Senjata Rahasia PSG untuk Final Liga Champions, dan Bagaimana Cara Arsenal Melawannya?
INDOSPORT.COM - Paris Saint-Germain diyakini menyimpan taktik khusus saat menghadapi Arsenal pada partai final Liga Champions di Budapest akhir pekan ini. Duel dua kekuatan terbaik Eropa tersebut diprediksi menghadirkan pertarungan strategi yang sangat menentukan sepanjang pertandingan berlangsung.
Arsenal datang ke final dengan status juara Premier League setelah menutup musim luar biasa bersama Mikel Arteta. Solidnya pertahanan serta efektivitas situasi bola mati menjadi fondasi utama yang membawa The Gunners kembali ke final Liga Champions setelah penantian panjang dua dekade.
Di sisi lain, PSG tetap dianggap sebagai tim paling atraktif di Eropa berkat permainan agresif dan cepat racikan Luis Enrique. Klub asal Paris itu kembali menunjukkan kualitasnya saat menyingkirkan Bayern Munchen melalui semifinal dramatis yang penuh intensitas dan gol.
Pada laga semifinal tersebut, Ousmane Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, dan Desire Doue menjadi motor serangan yang membuat Bayern kesulitan menghentikan tekanan PSG. Namun, keberhasilan lolos ke final juga tidak lepas dari kokohnya duet lini belakang Willian Pacho dan Marquinhos.
Gol cepat Dembele di leg kedua semifinal di Allianz Arena menjadi penentu langkah PSG menuju Budapest musim ini. Akan tetapi, kemenangan itu bukan hanya hasil kualitas individu, melainkan buah dari disiplin taktik menyeluruh yang diterapkan Luis Enrique.
Selama menangani PSG, Luis Enrique dikenal sebagai pelatih yang terus mengembangkan pendekatan strateginya di setiap pertandingan besar. Salah satu pola unik yang mulai terlihat musim ini adalah kecenderungan PSG sengaja mengirim bola keluar lapangan sejak sepak mula pertandingan dimulai.
Strategi tersebut ternyata bukan kesalahan teknis ataupun bentuk kepanikan pemain PSG saat membangun serangan awal pertandingan. Luis Enrique justru menggunakan cara itu untuk mendorong seluruh tim maju menekan lawan sejak menit pertama pertandingan berlangsung.
Sepanjang musim ini, PSG tercatat sudah 28 kali sengaja mengirim bola keluar lapangan dalam pertandingan Ligue 1. Sementara di Liga Champions, pola serupa juga dilakukan sebanyak 15 kali untuk memancing duel lemparan ke dalam di area tertentu.
Saat menghadapi Bayern Munchen pada leg kedua semifinal, pendekatan tersebut kembali terlihat secara sangat jelas sepanjang pertandingan. Kiper PSG, Matvey Safonov, bahkan berkali-kali sengaja mengarahkan tendangan gawang langsung keluar lapangan tanpa berusaha membangun serangan pendek.
Dari total 11 tendangan gawang yang dilakukan Safonov pada laga tersebut, tujuh di antaranya langsung keluar lapangan. Menariknya, tidak ada reaksi negatif dari Luis Enrique maupun rekan-rekan setimnya karena pola itu memang sudah dirancang sebelumnya.
Akurasi umpan Safonov pada pertandingan tersebut hanya mencapai angka 29 persen setelah menyelesaikan 10 dari 35 operan. Sebagai perbandingan, Manuel Neuer milik Bayern Munchen mencatat akurasi 74 persen dengan hanya gagal dalam 11 umpan sepanjang pertandingan.
Strategi membuang bola keluar lapangan ternyata membuat PSG lebih mudah melakukan tekanan tinggi kepada lawan setelah lemparan ke dalam terjadi. Situasi tersebut memungkinkan para pemain PSG langsung menutup ruang dan memaksa lawan kesulitan membangun serangan balik cepat.
Selain itu, pendekatan tersebut juga menghindarkan PSG dari risiko kalah duel udara ketika melakukan tendangan gawang panjang. Luis Enrique memastikan seluruh pemainnya berada pada posisi ideal untuk melakukan pressing dan mengendalikan ritme permainan.
Salah satu pemain yang paling terdampak dari taktik tersebut adalah winger Bayern Munchen, Michael Olise. Pemain asal Prancis itu tampil sangat berbahaya pada leg pertama semifinal, tetapi nyaris kehilangan pengaruhnya ketika bertemu PSG di leg kedua.
PSG dengan sengaja mengunci sisi kanan permainan Bayern sehingga Olise terus berada dalam tekanan sepanjang laga berlangsung. Ruang eksplosif yang biasa dimanfaatkan Olise untuk melakukan serangan balik cepat akhirnya benar-benar hilang sepanjang pertandingan.
