Mampukah Djed Spence Menggantikan Denzel Dumfries di Inter Milan?
INDOSPORT.COM - Inter Milan bergerak cepat mencari pengganti Denzel Dumfries setelah bek kanan Belanda itu pindah ke Real Madrid pada Juli 2026. Pilihan Nerazzurri kemudian mengarah kepada Djed Spence, pemain Tottenham yang dinilai sesuai dengan kebutuhan wing-back Cristian Chivu.
Situasinya kini sudah sangat konkret karena Djed Spence telah tiba di Italia untuk menjalani tes medis menjelang kepindahan permanen. Sejumlah laporan menyebut Inter Milan dan Tottenham telah mencapai kesepakatan dengan nilai paket transfer sekitar 30 hingga 35 juta euro.
Transfer tersebut menarik karena Djed Spence tidak datang sebagai replika langsung Dumfries, melainkan sebagai pemain dengan karakter berbeda. Inter Milan mendapatkan bek yang lebih mengandalkan akselerasi, dribel, dan progresi bola dibanding kekuatan duel udara serta penyelesaian akhir.
Pertanyaan terbesarnya adalah apakah perbedaan karakter itu justru dapat memperkaya permainan Inter Milan atau malah mengurangi ancaman dari sisi kanan. Jawabannya sangat bergantung pada kemampuan Chivu membagi ulang fungsi menyerang yang sebelumnya begitu melekat pada Dumfries.
Profil Djed Spence Sebelum Menuju Inter Milan
Djed Spence lahir di London pada 9 Agustus 2000 dan berkembang melalui akademi Fulham sebelum dilepas ketika masih remaja. Kariernya kemudian dibangun kembali bersama Middlesbrough, tempat ia memperoleh kesempatan senior dan mulai dikenal sebagai bek sayap dengan kemampuan atletik menonjol.
Nama Djed Spence benar-benar melejit ketika dipinjamkan Middlesbrough ke Nottingham Forest pada musim 2021/22. Ia membuat 46 penampilan, mencetak tiga gol, membantu Forest promosi ke Premier League, serta masuk tim terbaik Championship berkat performa eksplosifnya.
Performa tersebut membawa Djed Spence menuju Tottenham pada musim panas 2022, tetapi perjalanan di London utara tidak langsung berjalan mulus. Ia kesulitan mendapatkan tempat reguler sehingga sempat menjalani periode pinjaman bersama Rennes, Leeds United, dan Genoa.
Pengalaman di Genoa menjadi detail penting ketika membahas kemungkinan adaptasinya bersama Inter Milan karena Djed Spence sudah pernah menghadapi karakter Serie A. Ia mencatat 16 penampilan liga pada 2023/24 dan mengenal tuntutan taktik Italia sebelum kembali ke Tottenham.
Karier Djed Spence kemudian kembali menanjak bersama Tottenham, terutama ketika diberikan kesempatan bermain lebih konsisten. Pada musim 2025/26, data FBref mencatat ia tampil sekitar 30 pertandingan Premier League dan mengumpulkan lebih dari dua ribu menit bermain.
Meski tidak mencetak gol atau assist di Premier League musim tersebut, Djed Spence menawarkan nilai melalui progresi dan kemampuan membawa bola. Kualitas itu membuatnya berbeda dari Dumfries, yang selama lima musim bersama Inter Milan menjadi ancaman langsung di kotak penalti.
Djed Spence Harus Menggantikan Warisan Besar Dumfries di Inter Milan
Dumfries meninggalkan standar yang sangat tinggi karena mencatat 207 pertandingan, 27 gol, dan 28 assist selama memperkuat Inter Milan. Angka tersebut menjelaskan mengapa penggantinya tidak cukup sekadar mampu bertahan, tetapi juga harus memberi kontribusi nyata saat menyerang.
Dumfries kerap berubah menjadi penyerang tambahan ketika Inter Milan menguasai bola di area lawan. Ia berani masuk kotak penalti, menyerang tiang jauh, menyambut umpan silang, dan memanfaatkan kekuatan tubuhnya untuk memenangkan duel udara menghadapi bek lawan.
