Hindari Kasus Hapidin, Indonesia Bisa Belajar dari Qatar

Minggu, 5 Maret 2017 | 15:50 WIB
  • Hapidin tengah berjuang untuk memulihkan cedera setelah kehilangan karier sepakbolanya.
  • Orang tua pemain muda Indonesia di Qatar memberikan saran untuk pengembangan pemain di Indonesia.
INDOSPORT/Istimewa
Hapidin dan peluang untuk memperbaiki tata kelola sepakbola nasional. Copyright: INDOSPORT/Istimewa
Hapidin dan peluang untuk memperbaiki tata kelola sepakbola nasional.

Nasib Hapidin bisa menjadi pembelajaran bagi insan sepakbola nasional untuk terus berbenah. Usai kariernya mandeg karena cedera yang menimpanya, mantan top skor Divisi 1 Indonesia ini sempat kekurangan biaya untuk memulihkan cederanya.

Bahkan pemain berusia 26 tahun ini sempat nekat ingin menjual trofinya demi mendapatkan dana untuk membiayai cedera. Hapidin juga ingin mengembalikkan trofi top skornya kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan PSSI, yang dianggap tak memberikan perhatian kepadanya.

Hapidin sempat menjual rumah hasil tabungannya demi memulihkan cedera yang dialaminya. Namun, setelah tabungannya terkuras, Hapidin tentu tak bisa berbuat banyak lagi untuk tetap bermimpi kembali ke lapangan hijau.

Pilihan yang dinilai ekstrim pun dipilihnya untuk menggugat perhatian para pemuka sepakbola lewat trofi miliknya. Sebagai sebuah simbol, Hapidin berharap trofi tersebut bukan sekedar hadiah kosong.

Hapidin hanya berharap ada sedikit perhatian bagi para pemain yang mengalami masalah sepertinya. Namun, hal tersebut justru menimbulkan pro dan kontra di publik sepakbola nasional.

Belum lagi umpatan dari mantan klubnya, Persibat Batang yang menyayangkan sikap Hapidin untuk berjuang memulihkan cederanya. Persibat mengaku telah memberikan penanganan maksimal terhadap cedera mantan pemain andalannya tersebut.

Pernyataan sikap Persibat Batang soal cedera yang dialami Hapidin.

Meski menderita cedera saat bermain di turnamen antar kampung (tarkam), Persibat mengaku tetap merawat cedera Hapidin dengan maksimal. Polemik pun terus bergulir karena PSSI sebagai induk sepakbola nasional sempat menjaga sikap terkait cedera Hapidin.

PSSI sepertinya masih ingin memantau apa yang terjadi dengan Hapidin, sehingga tidak mau terburu-buru bersikap dalam polemik ini. Padahal sebagai 'ibu' dari sepakbola nasional, PSSI layaknya bisa menjadi wasit untuk menangani cedera Hapidin.

Namun akhirnya, PSSI menuangkan solusi untuk Hapidin dalam tiga poin yang telah dirilis beberapa waktu lalu. PSSI dalam hal ini memfasilitasi pemeriksaan bagi Hadipin di Surabaya lewat dokter Dwikora (Dosen di Universitas Airlangga).

Lalu, jika yang bersangkutan membutuhkan prosedur operasi, dokter Dwikora akan memfasilitasinya. Dengan penjelasan resmi dari Persibat Batang dan langkah bantuan ini, PSSI berharap seluruh kesimpangsiuran terkait cedera Hapidin bisa diakhiri.

Kondisi cedera Hapidin usai menjalani operasi pertama selepas cedera.

Biar bagaimana pun, waktu untuk berpolemik akan menggerus usia produktif Hapidin sebagai seorang pesepakbola. Beranjak di usai ke-26, Hapidin didera cedera patah tulang kering dan engkel kaki kiri yang cukup parah.

Beruntung, Kemenpora sempat membawa angin segar dengan membawa Hapidin menuju Rumah Sakit Olahraga Nasional (RSON) Jakarta. Hapidin mendapatkan fasilitas magnetic resonance (mri) untuk melihat kondisi terakhir cederanya saat ini.

"Ya, saya sendiri ke Jakarta. Persiapannya mungkin belum ada. Hari ini cek semuanya dulu. Nanti kalau sudah tahu hasilnya baru ada kelanjutannya lagi," kata Hapidin kepada INDOSPORT.

Hapidin pun telah mendapat bantuan dari Asosiasi Peman Profesional Indonesia (APPI) saat polemiknya membuncah. APPI akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa setiap pemain profesional penting untuk memagari dirinya dengan asuransi.

"Pesan APPI buat pemain guna meminimalisir kasus seperti ini adalah milikilah asuransi. Tidak sembarangan memilih pertandingan yang tidak resmi dan riskan. Tapi, kami sangat mewajari hal tersebut ketika semua pemain dilema saat tidak ada liga seperti kemarin (2015)," ujar Valentino Simanjuntak selaku CEO APPI kepada INDOSPORT.

