5 Pemain Bintang Langgan Timnas Inggris Ini Tak Ikut Piala Dunia 2026
INDOSPORT.COM - Keputusan Thomas Tuchel dalam menentukan skuad akhir Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026 menghadirkan kejutan besar. Lima nama langganan The Three Lions justru tersisih meski sebelumnya menjadi bagian penting perjalanan tim nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Absennya Harry Maguire, Phil Foden, Luke Shaw, Trent Alexander-Arnold, dan Cole Palmer memunculkan perdebatan luas di Inggris. Sebagian menilai keputusan itu terlalu berani, sementara lainnya melihat Tuchel sedang membangun generasi baru dengan pendekatan taktis berbeda.
Kelima pemain ini memiliki jumlah caps yang tidak sedikit bersama Timnas Inggris. Namun, performa sepanjang musim 2025/26, persoalan kebugaran, hingga perubahan arah strategi permainan menjadi faktor utama yang membuat mereka gagal masuk daftar final.
Berikut lima pemain bintang langganan Timnas Inggris yang harus rela menonton Piala Dunia 2026 dari rumah.
1. Harry Maguire (66 Caps)
Harry Maguire menjadi nama paling mengejutkan yang dicoret Thomas Tuchel dari skuad final Piala Dunia 2026. Bek tengah berusia 33 tahun itu sebelumnya selalu menjadi andalan di turnamen besar sejak era Gareth Southgate.
Maguire mengoleksi 66 caps dan pernah menjadi sosok sentral di lini belakang Inggris. Pengalamannya di Piala Dunia 2018, Euro 2020, dan Piala Dunia 2022 menjadikannya salah satu bek internasional paling berpengalaman generasi ini.
Sepanjang musim 2025/26 bersama Manchester United, Maguire tampil dalam 29 pertandingan di semua kompetisi. Ia mencetak dua gol dan satu assist, tetapi performanya dianggap tidak lagi konsisten seperti masa puncaknya.
Masalah utama Maguire musim ini adalah penurunan mobilitas dan kecepatan recovery. Dalam sistem garis pertahanan tinggi milik Tuchel, kelemahan itu dianggap terlalu berisiko menghadapi lawan cepat di level Piala Dunia.
Tuchel lebih memilih John Stones, Marc Guehi, dan Jarell Quansah yang dinilai lebih fleksibel secara taktik. Kehadiran Dan Burn dan Ezri Konsa juga memberikan opsi duel udara tanpa mengorbankan kecepatan transisi bertahan.
Absennya Maguire menandai berakhirnya era penting dalam perjalanan internasionalnya. Bek yang sempat menjadi sasaran kritik publik itu tetap tercatat sebagai salah satu bek Inggris paling konsisten dalam turnamen besar.
2. Phil Foden (49 Caps)
Phil Foden termasuk korban terbesar revolusi skuad Thomas Tuchel menuju Piala Dunia 2026. Gelandang kreatif Manchester City itu gagal masuk meski berstatus salah satu talenta terbaik Inggris dalam satu dekade terakhir.
Foden sudah mengoleksi 49 caps dan sebelumnya nyaris selalu masuk skuad utama Inggris. Namun musim 2025/26 menjadi periode paling sulit dalam karier seniornya bersama Manchester City.
Ia tampil dalam 31 pertandingan di semua ajang dengan catatan tujuh gol dan lima assist. Statistik itu menurun drastis dibanding musim-musim sebelumnya ketika ia rutin mencetak dua digit gol.
Penurunan performa Foden dipengaruhi perubahan struktur permainan City usai transisi besar pasca-era Guardiola. Pergantian peran taktik membuatnya beberapa kali bermain di posisi yang tidak ideal.
Thomas Tuchel menginginkan gelandang serang yang agresif menekan dan kuat dalam duel fisik. Dalam aspek tersebut, Morgan Rogers dan Eberechi Eze dinilai tampil lebih cocok sepanjang musim.
Foden juga dinilai kehilangan konsistensi dalam pertandingan besar. Beberapa penampilannya di Liga Champions musim ini dianggap gagal memberi dampak signifikan ketika City membutuhkan kreativitas ekstra.
Meski tersisih, usia 26 tahun masih memberi peluang besar baginya kembali pada turnamen berikutnya. Namun untuk saat ini, Foden harus menerima kenyataan bahwa reputasi besar tidak menjamin tempat di era Tuchel.
3. Luke Shaw (34 Caps)
Luke Shaw kembali harus menerima pukulan berat dalam karier internasionalnya bersama Inggris. Bek kiri Manchester United itu gagal dipanggil setelah kembali diganggu masalah kebugaran sepanjang musim 2025/26.
