Sheffield Wednesday Diselamatkan Investor Amerika Usai Krisis Finansial
Kabar gembira akhirnya menyambangi publik Hillsborough. Klub bersejarah Inggris, Sheffield Wednesday, secara resmi dinyatakan keluar dari status administrasi setelah konsorsium asal Amerika Serikat, Arise Capital Partners, merampungkan proses akuisisi klub pada Sabtu (2/5/2026).
Langkah ini menandai berakhirnya kepemimpinan Dejphon Chansiri yang penuh kontroversi dan membawa harapan baru bagi klub berjuluk The Owls tersebut, setelah melewati salah satu musim paling kelam dalam sejarah sepak bola Inggris.
Konsorsium Arise Capital Partners dipimpin oleh David Storch, seorang eksekutif layanan penerbangan berusia 73 tahun, didampingi oleh putranya, Michael Storch, serta Tom Costin. Pengumuman akuisisi ini dilakukan sesaat sebelum laga kandang terakhir Sheffield Wednesday melawan West Bromwich Albion di pekan penutup Championship.
Dalam pernyataan resminya yang dilansir dari Independent, David Storch menekankan bahwa fokus utama mereka adalah mengembalikan marwah klub dan kepercayaan para pendukung.
“Sejak awal, ini lebih dari sekadar akuisisi. Ini adalah tentang tanggung jawab kepada klub, sejarahnya, dan yang terpenting kepada para pendukungnya. Sheffield Wednesday layak mendapatkan stabilitas, ambisi, dan arah yang jelas. Itulah yang akan kami hadirkan,” tegas Storch.
Ia juga menambahkan komitmen jangka panjangnya untuk mengelola klub dengan transparansi. "Kami tahu kepercayaan harus diperjuangkan. Kami merasa rendah hati atas kesempatan ini dan akan mendekatinya dengan transparansi serta komitmen jangka panjang untuk melakukan segalanya dengan cara yang benar."
Kejutan positif lainnya datang dari otoritas liga. EFL memutuskan untuk tidak menjatuhkan tambahan sanksi pengurangan 15 poin yang sebelumnya menghantui klub setelah keluar dari administrasi. EFL menyatakan bahwa pemberian sanksi tambahan "tidak tepat" mengingat situasi kompleks yang telah dilalui klub.
Sebelumnya, di bawah kepemilikan Chansiri, Sheffield Wednesday telah dijatuhi total pengurangan 18 poin musim ini—12 poin karena masuk status administrasi pada Oktober tahun lalu dan 6 poin akibat pelanggaran pembayaran biaya transfer serta gaji staf dan pemain.
Akibat sanksi berat dan krisis finansial tersebut, Sheffield Wednesday dipastikan terdegradasi ke League One (divisi ketiga) sejak 13 laga sebelum musim berakhir. Ini merupakan degradasi tercepat yang pernah tercatat dalam sejarah sepak bola profesional Inggris.
Meski telah memiliki pemilik baru, Sheffield Wednesday tetap akan berada di bawah pengawasan ketat EFL selama dua musim ke depan. Klub diizinkan merekrut pemain baru, namun harus sesuai dengan "rencana bisnis" yang telah disepakati antara Storch dan EFL. Hal ini dilakukan untuk memastikan stabilitas finansial jangka panjang dan mencegah terulangnya kesalahan di era Chansiri.
Chansiri sendiri, yang mengambil alih klub pada 2015, kini resmi dilarang menjadi pemilik atau direktur klub mana pun di bawah naungan EFL selama tiga tahun ke depan.
Hingga pekan ke-45, Sheffield Wednesday mencatatkan statistik yang memprihatinkan dengan hanya satu kemenangan, 12 hasil imbang, dan 32 kekalahan, yang membuat mereka terjerembab di dasar klasemen dengan poin minus tiga (-3).
David Kogan, Ketua Regulator Sepak Bola Independen (IFR), menyambut baik kesepakatan ini sebagai angin segar bagi komunitas sepak bola di Sheffield.
"Kesepakatan ini adalah berita baik bagi komunitas dan para penggemar yang telah menanggung ketidakpastian dalam waktu lama. Pengalaman Sheffield Wednesday adalah pengingat tepat waktu mengapa IFR didirikan, untuk memastikan hanya orang-orang yang layak dan tepat yang diizinkan memiliki serta mengoperasikan klub sepak bola," pungkas Kogan.