Dari Penalti hingga Pembagian Wilayah Benua, Ini Format Baru Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 sepertinya benar akan segera diresmikan dengan memainkan 48 peserta negara, Selasa (10/01/17). Hal ini didasari, karena adanya sejumlah aturan serta pembagian negara dari masing-masing wilayah benua yang diberikan oleh presiden FIFA, Gianni Infantino.
Selasa, 10 Januari 2017 18:18 WIB
Editor: Yohanes Ishak
© Getty Images
FIFA Presiden, Gianni Infantino Copyright: © Getty Images
FIFA Presiden, Gianni Infantino

Sejak tahun 1998 lalu, ajang bergengsi sepakbola Piala Dunia memang selalu dimainkan oleh 32 negara yang juga terbagi ke dalam 8 grup.

Belum lama ini, Presiden FIFA, Gianni Infantino telah membuat rencana baru jika pada ajang Piala Dunia tahun 2026 mendatang akan dimainkan oleh 48 negara yang nantinya dibagi dalam 16 grup.

Kabarnya, seluruh jajaran pengurus FIFA tidak ada yang keberatan dan menyetujui keputusan dari Gianni Infantino tersebut.

Nantinya dari 48 negara ini akan saling hantam dan akan berlanjut ke babak 32 besar dengan rincian tim yang lolos berasal dari tiga teratas dari masing-masing grup. Besar kemungkinan, posisi ketiga nanti akan dipilih dari hasil yang terbaik.


Gianni Infantino, presiden FIFA.

Sementara itu, muncul juga aturan baru, yaitu adanya drama adu penalti di babak grup yang berarti selama fase grup, tidak akan ada lagi hasil imbang.

Penambahan jumlah negara dari masing-masing benua juga tercipta, di mana benua Eropa masih mendominasi ajang empat tahunan tersebut.

Dari benua biru Eropa, jika sebelumnya mereka diwakili dengan 13 negara, nantinya mereka akan bertambah menjadi 16 negara.

Dari benua hitam Afrika, mereka yang sebelumnya berjumah 5 negara kini bertambah menjadi 9 negara, sementara dari benua kuning Asia, mereka bertambah dua kali lipat, yaitu dari 4 pewakilan negara menjadi 8 negara.

Sementara untuk benua merah, Amerika masih belum disebutkan. Besar kemungkinan, hal itu dikarenakan pada tahun tersebut, benua mereka nantinya akan terpilih sebagai tuan rumah. Dilansir DailyMail, sekitar tahun 2020, barulah akan ditentukan.