluit dari sosok satu ini.

Baca Juga
Baca Juga

Untuk meminimalisir kesalahan wasit, dunia sepak bola menerapkan sistem VAR (Video Assistant Referee) atau sebuah perangkat untuk membantu wasit membuat keputusan penting dalam sebuah pertandingan.

Penggunaan VAR pertama kali dilakukan pada 2016 dalam sebuah uji coba langsung di sebuah pertandingan antara dua tim cadangan Major League Soccer (MLS). Hingga saat ini, VAR diadopsi beragam liga top Eropa dan dunia.

Dengan kehadiran VAR, memang kinerja seorang wasit akan lebih mudah. Pasalnya, ia bisa menilai dari tayangan ulang untuk kejadian-kejadian yang luput dari pandangan matanya.

Baca Juga
Baca Juga

Meski begitu, kontroversi selalu ada dengan hadirnya VAR. Tak pelak kontroversi ini berbuah protes keras. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana kerasnya protes pemain atau ofisial tim dahulu saat VAR belum dipergunakan?

Protes keras pemain di sepak bola adalah hal yang lumrah. Justru protes para aktor di lapangan ke wasit bak sebuah drama. Tak ayal protes ini membutuhkan ketegasan wasit yang harus tetap bergeming kepada keyakinannya dalam memutuskan sesuatu.

Berbicara ketegasan di dunia wasit, tentu pencinta sepak bola tak akan pernah lupa dengan sosok Pierluigi Collina. Wasit berkepala plontos ini bisa dikatakan wasit yang bisa membuat ciut nyali pemain saat memprotes keputusannya.


1. Mantra Pierluigi Collina dan Peran Militer dalam Karier sebagai Wasit

Pierluigi Collina, mantan wasit sepak bola asal Italia.

Pierluigi Collina lahir di Bologna pada 13 Februari 1960. Kariernya sebagai perangkat pertandingan di Italia pun dimulai sejak tahun 1988.

Sebelum menjalani kariernya sebagai wasit, Collina sendiri pernah menjalani karier di dunia kemiliteran. Pengalamannya di dunia militer pun ia aplikasikan dalam karier selanjutnya sebagai wasit.

Rekam jejak apik Collina terlihat saat dirinya dipromosikan untuk menjadi perangkat pertandingan di Serie B dan Serie A Italia. Hanya butuh tiga musim saja baginya untuk promosi  dan memimpin pertandingan profesional di negaranya.

Pada 1995, ia masuk dalam daftar wasit FIFA. Dengan masuknya ke dalam daftar wasit FIFA, karier Collina sebagai wasit pun melonjak. Ia pun ditunjuk untuk memimpin pertandingan-pertandingan internasional seperti Olimpiade tahun 1996 dan Piala Dunia 1998.

Berbicara soal Pierluigi Collina, tentu tak lepas dari sorotan tajam dan wajah menyeramkan yang membuat ciut nyali pemain. Ada yang menyebut wajah Collina dengan kepalanya yang plontos persis seperti lukisan karya Edvard Munch berjudul ‘The Scream’.

Pierluigi Collina

Dengan perawakan tinggi dan wajah yang seram, hampir seluruh pemain di pertandingan yang ia pimpin tak ada yang berani memprotes kebijakanya. Jika pun ada, nada tinggi dan sorot mata tajam akan mengarah ke pemain tersebut.

Sejatinya, yang membuat pemain jarang memprotes Collina bukanlah karena perawakan dan wajah seramnya. Collina menyebut prinsipnya sebagai wasit lah yang membuat para pemain segan kepadanya.

Mantra ‘I am a man of the rules’ selalu dipegang ole Collina yang memang pernah menjalani karier di kemiliteran. Sebagai wasit, ia memegang teguh mantra tersebut untuk memimpin pertandingan.

Sebagai wasit, Collina bertindak untuk menjadi orang yang dipercaya kedua pihak, bukanlah sosok yang mendikte ataupun menentukan pertandingan.

“Anda harus diterima di lapangan. Bukan karena Anda seorang wasit, tetapi karena orang-orang percaya kepadamu,” tutur Collina dikutip dari These Football Times.

Kharisma Collina sebagai wasit pun terlihat jelas pada laga final Liga Champions 1998/99. Saat Manchester United membuat dua gol di akhir pertandingan ke gawang Bayern Munchen, para pemain The Bavarian tertunduk lesu.

Di menit tersisa, Collina layaknya tim medis di medan perang ketika mengulurkan tangan kepada para pemain Munchen yang tertunduk dan terbaring lesu karena tak percaya kebobolan dua gol di akhir pertandingan.

Sebuah pemandangan epik tentunya bagi Collina sendiri, para pemain Munchen dan para penonton laga tersebut. Tindakan tersebut pun menjadi salah satu citra indah di balik sosok pria berusia 60 tahun tersebut.

Tak ayal, sematan wasit terbaik mampir kepadanya. Enam gelar wasit terbaik dari FIFA mampir kepadanya secara beruntun. Hingga memutuskan pensiun, Collina sendiri telah memimpin 467 pertandingan.

Dari 467 pertandingan itu, Pierluigi Collina mengeluarkan 1470 kartu kuning dan 131 kartu merah. Maka tak heran, pesonanya sebagai wasit mendapat penghargaan apik,termasuk saat menjadi cover gim sepak bola Pro Evolution Soccer 3 yang biasanya diisi para bintang sepak bola.

Manchester UnitedBayern MunchenWasitPierluigi CollinaIn Depth SportsprofilSepak Bola

Berita Terkini