'Boneka' Donald Trump, Final Liga Champions dan Skandal Korupsi Rp35 Triliun
INDOSPORT.COM - Saat Budapest menjadi tuan rumah final Liga Champions akhir pekan ini antara Arsenal melawan Paris Saint-Germain, momen tersebut menjadi tonggak besar bagi sepak bola Hungaria. Namun bagi mantan Perdana Menteri Viktor Orban, ajang itu sejatinya dirancang sebagai mahkota dari proyek politik dan olahraga yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Sejak kembali berkuasa pada 2010 hingga akhirnya kalah dalam pemilu April lalu, rezim Orban menggelontorkan dana sekitar 2 miliar Euro atau lebih dari Rp35 triliun untuk membangun 25 stadion sepak bola di seluruh Hungaria. Salah satu proyek terbesar adalah Puskas Arena senilai 500 juta euro yang kini menjadi venue final Liga Champions 2026.
Orban selama ini selalu memunculkan dua pandangan berbeda di Eropa dan dunia politik internasional. Sebagian pihak menyebutnya sebagai “boneka Donald Trump” di Eropa, sementara lainnya menilai Orban adalah pionir populisme modern sebelum era gerakan MAGA berkembang di Amerika Serikat.
Profesor Sosiologi Olahraga dari University of Worcester, Gyozo Molnar, menyebut Orban memang sudah lama mengincar Budapest sebagai tuan rumah final Liga Champions. Menurutnya, ajang tersebut diproyeksikan menjadi simbol utama proyek besar Orban dalam menjadikan olahraga sebagai alat pembangunan identitas nasional dan penguatan kekuasaan politik.
“Orban sudah bekerja selama bertahun-tahun untuk membawa final Liga Champions ke Budapest,” ujar Molnar kepada The i Paper. “Ini seharusnya menjadi pusat dari seluruh proyek pembangunan bangsa melalui olahraga yang ia bangun selama memimpin Hungaria.”
Di balik kemegahan stadion-stadion baru itu, muncul kritik keras dari masyarakat Hungaria yang menilai kebijakan tersebut sangat berlebihan. Banyak warga negara itu masih harus bekerja di Austria dan Jerman demi mendapatkan penghasilan layak karena standar gaji di dalam negeri masih rendah.
Molnar menyebut kemarahan publik muncul karena pemerintah dianggap terlalu mudah menghamburkan uang untuk proyek olahraga mewah. Di saat yang sama, sektor penting seperti kesehatan dan infrastruktur jalan justru mengalami penurunan kualitas dalam beberapa tahun terakhir.
Selama lebih dari satu dekade terakhir, sepak bola Hungaria juga disebut sarat praktik yang dianggap sebagai “korupsi legal”. Pemerintah memperkenalkan program TAO yang memungkinkan perusahaan memberikan donasi bebas pajak kepada klub olahraga, bahkan dalam beberapa kasus mencapai pengurangan pajak seratus persen.
Kebijakan itu membuat banyak pengusaha kaya lebih memilih menyalurkan dana ke klub sepak bola dibandingkan masuk ke kas negara. Akibatnya, uang yang seharusnya dapat digunakan memperbaiki layanan publik justru mengalir ke klub-klub yang memiliki hubungan dekat dengan partai Fidesz milik Orban.
Salah satu klub penerima manfaat besar adalah MTK Budapest yang dipimpin anggota partai Fidesz, Tamas Deutsch. Dalam masa kampanye pemilu lalu, stadion milik klub tersebut bahkan digunakan untuk menggelar acara politik yang menghadirkan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance.
Di desa kelahiran Orban, Felcsut, pembangunan stadion juga menjadi simbol kontroversi kekuasaan sang mantan perdana menteri. Desa kecil berpenduduk sekitar 2.000 orang itu memiliki Pancho Arena berkapasitas 4.000 penonton dengan biaya pembangunan mencapai 12 juta euro.
Bentuk stadion tersebut sangat unik karena menyerupai perpaduan antara gereja dan kastel abad pertengahan dengan ornamen kayu menjulang di bagian atap. Banyak pihak menilai proyek itu menjadi gambaran nyata bagaimana sepak bola dipakai sebagai alat pencitraan sekaligus simbol kebanggaan nasional.
Obsesi Orban terhadap sepak bola sebenarnya lahir dari dua alasan berbeda yang saling berkaitan. Di satu sisi ia memang penggemar berat sepak bola dan rutin bermain futsal, namun di sisi lain olahraga itu dipakai sebagai simbol kebangkitan nasional Hungaria.