Hal ini untuk menjaga para pemain saat mengalami masa sulit seperti Hapidin saat ini. Sementara untuk tindakan jangka panjang dari APPI, Hapidin mengaku belum tahu lagi apa yang akan dilakukan oleh wadah pemain profesional di Indonesia tersebut.

Valentino Simanjuntak menyarankan Hapidin dan para pesepakbola Indonesia lain memiliki asuransi mandiri.

Kabar Hapidin juga ikut memanaskan telinga sejumlah insan sepakbola Indonesia di Qatar. Agus Sudarmanto, orang tua dari Andri Syahputra bahkan mengkhawatirkan nasib putranya bisa serupa dengan Hapidin.

Agus mengatakan bahwa sepakbola Indonesia hari ini belum serius memikirkan masa depan para pesepakbola. Inilah yang menjadi kegusarannya untuk memberi izin pada Andri ikut ambil bagian dalam seleksi Timnas U-19 Indonesia.

Andri Syahputra tengah mempertimbangkan tawaran untuk menjalani seleksi bersama Timnas U-19 Indonesia.

Pria yang bermukim di Qatar pun sedikit memberi saran bagi pengembangan sepakbola nasional ke depan hari. Agus mengatakan bahwa pembinaan juga wajib memperhatikan poin soal kesejahteraan pemain.

"Ya,agreed agar terbuka mata PSSI, jangan mau hasilnya saja, PSSI hanya berganti Ketuanya saja isinya tetap sama, pembinaan bola di indonesia kalau terus seperti ini I'm sure will not success,walau dilatih pelatih-pelatih kelas dunia, banyak SSB (sekolah sepakbola) standard-nya pas-pasan apa hasilnya, bukan hanya di lapangan yang diperhatikan, makanan, rest-nya, sarana, dan perasaranya harus lengkap, di Qatar pembinaan (sepak)bola cukup modern dan sangat lengkap," kata Agus kepada INDOSPORT.

ASPETAR yang menjadi lokasi rujukan pemulihan cedera sejumlah atlit dunia yang dimiliki Qatar.

Demikian pula dengan penanganan para pemain cedera di Qatar. Agus menilai setiap klub memiliki dokter dan staf kepelatihan yang profesional.

Mereka mendatangkan pelatih-pelatih berkelas yang tahu (sepak)bola, satu team ada banyak pelatih, goal keeper coach, physic coach, phisiotraphy, dokter bisa sampai lima atau enam orang, I just share apa yang saya tahu, kalau saya libur selalu ikut ke field untuk melihat anak saya berlatih," ujar Agus.

Hal ini pun diamini oleh Iwan Koeswanto selaku orang tua dari Abdurrahman Iwan. Iwan mengatakan bahwa sarana pemulihan cedera bagi pemain di Qatar cukup mumpuni.

Abdurrahman Iwan kini menikmati sejumlah fasilitas mumpuni saat bergabung dengan Aspire Academy di Qatar.

Bahkan setiap pemain dijamin negara soal kesejahteraan mereka saat mereka sudah pensiun. Pemerintah dan federasi sepakbola Qatar ikut memberikan tunjangan pensiung kepada para pemain.

"Ya seharusnya pemain yg berprestasi sepertt di Qatar sini apabila sudah pensiun mereka tetap ada apresiasinya dari government dan federasinya, tanggungan berupa tunjangan biaya hidup dan kesehatan," ujar Iwan kepada INDOSPORT.

Hapidin memang sempat mendapatkan fasilitas untuk menjalani terapi di sebuah lokasi fisioterapis ternama di Surabaya. Hapidin pun mendapatkan fasilitas yang sama dengan yang didapatkan Andik Vermansah saat menjalani pemulihan cedera.

Namun, hal tersebut merupakan bantuan lain dari rekan yang prihatin dengan kondisi Hapidin. Lalu sampai kapan, early warning system soal pesepakbola menunggu dan segera dibuat?

Jika tidak mau terlalu jauh soal pensiun para pemain berprestasi seperti di Qatar, maka keengganan untuk mengurus pemain cedera seperti Hapidin bisa menjadi tanda tanya besar soal keseriusan kita untuk membawa Indonesia bisa selevel dengan sepakbola dunia.

Setali tiga uang dengan evaluasi di level kepengurusan, para pemain juga dituntut untuk bisa menjaga nilai profesionalitas mereka. Bukan tidak mungkin, jika seluruh elemen bisa berjalan seiringan maka cita-cita akbar untuk menuju sepakbola modern bagi Indonesia bukan hanya sekedar isapan jempol belaka.

Editor : Rizky Pratama Putra