Daftar Kandidat Manajer Terbaik Liga Inggris 2025/26, Siapa Paling Layak Menang?
INDOSPORT.COM - Identitas pemenang penghargaan Manajer Terbaik Liga Inggris musim 2025/26 segera diketahui. Enam nama telah diumumkan sebagai kandidat untuk meraih penghargaan prestisius tersebut.
Penghargaan ini pertama kali diberikan pada musim 1993-94. Biasanya, trofi jatuh kepada pelatih yang membawa timnya menjuarai Premier League.
Legenda Manchester United, Sir Alex Ferguson, menjadi pemegang rekor dengan 11 gelar. Namun, sejarah juga mencatat beberapa pemenang yang sukses karena melampaui ekspektasi tanpa harus menjadi juara.
Berikut enam nomine yang dinilai paling layak, berdasarkan urutan ranking versi Sports Illustrated. Mereka menunjukkan pencapaian luar biasa sepanjang musim ini.
1. Andoni Iraola (Bournemouth)
Andoni Iraola menjadi kandidat terkuat musim ini. Ia membawa AFC Bournemouth melampaui ekspektasi meski kehilangan banyak pemain penting.
Setelah kehilangan sebagian besar lini belakang dan winger andalan pada musim panas, situasi semakin sulit ketika pemain terbaiknya dijual pada Januari. Meski begitu, Bournemouth tetap bersaing di papan atas.
Klub kecil itu bahkan berpeluang lolos ke Liga Champions jika hasil lain berpihak pada mereka. Ini pencapaian luar biasa untuk klub dengan sumber daya terbatas.
Iraola disebut akan mencari tantangan baru musim depan. Jika benar hengkang, ia meninggalkan warisan besar bagi Bournemouth.
2. Michael Carrick (Manchester United)
Michael Carrick berhasil mengubah wajah Manchester United hanya dalam setengah musim. Kehadirannya langsung mendongkrak performa Setan Merah secara signifikan.
Setelah menggantikan Ruben Amorim pada Januari, Carrick memenangkan 10 dari 15 laga. Raihan 33 poinnya menjadi yang terbaik di liga dalam periode tersebut.
Target utama berupa tiket Liga Champions berhasil diamankan lebih cepat. Prestasi itu hampir pasti membuatnya dipermanenkan.
Banyak pihak menilai Carrick telah menghidupkan kembali identitas permainan United. Stabilitas yang ia hadirkan menjadi modal penting menuju musim depan.
3. Keith Andrews (Brentford)
Musim debut Keith Andrews bersama Brentford FC berjalan sangat impresif. Ia sukses keluar dari bayang-bayang Thomas Frank.
Banyak yang memprediksi Brentford akan kesulitan setelah kehilangan pemain-pemain kunci. Namun, Andrews justru membawa tim tetap kompetitif.
Brentford kini berada di ambang pencapaian posisi liga terbaik sepanjang sejarah klub. Mereka bahkan masih berpeluang tampil di kompetisi Eropa.
Pencapaian ini menjadi bukti kapasitas Andrews sebagai pelatih muda menjanjikan. Ia layak diperhitungkan di level tertinggi.
4. Mikel Arteta (Arsenal)
Mikel Arteta akhirnya berada di ambang membawa Arsenal FC mengakhiri puasa gelar liga yang panjang. Ini hasil dari proses bertahun-tahun.
Arsenal tinggal menjaga konsistensi dalam dua laga tersisa. Jika sukses, mereka akan meraih gelar yang telah lama dinantikan.
Meski demikian, performa mereka musim ini belum sepenuhnya meyakinkan secara estetika. Jumlah poin juara nanti juga berpotensi menjadi salah satu yang terendah dalam era modern.
Tetap saja, gelar adalah ukuran utama dalam sepak bola. Arteta pantas mendapat kredit besar atas capaian tersebut.
5. Régis Le Bris (Sunderland)
Régis Le Bris tampil mengejutkan bersama Sunderland AFC. Ia membuat tim promosi tampil solid sepanjang musim.
Sunderland sama sekali tidak terseret ancaman degradasi. Stabilitas pertahanan menjadi kunci sukses mereka.
The Black Cats bahkan berpeluang finis di atas rival sekota mereka, Newcastle United. Mereka juga masih menjaga peluang finis di papan tengah.
Ini akan menjadi pencapaian terbaik klub sejak musim 2010-11. Le Bris layak mendapat apresiasi besar.
6. Pep Guardiola (Manchester City)
Pep Guardiola tetap masuk nominasi bersama Manchester City. Ia masih menjaga timnya dalam persaingan gelar.
City dipastikan finis minimal di posisi kedua. Mereka bahkan masih punya peluang menjuarai liga untuk ketujuh kalinya.
Namun, standar tinggi yang dibangun Guardiola membuat musim ini terasa kurang istimewa. Dibanding musim-musim sebelumnya, performa City belum benar-benar dominan.
Bagi kebanyakan klub, finis kedua adalah pencapaian hebat. Namun, untuk Guardiola, ekspektasi selalu lebih tinggi dari itu.