Djed Spence mempunyai cara berbeda untuk menciptakan ancaman karena lebih nyaman membawa bola melewati pemain pertama. Kecepatan dan kelincahannya membuat Inter Milan berpotensi mendapatkan jalur progresi baru, terutama ketika pertandingan terbuka dan ruang transisi tersedia.
UEFA pernah menyoroti kemampuan Djed Spence melakukan overlap serta membaca ruang ketika Tottenham menghadapi AZ Alkmaar pada Liga Europa 2024/25. Ia mampu memilih waktu berlari di luar winger untuk menciptakan situasi dua lawan satu dan membuka jalur umpan silang.
Analisis UEFA juga menunjukkan Djed Spence dapat bergerak ke area dalam sebagai inverted full-back ketika tim menguasai bola. Fleksibilitas tersebut menarik untuk Inter Milan karena Chivu membutuhkan wing-back yang mampu bergerak dinamis, bukan hanya menjaga lebar lapangan.
Djed Spence Cocok dengan Sistem Cristian Chivu di Inter Milan
Inter Milan di bawah Chivu tetap menggunakan struktur dasar 3-5-2, tetapi permainan mereka menjadi lebih vertikal dan agresif. Klub menggambarkan pendekatan tersebut melalui pressing berkelanjutan serta garis pertahanan tinggi, dua elemen yang cocok dengan atletisme Djed Spence.
Dalam sistem seperti itu, Djed Spence dapat ditempatkan sebagai wing-back kanan dengan tiga bek berada di belakangnya. Struktur tersebut memberi perlindungan lebih besar sehingga Inter Milan bisa memaksimalkan keberaniannya membawa bola tanpa membebani tanggung jawab defensif secara berlebihan.
Kecepatan recovery juga menjadi modal Djed Spence ketika Inter Milan kehilangan bola setelah menyerang. Ia mampu mengejar pemain lawan dalam ruang terbuka, sebuah kualitas penting karena garis pertahanan Chivu sering berdiri cukup tinggi dan rentan terhadap transisi cepat.
Kelebihan lain adalah fleksibilitas bermain di kedua sisi, sesuatu yang sudah beberapa kali diperlihatkan Djed Spence bersama Tottenham. Inter Milan dapat menggunakannya di kanan sebagai pilihan utama, tetapi ia juga bisa membantu sisi kiri ketika rotasi atau cedera diperlukan.
Fleksibilitas itu memberi Chivu lebih banyak opsi tanpa harus mengubah struktur dasar permainan Inter Milan. Ketika Federico Dimarco membutuhkan istirahat, Djed Spence bisa bergeser ke kiri, sedangkan pemain lain mengambil posisi kanan sesuai kebutuhan pertandingan.
Produktivitas Jadi Kekurangan Djed Spence
Namun, ada satu perbedaan besar yang tidak boleh diabaikan ketika membandingkan Djed Spence dengan Dumfries, yakni produktivitas. Dumfries mampu menghasilkan gol secara konsisten, sedangkan Spence belum menunjukkan naluri penyelesaian akhir yang sebanding sepanjang karier seniornya.
Data musim 2025/26 memperlihatkan Djed Spence tidak menghasilkan gol maupun assist dalam lebih dari dua ribu menit Premier League. Statistik tersebut bukan berarti kontribusinya buruk, tetapi menunjukkan Inter Milan harus mencari sumber gol lain untuk menggantikan produksi Dumfries.
Masalah itu terutama terasa ketika serangan berkembang dari sisi kiri melalui Dimarco, karena Dumfries sering menyerang tiang jauh seperti penyerang kedua. Djed Spence belum memiliki kebiasaan dan timing sebaik itu, sehingga pola serangan Inter Milan kemungkinan perlu disesuaikan.
