x

Gara-gara Koementari Wasit, Declan Rice Terancam Sanksi Liga Champions

Jumat, 1 Mei 2026 16:33 WIB
Editor: Redaksi
Para pemain Arsenal Gabriel, Declan Rice, Gabriel Martinelli dan Gabriel Jesus memprotes kepada asisten wasit. (Foto: Reuters/Peter Cziborra)

INDOSPORT.COM - Gelandang Arsenal, Declan Rice, berpotensi menghadapi sanksi dari UEFA setelah komentarnya seusai laga semifinal leg pertama Liga Champions melawan Atletico Madrid menjadi perhatian badan sepak bola Eropa tersebut. Pemain timnas Inggris itu disebut sedang dalam pengawasan setelah menilai keputusan wasit Danny Makkelie dipengaruhi tekanan suporter tuan rumah di Madrid.

Situasi ini muncul setelah Arsenal bermain imbang 1-1 melawan Atletico Madrid dalam pertandingan yang berlangsung panas dan penuh keputusan kontroversial. Wasit Danny Makkelie beberapa kali menunjuk titik putih sepanjang laga. Arsenal mendapat penalti setelah David Hancko dinilai melanggar Viktor Gyokeres, sementara Atletico juga memperoleh penalti karena handball Ben White.

Baca Juga

Namun, momen yang paling memicu kemarahan kubu Arsenal terjadi ketika Eberechi Eze dijatuhkan di kotak penalti. Awalnya, Makkelie memberikan penalti untuk Arsenal. Akan tetapi, setelah meninjau tayangan ulang melalui VAR berkali-kali, keputusan itu dibatalkan. Menurut laporan Reuters, Mikel Arteta juga menyatakan frustrasi karena menilai kontak terhadap Eze cukup jelas dan keputusan tersebut dapat mengubah arah pertandingan.

Rice kemudian menyampaikan kekecewaannya kepada media. Ia menilai atmosfer stadion dan reaksi suporter Atletico Madrid ikut memengaruhi keputusan wasit untuk membatalkan penalti tersebut.

“Liga Champions UEFA benar-benar berbeda. Di dua kotak penalti, Anda harus sangat berhati-hati karena mereka bisa memberikan segalanya,” ujar Rice.

Menurut Rice, insiden terhadap Eze seharusnya tetap berujung penalti.

“Untuk yang kedua, insiden Ebs, itu jelas penalti. Saya tidak tahu bagaimana itu tidak diberikan. Saya pikir para suporter memprovokasi keputusan itu dan mengubah pikiran wasit. Tapi tidak masalah, kami lanjut ke pekan depan dan ingin mengalahkan mereka di kandang,” katanya.

Komentar inilah yang kini berpotensi menjadi masalah bagi Rice. UEFA dikabarkan akan mempelajari laporan resmi wasit sebelum menentukan apakah ucapan tersebut dianggap sekadar kritik terhadap keputusan pertandingan, atau sudah masuk kategori mempertanyakan integritas perangkat laga. Jika dinilai melewati batas, sanksi disiplin tidak bisa dikesampingkan.

Kasus seperti ini cukup sensitif di kompetisi Eropa. UEFA biasanya memberi ruang bagi pemain dan pelatih untuk menyampaikan kekecewaan, tetapi tuduhan bahwa wasit dipengaruhi tekanan eksternal dapat dipandang lebih serius. Apalagi, dalam konteks semifinal Liga Champions, setiap keputusan memiliki dampak besar terhadap peluang tim melaju ke final.

Bagi Arsenal, potensi sanksi terhadap Rice tentu menjadi kekhawatiran tambahan. Ia merupakan salah satu pemain paling penting dalam struktur permainan Mikel Arteta. Perannya bukan hanya sebagai gelandang bertahan, tetapi juga penghubung antarlini, pengatur ritme, sekaligus pemain yang sering menjaga keseimbangan ketika Arsenal kehilangan bola.

The Times melaporkan bahwa UEFA belum menjatuhkan keputusan final. Namun, skenario hukuman tetap terbuka, termasuk kemungkinan larangan bermain jika komentarnya dianggap merusak kredibilitas wasit. Rice sendiri pernah mendapat sanksi dua pertandingan ketika masih memperkuat West Ham United setelah menuduh seorang wasit melakukan korupsi. Proses disiplin dalam kasus tersebut memakan waktu sekitar lima pekan.

Selain insiden penalti Eze, Rice juga menyinggung penalti yang diberikan kepada Atletico akibat handball Ben White. Ia mengaku belum melihat ulang kejadian tersebut secara detail, tetapi merasa keputusan semacam itu mungkin akan diperlakukan berbeda di Premier League.

“Saya belum melihatnya lagi. Pada pandangan pertama, saya pikir mungkin jika itu terjadi di Premier League, penalti tidak akan diberikan karena posisi bolanya sangat rendah ke tanah,” ujar Rice.

“Bolanya juga tidak mengarah ke gawang. Tapi pertandingan UEFA memang memiliki standar yang berbeda. Tangan harus jauh dari tubuh. Saya pikir di UEFA itu diberikan, tetapi di Premier League saya tidak begitu yakin,” lanjutnya.

Perbedaan interpretasi antara kompetisi domestik dan Eropa memang sering menjadi bahan perdebatan. Dalam beberapa musim terakhir, VAR telah membantu wasit mengambil keputusan lebih akurat, tetapi di sisi lain tetap membuka ruang kontroversi ketika publik menilai standar keputusan tidak konsisten.

Arsenal kini harus mengalihkan fokus ke leg kedua. Hasil imbang 1-1 membuat peluang kedua tim masih terbuka, tetapi situasi menjadi lebih rumit jika Rice benar-benar mendapat hukuman. Kehilangan pemain sekelas Rice di fase sepenting ini bisa menjadi pukulan besar bagi Arsenal, terutama menghadapi Atletico yang dikenal kuat secara fisik, disiplin secara taktik, dan berbahaya dalam laga dua leg.

Untuk saat ini, Arsenal masih menunggu langkah UEFA berikutnya. Sementara itu, Rice kemungkinan harus lebih berhati-hati dalam pernyataan publiknya. Dalam sepak bola modern, kritik terhadap keputusan wasit bukan lagi sekadar ekspresi emosi setelah pertandingan. Di level Liga Champions, satu kalimat bisa berubah menjadi perkara disiplin yang menentukan nasib seorang pemain dan timnya.

ArsenalLiga ChampionsDeclan Rice

Berita Terkini