Hungaria pernah mencapai final Piala Dunia 1938 dan kembali menembus partai puncak pada 1954 lewat generasi legendaris “Golden Team”. Era kejayaan itu kemudian menjadi narasi nostalgia yang terus digunakan Orban dalam pidato-pidato politiknya selama bertahun-tahun.
Namun kesuksesan Hungaria di masa lalu ternyata tidak sepenuhnya murni karena ada dukungan sistem negara pada masa itu. Banyak pemain yang secara resmi bekerja di militer, kepolisian, atau pemadam kebakaran, tetapi sebenarnya mereka hanya fokus berlatih sepak bola penuh waktu.
Sebagai pemuda anti-komunis, Orban pernah menyalahkan rezim Soviet atas runtuhnya kejayaan sepak bola Hungaria. Ia terkenal lewat pidato-pidato keras yang meminta Tentara Merah Soviet meninggalkan Hungaria dan kemudian mengalihkan kritiknya kepada Uni Eropa.
Sikap keras terhadap Uni Eropa membuat Orban mendapat julukan “musuh besar Brussels”. Hubungannya yang sangat dekat dengan Rusia juga memicu kontroversi besar, terutama ketika UEFA memilih Budapest sebagai tuan rumah final Liga Champions.
Pada saat UEFA mengeluarkan Rusia dari seluruh kompetisi sepak bola Eropa dan memutus kerja sama dengan sponsor Gazprom pada 2022, pemerintahan Orban justru dianggap menjadi jalur komunikasi tidak resmi Kremlin di kawasan Eropa. Situasi itu membuat keputusan UEFA menuai banyak pertanyaan dari publik internasional.
Kebocoran percakapan antara mantan Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menambah panas situasi politik kala itu. Pemerintah Hungaria bahkan dituduh memberikan informasi penting Uni Eropa kepada Rusia di tengah konflik geopolitik yang sedang memanas.
Pada saat bersamaan, Uni Eropa menjatuhkan denda satu juta euro per hari kepada Hungaria karena dianggap melanggar aturan kawasan tersebut. Namun Orban tetap memanfaatkan final Liga Champions sebagai bukti bahwa negaranya masih dipercaya menjadi pusat acara olahraga terbesar dunia.
“Dia menyalahkan birokrat Brussels atas berbagai masalah di Hungaria,” kata Molnar. “Orban ingin memakai final Liga Champions untuk menunjukkan bahwa UEFA masih percaya kepada Hungaria sebagai tuan rumah pertandingan terbesar sepak bola Eropa.”
Sorotan terhadap pendanaan stadion-stadion di Hungaria juga jarang muncul di media lokal karena kebebasan pers di negara itu dinilai mengalami kemunduran. Menurut Reporters Without Borders, Hungaria hanya menempati posisi ke-74 dunia dalam indeks kebebasan pers.
Dalam indeks persepsi korupsi Transparency International, Hungaria juga menjadi negara Uni Eropa dengan catatan korupsi terburuk. Kondisi tersebut semakin memperkuat tudingan bahwa proyek sepak bola Orban tidak lepas dari kepentingan politik dan jaringan elite pemerintah.
Ketika pemilu musim semi akhirnya digelar, Orban mendapat dukungan unik dari dua kekuatan besar dunia sekaligus, yakni Moskow dan Washington. Kedekatannya dengan Donald Trump bahkan membuat Hungaria lolos dari sejumlah sanksi Amerika Serikat meski tetap membeli minyak dan gas Rusia.
Namun hubungan dekat dengan Trump justru menjadi salah satu faktor yang mempercepat kejatuhannya dari kursi kekuasaan. Penerusnya, Peter Magyar, sukses memenangkan dukungan publik lewat kampanye antikorupsi dan kritik terhadap hubungan politik Orban dengan Amerika Serikat serta Rusia.
Magyar kini menghadapi tekanan besar untuk meninjau ulang aliran dana perusahaan yang selama ini masuk ke sepak bola Hungaria melalui skema pajak khusus. Meski stadion-stadion mewah peninggalan Orban tidak mungkin dibongkar, arah kebijakan olahraga negara itu diperkirakan akan berubah drastis.
Budapest sebelumnya pernah menjadi tuan rumah final Liga Europa 2023 antara Sevilla melawan AS Roma. Namun final Liga Champions tahun ini memiliki skala yang jauh lebih besar dan dianggap sebagai simbol terakhir warisan politik Viktor Orban.
Ironisnya, momen yang sejak lama dirancang untuk memperkuat citra kekuasaan Orban justru berlangsung ketika dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri. Final Liga Champions kini tetap hadir di Budapest, tetapi sang arsitek proyek besar itu hanya bisa menyaksikannya dari luar lingkaran kekuasaan.