9 Fakta Tersembunyi Tentang Muhammad Ali
Juru Bicara keluarga petinju asal Amerika Serikat (AS) itu memastikan berpulangnya sang legenda dunia kepada media.
"Setelah 12 tahun berjuang mengatasi sindroma parkinson, Muhammad Ali, meninggal dunia pada usia 74 tahun," kata juru bicara keluarga Bob Gunnell, kepada NBC Sports.
Sebagaimana diketahui, pada 25 Februari 1964, Cassius Clay mengejutkan para pecinta dunia. Dia secara mengejutkan mampu mengalahkan juara kelas berat Sonny Liston di Miami Beach, Florida.
Sejak saat itu, petinju yang kemudian berganti nama menjadi Muhammad Ali tersebut mulai dikenal oleh para pecinta dunia adu jotos tersebut.
Berikut ini, 9 fakta mengenai salah satu petinju terbaik di dunia tersebut.
1. Dilatih Petugas Polisi
Ketika masih berusia 12 tahun, sepeda kesayangan Ali dicuri pada Oktober 1954.
Kemudian, dia memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Kepolisian wilayah Louisville, Kentucky. Joe Martin merupakan petugas yang menangani kasus itu.
Martin, yang juga seorang pelatih tinju, rupanya menyadari Ali memiliki bakat dalam bertinju.
Dia pun memutuskan untuk melatihnya. Enam pekan kemudian, dia berhasil memenangkan pertandingan pertamanya melalui split decision.
2. Memeluk Agama Islam
Pagi hari setelah mengalahkan Liston, juara baru kelas berat tersebut mengonfirmasi bahwa dirinya telah resmi memeluk agama islam.
Dia pun mengganti namanya menjadi Muhammad Ali Sebelum mulai dikenal sebagai Muhammad Ali, ia mengganti namanya menjadi Cassius X.
Pagi hari setelah mengalahkan Liston, juara kelas berat baru mengkonfirmasi laporan bahwa ia telah masuk Islam. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya telah meninggalkan nama keluarga, yang ia sebut sebagai "nama budak,".
Pemimpin Islam setempat, Elijah Muhammad memberinya nama suci. Nama itu Muhammad Ali yang dianugerahkan pada tanggal 6 Maret 1964.
3. Terkena Hukuman Larangan Bertinju
Ketika perang di Vietnam terjadi pada 1967, Ali menolak untuk masuk militer AS karena alasan agama. Juara kelas berat itu ditangkap dalam tuduhan rencana penggelapan. A
khirnya, lisensi tinju dicabut dan ia diminta menanggalkan gelarnya.
Ali dihukum maksimum lima tahun penjara dan didenda 10 ribu dolar AS.
Namun, pada tahun 1970 Mahkamah Agung di New York memerintahkan untuk mengembalikan lisensi tinju milik Ali. Akhirnya, ia kembali ke ring dengan mengalahkan Jerry Quarry pada Oktober 1970.
4. Sempat Beralih ke Dunia Musik
Selama 43 bulan pengasingan dari atas ring, petinju yang memiliki tinggi 191 sentimeter tersebut sempat beralih ke dunia musik. Ali sempat menyanyi beberapa kali di panggung music yang berada di New York tersebut.
Namun, panggung yang terkenal dengan nama ‘Buck White’ itu ditutup beberapa hari kemudian. Saat itu, petinju berjuluk The Greatest tersebut tampil sebanyak tujuh kali di acara tersebut.
<iframe src="https://streamable.com/e/b02h" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen webkitallowfullscreen mozallowfullscreen scrolling="no"></iframe>
5. Keturunan Irlandia
Secara mengejutkan, Ali ternyata memiliki keturunan Irlandia. Kakek buyut Ali, Abe Grady adalah orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Serikat dan menetap di Kentucky pada 1860-an.
Di sana, ia menikah dengan seorang budak yang dibebaskan, dan salah satu cucu mereka adalah ibu Ali, Odessa Lee Grady Clay.
Pada 2009, Ali pulang kampung dan mengunjungi kampung halaman leluhur besar-kakeknya dari Ennis, Irlandia. Di sana, dia bertemu sesama anggota klan O'Grady.
6. "Rumble in the Jungle"
Pada 1974, Ali yang saat itu berusia 32 tahun, mendapatkan kesempatan untuk menghadapi juara bertahan kelas dunia George Foreman.
Presiden Mobutu Sese Seko membayar kedua petinju sebesar 5 juta dollar untuk bertarung di Kinhasa, Republik Demokratik Kongo.
Agar warga AS bisa melihat pertarungan itu, kedua petinju harus bertarung pada pagi hari di negara yang terletak di Afrika tersebut.
Ali akhirnya berhasil memenangkan pertarungan yang mendapatkan julukan “Rumble in the Jungle”. Dia memenangkan pertandingan itu pada ronde kedelapan.
7. Buang Medali Emas Olimpiade ke Sungai
Setelah lulus sekolah, Ali yang masih berusia 18 tahun memperkuat tim Olimpiade AS. Saat itu, petinju asal AS tersebut berhasil merebut medali emas pada Olimpiade 1960
Dalam sebuah autobiografi yang ditulisnya pada 1975, Ali memutuskan untuk membuang medali emasnya ke bawah jembatan yang terleatak di Louisville. Hal itu dilakukan untuk memprotes rasisme yang sering terjadi.
Pada Olimpiade musim panas 1996, The Greatest mendapatkan medali emas pengganti dari para panitia turnamen tersebut.
8. Sarung Tinju Dibayar Mahal
Setelah 50 tahun memenangkan kejuaraan kelas berat untuk pertama kalinya, seorang penggila tinju membeli sarung tinju dengan dana yang sangat wah.
Pria yang tidak diketahui namanya tersebut membeli sarung tinju yang mengalahkan Liston tersebut dengan dana sebesar 836 ribu dolar AS.
Itu tentu sangat luar biasa. Sebab, dalam pertandingan itu, Ali hanya mampu membawa pulang hadiah sebesar 630 ribu dolar AS.
9. Gemar Merangkai Kata
Selain bertinju, Ali memiliki hobi lain. Ali yang saat itu masih berusia 21 tahun, sering merangkai kata-kata seperti mengejek lawan dan memuji dirinya sendiri.
Sehingga, sebuah rekaman ternama Columbia Records memutuskan untuk merilis sebuah album yang bertajuk “I Am The Greatest”.
Selain puisi, album tersebut juga terselip dua lagu yang dinyanyikan oleh sang petinju. Salah satunya adalah lagu “Stand bye Me” yang dipopulerkan oleh penyanyi Ben E King.