Luis Enrique sendiri enggan menjelaskan secara detail pendekatan taktik yang dipakai PSG dalam laga besar tersebut. Pelatih asal Spanyol itu menegaskan dirinya tidak ingin memberikan informasi tambahan kepada lawan sebelum pertandingan final berlangsung.
“Yang penting suporter ingin PSG menang dan menikmati cara bermain tim ini,” ujar Luis Enrique usai laga semifinal melawan Bayern Munchen. Ia juga menegaskan detail strategi pertandingan merupakan bagian rahasia yang tidak akan dibagikan kepada publik maupun lawan.
Melihat pola yang digunakan PSG sebelumnya, Arsenal diperkirakan akan menghadapi tekanan serupa ketika final berlangsung di Budapest. Bukayo Saka kemungkinan menjadi pemain utama yang akan coba dimatikan ruang geraknya melalui pendekatan agresif PSG tersebut.
Saka memang kembali menunjukkan performa terbaik setelah sempat mengalami masalah cedera Achilles dalam beberapa pekan terakhir. Winger tim nasional Inggris itu langsung mencetak dua gol dan dua assist sejak kembali bermain bersama Arsenal musim ini.
Meski begitu, Arsenal dinilai memiliki kualitas teknis yang lebih baik untuk menghadapi tekanan tinggi PSG dibandingkan lawan-lawan sebelumnya. Kehadiran Myles Lewis-Skelly menjadi salah satu faktor penting yang bisa membantu The Gunners keluar dari jebakan pressing PSG.
Pemain muda Arsenal tersebut tampil impresif ketika dipercaya bermain di lini tengah dalam sejumlah laga penting musim ini. Lewis-Skelly menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menjaga bola serta melepaskan tekanan lawan melalui dribel dan distribusi umpan yang tenang.
Pada laga melawan Atletico Madrid di semifinal, Lewis-Skelly mencatat tingkat keberhasilan umpan mencapai 79 persen sepanjang pertandingan. Ia juga sukses menyelesaikan seluruh percobaan dribel sehingga membuat Arsenal tetap tenang saat ditekan lawan.
Selain Lewis-Skelly, Martin Zubimendi juga dianggap bisa menjadi senjata penting Arsenal dalam menghadapi pola pressing PSG. Gelandang asal Spanyol itu dikenal memiliki kemampuan membaca permainan serta distribusi bola yang sangat stabil di area tengah lapangan.
Zubimendi sempat mengalami penurunan kondisi fisik setelah menjalani musim yang sangat padat bersama Arsenal. Namun, mantan pemain Real Sociedad tersebut mengaku sudah kembali berada dalam kondisi terbaik menjelang final Liga Champions akhir pekan ini.
Di sisi lain, Arsenal juga diyakini bakal mencoba mengeksploitasi kelemahan PSG melalui situasi bola mati sepanjang pertandingan berlangsung. Kelemahan Matvey Safonov dalam mengantisipasi crossing dan sepak pojok menjadi perhatian besar jelang partai final.
Sepanjang musim ini, Arsenal memang menjadi salah satu tim paling mematikan dalam situasi bola mati di Eropa. Mereka berhasil mencetak 25 gol dari skema set piece, termasuk 19 gol yang berasal langsung dari tendangan sudut.
Mantan kiper Arsenal, Graham Stack, menilai Safonov merupakan titik lemah paling jelas dalam skuad PSG saat ini. Ia percaya Arsenal harus terus memberikan tekanan fisik kepada penjaga gawang asal Rusia tersebut sepanjang pertandingan berlangsung.
Menurut Stack, Safonov beberapa kali menunjukkan keraguan ketika menghadapi bola-bola silang ke area penalti PSG. Situasi itu terlihat jelas ketika PSG menghadapi Bayern Munchen dalam dua leg semifinal Liga Champions musim ini.
“Saya melihat ada beberapa momen ketika dia tampak sangat rentan menghadapi bola crossing,” ujar Graham Stack kepada Metro. Mantan penjaga gawang Arsenal tersebut percaya tekanan bola mati bisa menjadi senjata utama The Gunners di final nanti.
Stack juga menilai postur tubuh Safonov tidak memberikan kehadiran dominan layaknya kiper elite Eropa lainnya. Ia menyebut kiper PSG tersebut terlihat terlalu kurus dan kurang memiliki aura kuat untuk menguasai area kotak penalti.
Karena alasan itulah, Arsenal diyakini akan terus mengirim bola ke dalam kotak penalti PSG sepanjang pertandingan berlangsung. Strategi tersebut dianggap menjadi peluang terbesar Arsenal untuk memanfaatkan kelemahan yang dimiliki juara bertahan Liga Champions itu.
Final Liga Champions musim ini akhirnya bukan hanya soal kualitas individu atau ketajaman lini serang kedua tim. Pertandingan di Budapest diprediksi akan sangat ditentukan oleh detail kecil, keberanian taktik, dan siapa yang mampu menjaga konsentrasi selama 90 menit penuh.