Shaw sudah mengoleksi 34 caps dan menjadi starter pada final Euro 2020 serta Euro 2024. Namun tubuhnya kembali sulit diajak kompromi dalam dua musim terakhir.
Sepanjang musim ini, Shaw hanya tampil 17 kali di semua kompetisi. Ia menyumbang satu assist tanpa gol, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu dalam proses pemulihan cedera otot.
Thomas Tuchel membutuhkan pemain yang siap tempur secara fisik sepanjang turnamen padat. Riwayat cedera Shaw membuat staf medis Inggris tidak yakin ia mampu tampil optimal selama satu bulan penuh.
Selain itu, kemunculan Nico O’Reilly dan Tino Livramento memberi solusi baru di sisi kiri. Keduanya menawarkan energi tinggi, fleksibilitas posisi, dan intensitas pressing yang sesuai filosofi Tuchel.
Shaw sebenarnya masih dianggap salah satu bek kiri terbaik Inggris saat fit. Namun sepak bola level elite menuntut konsistensi kebugaran, sesuatu yang gagal ia jaga musim ini.
Absennya Shaw menjadi pengingat keras bahwa kualitas teknis tidak cukup tanpa kesiapan fisik. Jika ingin kembali, ia harus menjalani musim bebas cedera secara penuh.
4. Trent Alexander-Arnold (34 Caps)
Trent Alexander-Arnold kembali menjadi korban dilema klasik Timnas Inggris. Kemampuan menyerangnya luar biasa, tetapi kelemahan defensifnya kembali menjadi alasan utama pencoretan.
Pemain Liverpool itu telah mencatatkan 34 caps sejak debut internasionalnya. Namun posisinya selalu menjadi perdebatan karena belum pernah benar-benar menemukan peran ideal di level tim nasional.
Musim 2025/26 bersama Liverpool sebenarnya cukup produktif. Trent memainkan 39 pertandingan dengan torehan tiga gol dan 11 assist dari berbagai kompetisi.
Distribusi bola dan visi umpannya tetap menjadi salah satu yang terbaik di Eropa. Namun beberapa laga besar memperlihatkan celah defensif yang membuat staf pelatih Inggris ragu.
Thomas Tuchel membutuhkan full-back yang disiplin menjaga struktur pertahanan. Dalam skema tiga bek maupun empat bek fleksibel miliknya, aspek bertahan tetap menjadi prioritas utama.
Reece James dan Djed Spence dinilai lebih komplet secara dua arah. Keduanya menawarkan keseimbangan menyerang sekaligus duel bertahan yang lebih stabil dibanding Trent.
Bagi Alexander-Arnold, ini menjadi kemunduran yang cukup menyakitkan. Namun dengan kualitas teknisnya, peluang kembali tetap sangat terbuka jika ia berhasil meningkatkan konsistensi bertahan.
5. Cole Palmer (14 Caps)
Cole Palmer menjadi nama termuda sekaligus paling mengejutkan dalam daftar pemain yang tersisih. Setelah tampil luar biasa bersama Chelsea pada musim sebelumnya, ekspektasi besar justru berujung kekecewaan.
Palmer baru mengoleksi 14 caps, tetapi sempat digadang menjadi wajah baru sepak bola Inggris. Banyak pengamat memperkirakan ia akan menjadi starter di Piala Dunia 2026.
Musim 2025/26 berjalan kurang stabil untuk pemain berusia 24 tahun itu. Ia tampil 33 kali dengan catatan sembilan gol dan enam assist bersama Chelsea.
Meski angkanya masih cukup baik, performanya dinilai menurun dalam laga-laga krusial. Ia juga beberapa kali terlihat kesulitan beradaptasi dengan perubahan sistem di bawah Xabi Alonso.
Thomas Tuchel mengutamakan konsistensi tekanan tanpa bola dan disiplin taktik tinggi. Dalam aspek itu, Palmer dinilai kalah siap dibanding Bukayo Saka, Noni Madueke, hingga Marcus Rashford.
Keputusan mencoret Palmer memicu kritik besar dari publik Inggris. Banyak yang menilai kreativitasnya justru bisa menjadi pembeda ketika menghadapi lawan bertahan rapat.
Namun Tuchel tampaknya memilih keseimbangan kolektif dibanding bakat individual semata. Bagi Palmer, kegagalan ini bisa menjadi motivasi besar untuk kembali lebih kuat pada turnamen mendatang.
Lima nama besar ini membuktikan bahwa status bintang tidak memberi jaminan di bawah Thomas Tuchel. Piala Dunia 2026 menjadi awal era baru Inggris, dan hanya pemain paling siap yang mendapat tempat.