Antonio Conte dan Chelsea, Harmoni yang Rusak karena Egoisme
INDOSPORT.COM â Romantisnya hubungan Antonio Conte dan Chelsea diyakini akan bertahan lama usai berhasil menjuarai Liga Inggris 2016/17. Tapi kenyataanya, sisi egois kedua pihak meruntuhkan hubungan ini.
Conte menjadi salah satu pelatih di era Roman Abramovich yang dipuja pendukung Chelsea. Prestasi, taktik, dan jiwa menggebu-gebunya atau Passion, menjadi benih-benih tumbuhnya kecintaan pendukung The Blues terhadap sosoknya.
Conte tak punya riwayat dengan Chelsea sebelumnya. Saat ditunjuk sebagai pelatih pada awal musim 2016/17, ia hanyalah satu dari sekian pelatih asal Italia yang akan menukangi The Blues kala itu.
Riwayat Chelsea dan Conte hanyalah sebatas moncernya sepak terjang The Blues ditangan pelatih asal Italia. Modal tersebut cukup untuk membuat pelatih yang kini membesut Inter Milan itu percaya diri saat menjejakkan kakinya di tanah Inggris.
Antonio Conte ditunjuk menjadi pelatih Chelsea saat dirinya tengah menukangi Timnas Italia di ajang Euro 2016. Kala itu, pria berusia 51 tahun ini dikontrak selama tiga tahun.
Saat pertama kali tiba, Conte tak begitu saja menunjukkan magisnya. Butuh hingga pekan ke-6 dan tamparan dari Arsenal sebelum ia menemukan formula yang membuat Chelsea terbang tinggi.
Kekalahan 0-3 dari Arsenal membuat Conte memakan taktik 3-4-3 andalannya di Italia. Siapa sangka, taktik ini membawa tuah dengan 13 kemenangan beruntun di kancah liga.
Taktik itu juga membuat Chelsea menorehkan rekor 30 kemenangan di Liga Inggris sekaligus menjadi kampiun. Tak ayal, kontrak baru yang berisi kesepakatan-kesepakatan termasuk gaji Conte.
Kontrak baru itu diharapkan membawa tuah dan memperpanjang romantisme hubungan Chelsea dan Conte. Sayangnya, kontrak itu tak cukup mempertahankan bahtera keduanya.
Di musim 2017/18, Antonio Conte dan Chelsea menjalani periode sulit yang membuat Allenatore asal Italia itu harus dipecat. Pecahnya romantisme kedua belah pihak tak lain karena ego besar di antara keduanya.
1. Keegosian Antonio Conte dan Chelsea
Ego merupakan pemusatan terhadap diri sendiri. Sedangkan Egois adalah sifat yang lebih memilih menguntungkan diri sendiri.
Istilah egois nampaknya pantas disematkan kepada Conte dan Chelsea sendiri. Istilah itu pula yang membuat hubungan keduanya hancur.
Bagaimana bisa Conte dan Chelsea yang berada dalam bulan madu usai menorehkan tinta apik dengan menjuarai Liga Inggris 2016/17 tiba-tiba hubungannya hancur dalam tempo satu musim saja?
Jawabannya adalah keegoisan baik dari Conte dan Chelsea. Di musim 2017/18, keduanya tak pernah menemui kata sepakat dalam menjalankan tim.
Retaknya hubungan antara Conte dan Chelsea diawali karena keegoisan kedua belah pihak dalam bursa transfer musim panas 2017.
Saat itu, Conte mengaku dirinya ingin mendatangkan Virgil van Dijk dan Romelu Lukaku, dua pemain yang ia anggap dapat menaikkan performa timnya sebanyak 30 persen.
“Saya memint dua pemain dan kami sangat, sangat, sangat dekat setelah memenangkan liga. Satu pemain adalah Romelu Lukaku dan pemain kedua adalah Virgil van Dijk.
“Kami menjaga komunikasi setiap harinya dan saya selalu katakan dengan dua pemain ini kami akan meningkatkan tim sebanyak 30 persen,” tutur Conte dikutip dari The Telegraph.
Namun, Chelsea tak sanggup memenuhi keinginan itu. Pasalnya, Van Dijk telah sepakat bergabung Liverpool dan Lukaku lewat Mino Raiola memilih Manchester United.
Kegagalan membawa dua pemain kesukaannya dibalas oleh Chelsea dengan mendatangkan Antonio Rudiger dan Alvaro Morata.
Keegoisan Chelsea yang tak mampu memenuhi transfer yang dimintanya tanpa disadari merupakan buah hasil perbuatan Conte dengan keegoisannya sendiri yang telah ditunjukkannya usai menjuarai liga.
Conte dengan kapasitasnya sebagai pelatih membuat keputusan mengejutkan dengan menendang Diego Costa lewat pesan singkat.
Costa disebut tak masuk dalam rencananya di musim 2017/18 yang menimbulkan prahara. Keputusan Conte menendangnya kepercayaan dirinya memboyong Lukaku.
Keputusan ini memperkeruh suasana tim yang bahkan belum menjalani musim 2017/18. Situasi tersebut kian diperparah dengan keegoisan Chelsea yang mendatangkan Rudiger dan Morata.
Bak telah terlanjur basah, Conte meneruskan sisi egoisnya saat menukangi Chelsea di musim 2017/18. Keegoisannya terlihat jelas dari dirinya yang terlihat tak mau bekerja keras dengan skuat yang terpaksa harus ia miliki.
Berkali-kali Conte terlihat menyerah dengan merujuk kata ‘Suffer (menderita)’ di setiap wawancara pra laga yang ia ikuti. Ia meminta anak asuhnya untuk siap menderita, padahal 80 persen skuatnya di musim 2017/18 adalah skuat saat ia menjuarai liga 2016/17.
Keegoisan Conte yang terlihat enggan bekerja secara totalitas untuk skuatnya di Liga Inggris 2017/18 pun berujung pemecatannya yang dibarengi besarnya kompensasi yang ia terima yakni mencapai 26.6 juta poundsterling.
Meski mampu meraih titel Piala FA 2017/18, keegoisan Conte dan Chelsea telah merusak situasi di kamar ganti sehingga pemain sekelas Willian melakukan aksi tak sopan dengan menutup Conte menggunakan emoji piala di unggahan Instagram-nya.