Chivu dapat mengatasinya dengan meminta Barella atau gelandang kanan lebih sering masuk kotak penalti ketika Djed Spence mempertahankan posisi lebar. Inter Milan juga bisa menggunakan striker kedua untuk menyerang area tiang jauh sehingga beban mencetak gol tidak dibebankan kepadanya.
Dengan perubahan tersebut, Djed Spence justru dapat menghadirkan variasi yang sebelumnya tidak terlalu dominan di sisi kanan Inter Milan. Ia bisa menerima bola lebih rendah, mempercepat permainan melalui dribel, lalu menarik pemain lawan sebelum melepaskan umpan kepada rekan.
Djed Spence Juga Harus Berkembang Secara Defensif
Dari sisi bertahan, Djed Spence cukup kuat dalam duel satu lawan satu karena memiliki kaki cepat dan kemampuan recovery. Namun, bermain untuk Inter Milan menuntut disiplin posisi tinggi, terutama ketika wing-back harus segera turun membentuk garis lima pemain.
Ia harus memahami kapan menekan, kapan bertahan lebih dalam, dan kapan bergerak menyempit untuk membantu bek tengah kanan. Detail semacam itu menjadi penting karena Inter Milan menggunakan garis tinggi, sehingga kesalahan beberapa meter dapat membuka ruang berbahaya.
Pengalaman Djed Spence di Premier League, Serie A, Liga Europa, Liga Champions, dan tim nasional Inggris memberikan dasar yang cukup kuat. Ia juga tampil pada Piala Dunia 2026, sehingga Inter Milan merekrut pemain yang sudah mengenal tekanan pertandingan berlevel tinggi.
Usia Djed Spence Jadi Keuntungan Inter Milan
Usia juga membuat transfer ini logis karena Djed Spence baru berusia 26 tahun pada musim 2026/27. Inter Milan mendapatkan pemain yang secara teori memasuki periode terbaik karier, berbeda dengan Dumfries yang pergi ketika sudah berusia 30 tahun.
Dari perspektif investasi, biaya sekitar 30 hingga 35 juta euro memang bukan angka kecil untuk seorang wing-back. Namun, Inter Milan memperoleh pemain dengan pengalaman Premier League, fleksibilitas dua sisi, dan potensi nilai jual yang masih cukup terjaga.
Risikonya tetap ada karena Djed Spence belum pernah memikul tanggung jawab ofensif sebesar yang akan ditemuinya di San Siro. Inter Milan juga harus memastikan peningkatan kualitas crossing, pengambilan keputusan, dan pergerakan tanpa bola agar transfer tersebut benar-benar maksimal.
Mampukah Djed Spence Menggantikan Dumfries di Inter Milan?
Secara keseluruhan, Djed Spence layak dinilai sekitar 75 sampai 80 persen cocok untuk menggantikan Dumfries. Ia sangat sesuai untuk kebutuhan kecepatan, progresi, pressing, dan fleksibilitas Inter Milan, tetapi masih tertinggal dalam penyelesaian serta ancaman udara.
Karena itu, Djed Spence sebaiknya tidak dipaksa menjadi Dumfries versi baru sejak pertandingan pertama. Inter Milan akan mendapatkan hasil lebih baik jika Chivu membangun peran berdasarkan kekuatan pemain Inggris tersebut, lalu mengganti kontribusi gol Dumfries secara kolektif.
Jika adaptasi taktik berjalan lancar, Djed Spence mempunyai semua modal untuk menjadi wing-back kanan utama Inter Milan selama beberapa musim. Kecepatan, usia, pengalaman Italia, serta kemampuan membawa bola membuat transfer ini lebih menyerupai evolusi posisi daripada sekadar pergantian pemain.
Kesimpulannya, Djed Spence mampu mengisi kekosongan Dumfries, tetapi bukan sebagai salinan pemain Belanda tersebut. Inter Milan berpotensi mendapatkan wing-back lebih progresif dan dinamis, sementara produktivitas Dumfries harus digantikan melalui penyesuaian kolektif dalam sistem Chivu.